
Sementara di lama ruangan Samuel sedang duduk memperhatikan Karenina yang sedang melakukan sesi terapinya, ia di tugaskan oleh Jaret menjadi pengawas.
Nina melirik ke arah Samuel, namun Samuel pura-pura sibuk dengan ponselnya, tanpa Nina ketahui ia sedang merekam apa yang Nina lakukan untuk di laporkan pada Jaret.
Aidan terlihat sungkan, ia sedang di lema. Di satu sisi ia ingin sembuh, tapi tidak ingin dekat dengan Nina, ia khawatir Sandra akan tersakiti nantinya, namun di sisi lain ia juga tak bisa Menentang kakek tua itu
Aidan sangat paham perangai kakeknya, keras kepala dan tidak suka di tentang.
Aidan berharap Samuel bisa membantunya, namun pria itu malah asik dengan ponselnya
"Sayang... UPS maaf Aidan, cobalah untuk relax.
Sejak sepuluh menit lalu kau terlihat terus saja menghela nafas. Terapi ini memerlukan konsentrasi dan ketenangan.
Jika kau tak suka aku ada disini, anggap saja yang menerapi mu bukan aku"ucap Nina dengan wajah sedih
"Maaf aku bukan bermaksud seperti itu, hanya saja aku memikirkan perasaan istriku"
"Beruntung sekali wanita itu di cintai dan di hargai seperti ini, andai saja waktu itu...." Nina menghapus air mata yang menetes di sudut matanya
"Nina, aku memang pernah mencintaimu, maafkan aku kini aku sudah mencintai wanita lain"
"Aku tahu"
"Aku berharap diantara kita tak ada hubungan apapun selain teman, kau pasti bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari aku.
Aku sangat mencintai istriku, terlebih kini Sandra sedang hamil anak kami" ucap Aidan membuat hati Nina terasa sakit, sangat sakit.
__ADS_1
Bagaimana tidak ia mendengar pernyataan cinta dari pria yang sangat ia cintai, tapi bukan untuknya, melainkan untuk wanita lain.
"Aku akan berusaha melupakan semua, tapi semua butuh proses Aidan.
Setiap tempat yang aku lalui memiliki memori tentang kita"
"Waktu akan membayar semuanya, buka lah pintu hatimu untuk yang lain"
"Entahlah" ucap Nina lirih, Aidan menghela nafas.
Nina pernah menjadi wanita yang paling ia cintai, namun kini ia sangat mencintai Sandra, hanya Sandra yang ada di hatinya
"Maaf aku bersikap tidak Profesional, kita mulai sesi kedua. Dalam hitungan detik kau akan sangat mengantuk, lebih dalam, lebih dalam lagi dan
klikkk
"tidur"
Aidan terlihat tertidur. Samuel tak menyangka wanita itu masih memiliki keahlian nya sebagai seorang psikiater.
Samuel, aku butuh segelas air hangat, jangan terlalu panas, juga tidak terlalu dingin, serta mawar putih"
"Hah, mawar putih???
Untuk apa??? Dan air itu??? Apa kau haus??? Baru juga sebentar melakukan terapi sudah haus"
"Sam.... please...
__ADS_1
aku butuh segera saat Aidan terbangun aku perlu memberinya air hangat untuk menetralkan tubuhnya"
"Huh, baiklah, baiklah" ucap Samuel lalu berjalan keluar. Kendrick bangkit dan mendekati Samuel yang keluar dengan Wajah cemberut
"Apa sudah selesai???"
"Dia minta air hangat dan mawar putih"
"Untuk????" tanya Kendrick bingung, Sam menaikan bahunya tanda tak tahu
"Mawar putih, ada di sebelah ruang kerjaku, mamaku yang menanamnya di sana, air hangat...
Suter.... toko g ambilkan air hangat"ucap Kendrick memberi perintah
"Sus tolong air nya hangat nya panasnya, enggak terlalu panas , enggak juga dingin" ucap Samuel membuat si suster mengerutkan keningnya
"Tolong lakukan apa yang dia perintahkan, lalu segera antar ke ruangan ini. Terima kasih" ucap Kendrick ramah. Sang Suster mengangguk sambil tersenyum, disuruh yang lainpun ia rela sebab Kendrick selain tampan juga pewaris keluarga White yang kaya raya.
"Apa yang wanita itu lakukan???"
"Sedang membuat Idan tidur, mungkin sekrang sedang memperkosanya karena kau menahan ku di sini terllau lama" goda Samuel membuat Kendrick melepaskan pegangan tangannya di lengan Samuel
"Cepat enyak, dasar asisten gila" maki Kendrick yang di balas tawa kecil Samuel.
 Sementara di dalam ruangan
"Karenina telihat sedang memutar sebuah musuh, terdengar aneh, sementara ia terlihat sedang membisikan sesuatu di telinga Aidan.
__ADS_1
musik terus mengalun, setiap kali Nina berbicara, Aidan dalam mode tidurnya mengangguk, lalu...