
Awww
Jeritan Balin membuat Gia terbahak-bahak. Rupanya Gia mencubit halus di pinggangnya hingga membuatnya mengaduh kesakitan.
"Kamu menggoda ku?" Balin melempar godaan. Seketika Gia mengatupkan mulutnya hingga tawa itu lenyap seketika.
Balin langsung mendekap tubuh itu, membawa kedalam pelukannya. Gia menurut bahkan wajahnya ia tenggelamkan di dada bidang tersebut.
Sungguh kebahagiaan diantara keduanya dirasakan beberapa terakhir ini. Keduanya berusaha memberi yang terbaik.
"Gia," panggil Balin dengan nada rendah hingga Gia mendongak, dan tatapan mereka saling bertemu, mengunci.
Hembusan nafas keduanya saling menerpa karena jarak wajah keduanya hampir tak ada jarak sama sekali.
Cup
Balin mencium bwbir menggoda itu. Awalnya hanya sekedar saling menempel. Entah apa yang membuat Gia menutup mata, itu menandakan ia memberi lampu hijau.
Ciuman lembut itu membuat keduanya terbuai, saling menikmati dengan mata terpejam.
Tok tok
Tiba-tiba pintu kamar di ketuk dari luar hingga ciuman panas itu terpaksa mereka akhiri.
Hmm
Balin berusaha mengatur nafas yang memburu, begitu juga dengan Gia. Wajah keduanya seperti kepiting rebus.
Tok tok
Sekali lagi bunyi itu membuat keduanya saling menatap, dengan perasaan kikuk.
"Siapa sih menganggu saja," gumam Balin seakan hal itu menganggu aktivitas mereka.
"Mungkin Bibi karena tadi aku suruh bawakan puding," sahut Gia masih dengan nafas memburu.
"Biar aku saja yang buka." Balin langsung beranjak dari tempat tidur, melangkah menuju pintu kamar.
KLEK
"Ada apa Bi?" benar saja itu adalah Bibi seperti yang dikatakan Gia.
"Ini pesanan Non Gia. Maaf agak telat karena baru Bibi buatin," ucap Bibi dengan perasaan tidak enak karena sudah menganggu.
__ADS_1
"Tidak masalah Bi, berikan padaku. Gia sedang di kamar mandi. Terima kasih Bi," ujar Balin sembari tersenyum.
Bibi mengangguk dan membalas senyuman itu. Lalu segera berlalu.
Balin menutup pintu kamar kembali, menatap makanan yang ada di tangannya. Sepertinya sangat segar sekali, hingga ia tidak sabar untuk menyantapnya.
Di letaknya iring itu di atas meja sofa. Di ambilnya satu potong. "Sangat enak," gumamnya. Itu adalah puding buah kesukaan Gia, kadang jika ia tidak sibuk dia sendirilah yang membuatnya.
KLEK
Pintu kamar mandi terbuka hingga membuat Balin mendongak dengan mulut penuh berisi puding. Gia langsung mendekat, duduk di sampingnya dengan pandangan tertuju pada puding yang sudah sebagian di makan oleh suaminya.
"Kamu suka?" tanya Gia seraya menoleh ke arah Balin.
Balin mengangguk. "Enak sekali," ujarnya.
"Itu puding kesukaanku. Karena tidak sempat aku suruh Bibi yang buat, kadang kalau ada waktu aku sendiri yang buat," papar Gia sembari mengambil potongan itu.
"Apa kamu mau buatin untukku setiap hari?" tanya Balin.
Dahi Gia mengerut karena itu permintaan pertama suaminya itu. "Baiklah jika kamu juga suka karena itu sangat bagus, itu pakai gula tropicana slim dan manis asli dari buah-buahan tersebut." Terang Gia.
Balin manggut-manggut.
Tak terasa satu loyang kecil puding itu tak tersisa, hingga membuat mereka saling bersendawa.
Hmm
"Apa tidak dilanjuti?" goda Balin dengan memincingkan mata.
"Maksudnya?" tanya Gia polos dengan dahi mengerut, tidak paham.
"Ya dilanjutin," ucap Balin masih memberi teka teki bagi Gia.
Gia berpikir sejenak, memahami apa yang dimaksudkan suaminya itu.
Tidak mendapat jawaban teka-teki itu membuatnya langsung beranjak, ingin segera rebahan di kasur empuk ukuran king size.
Balin juga tak tinggal diam, ia berjalan menyusul Gia dengan raut wajah memelas.
"Ada apa?" tanya Gia ketika tangannya ditarik, dan apa lagi wajah itu membuat Gia menjadi geli.
"Cium....."
__ADS_1
Hah....
Mendengar hal itu membuat Gia tersentak kaget, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya, menyembunyikan wajahnya dibalik selimut. Ia malu mendengar permintaan itu.
"Gia," lirih Balin seraya menarik-narik selimut itu.
"Apa? aku sudah mengantuk," gumamnya dibalik selimut, mempertahankan selimut tebal itu agar tak terlepas.
"Gia," panggilnya kembali dengan nada begitu manja.
"Tidak mau," sahut Gia dengan geli.
"Lepasin selimutnya, bagaimana aku bisa memelukmu jika tubuhnya bergulung selimut tebal ini," ujar Balin merengek seperti seorang anak minta jajan kepada Ibunya.
Gia tak menjawab, ia pura-pura sudah terlelap. Tapi sebenarnya menahan tawa atas ocehan berbagai macam yang Balin lontarkan.
"Kamu sudah tidur?" tanya Balin karena tak merasa ada pergerakan dari Gia.
"Iya," sahut Gia dengan tidak sadarnya. Seketika ia mengatup mulutnya rapat-rapat atas tindakan bodohhnya itu.
Balin tersenyum, ia baru tahu jika istrinya itu pura-pura tidur rupanya tidak. Ia merapat ke tubuh Gia, lalu sekuat tenaga menarik selimut itu hingga pertahanan Gia runtuh.
"Berhasil," ujar Balin menyeringai seraya melemparkan selimut itu di lantai. Gia mencebikkan bibir karena melihat ulah Balin.
"Tidur sudah malam," ucapnya membuang muka.
"Apa tak sebaiknya olah raga?" goda Balin, baginya menggoda Gia sangat menyenangkan.
"Olah raga itu pagi," sahut Gia mengikuti godaan itu.
"Jadi mau mu pagi saja? oke aku sabar menunggu. Oh malam cepatlah engkau berlalu karena aku tidak sabar menunggu pagi menjelang," ucap Balin dengan tangan bersujud seperti orang sedang berdoa.
"Balin....geli ah," protes Gia merasa geli.
Hahaha....
Tawa itu memenuhi isi kamar tersebut.
Bersambung....
__ADS_1
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi