Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 42. Kepulangan Keluarga


__ADS_3

"Aku sudah siapkan air hangat."


"Terima kasih." Balin bangkit beranjak dari tempat tidur seraya mengusap pucuk kepala Gia. Usapan lembut itu tentu saja dalam hati Gia merasakan kebahagiaan.


***


Di kantor


Balin dengan sabar menunggu kembalinya Gia dari ruang rapat. Ia menunggu di ruangan Gia. Duduk di sofa sembari memeriksa email yang masuk dari asistennya.


KLEK


Pintu ruangan terbuka, membuat Balin mendongak langsung memandang ke arah pintu.


"Kamu sudah lama menunggu?" basa basi Gia seraya berjalan masuk. "Sebenarnya rapat telah usai 10 menit yang lalu tapi ada yang ingin diselesaikan hingga baru keluar dari ruang rapat," imbuhnya.


Gia meletakan semua berkas di atas meja kerjanya. Meraih air minum yang tersedia di atas meja, lalu meneguknya sampai tandas. Ia benar-benar kehausan.


Balin mengangguk


"Sepertinya Papi dan yang lainnya sudah tiba di rumah," ujar Balin dengan tangan terlipat ke dada.


"Sepertinya begitu. Apa ada yang masih belum beres?"

__ADS_1


Balin menggeleng seraya beranjak bangkit dari tempat duduknya, mendekati Gia yang tengah merapikan meja kerja.


"Baiklah kita segera pulang." Balin berkata seraya mengusap pundak Gia dengan lembut. Gia tersenyum bahagia.


Mereka keluar dari gedung kantor saling mengobrol hal ringan, sebatas pekerjaan. Sampai dalam mobil pun obrolan mereka tetap berlanjut.


"Rindu juga dengan Papi," papar Balin dengan tatapan serius ke depan.


Ya kedua mertua serta Adik iparnya sudah 1 Minggu pergi ke luar kota.


Gia hanya manggut-manggut. Jujur saja ia merasa tenang dengan ketidakhadiran Mami serta Adiknya itu. Dan sekarang mereka kembali tinggal satu rumah yang hanya ada perdebatan yang tak ada henti.


Balin melirik Gia sekilas. Ia menangkap siluet di raut wajah itu. "Sepertinya kamu tidak semangat? ada apa?" kata Balin.


"Tidak! Hanya saja aku jengah dengan Mami dan juga Rika. Mereka tidak ada hentinya memanasi hati ini. Padahal aku sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri, aku sudah berusaha menata hati untuk menerima keberadaan mereka tetapi sebaliknya mereka tidak menyukaiku," ungkap Gia yang bikin Balin kaget.


"Apa kamu sudah membicarakan ini kepada mereka?" tanya Balin sedikit penasaran.


Gia menggeleng pelan. "Tidak perlu diucapkan karena itu bukanlah tipe ku, arti kediamanku itu menandakan bahwa aku menghormatinya sebagai Ibu sambung. Dan untuk Rika, selama ini aku memberi yang terbaik tanpa mereka ketahui. Cuek, acuh dan lain sebagainya yang terdapat pada diriku ini, yang sering aku tampilkan tapi tidak pada kenyataannya. Apa yang Rika dan Mami dapatkan itu adalah hasil dari kerja kerasku yang tak pernah mereka tahu." Cerita Gia panjang lebar.


Balin tertegun, ia kaget dengan apa yang diceritakan Gia.


"Cukup kamu saja yang tahu," ucapnya seperti menegaskan.

__ADS_1


Balin mengangguk


"Kamu memang wanita luar biasa." Kagum Balin dengan bibir melengkung.


Gia tersenyum antara senang maupun sedih.


Tak terasa mobil yang mereka kendarai memasuki halaman rumah mewah tersebut. Keduanya saling turun bersamaan.


Masuk kedalam rumah saling melemparkan senyum. Senyuman kebahagiaan diantara keduanya tak luput dari tatapan sosok yang berada di balkon lantai atas.


"Papi," sapa Balin dan Gia secara bersamaan.


Papi beranjak dari tempat duduknya yang sedang kebetulan berada di ruang tamu karena kebetulan baru saja menerima tamu rekan kerjanya dulu.


"Sayang kalian sudah pulang? kalian baik-baik saja kan?"


Gia langsung memeluk pria yang sudah memberi kebahagiaan dan juga luka mendalam itu.


"Kami baik-baik saja Pi," balas Gia.


Papi tertegun sejenak mendapati perlakuan tak biasa Gia. Perlakuan yang ditunjukan kepada Balin. Sepertinya hubungan mereka ada titik terang, itulah arti dari senyuman tersebut.


Bersambung....

__ADS_1


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2