Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 63. Cobaan


__ADS_3

Didalam kamar mandi Gia menjerit. Memegang dadanya yang tiba-tiba nyeri sekali, sampai sulit untuk bernafas.


"Kenapa ini sakit sekali?" lirih Gia menjerit.


"Siapa yang didalam? cepat dong sudah tak tahan!" Teriak seseorang di luar pintu toilet kantor.


Gia menarik nafas dalam-dalam. "Iya tunggu sebentar," sahut Gia.


KLEK


Pintu pun terbuka


"Kamu kira ini toilet pribadi?" itulah cecaran yang Gia terima. Ya hampir keseluruhan rekan kerja wanita tidak menyukai dirinya karena mereka merasa kalah saingan. Dari keseluruhan Gia lah yang paling unggul. Sudah berparas cantik, dikaruniai kecerdasan lagi, itulah poin utama yang membuatnya unggul.


"Maaf," ucap Gia masih menahan sakit, ia pun berlalu dengan dada terasa sakit.


Ia pun masuk kedalam ruangannya dengan wajah pucat, keringat dingin sudah membasahi dahinya. Ia baru saja tiba kantor, makanya tadi terpaksa menumpang toilet yang ada di dekat lobi.


"Pagi Bu Gia," sapa Nia seperti biasanya. Ya jika di kantor mereka menggunakan bahasa formal. "Apa yang terjadi? wajah mu pucat begitu?" tanya Nia sembari mengusap dahi Gia yang penuh keringat.


"Sakit....." Jerit Gia hingga ia terkulai tak sadarkan diri di kursinya.


"Gia!" Teriak Nia tersentak kaget, spontan memapah Gia.


Nia pun meminta bantuan kepada rekan yang berada tidak jauh dari meja kerja mereka. Gia pun di bawa ke rumah sakit untuk diperiksa.


Tiba di rumah sakit Gia langsung mendapat penanganan. Gia pun sudah tersadar dengan pandangan kosong ke atas, menatapi langit-langit ruang tersebut. Ia tahu bahwa sekarang berada di rumah sakit.


"Gia," panggil Nia dengan wajah cemas. Ia mendekati Gia hingga lamunan Gia membuyar.


Gia berusaha tersenyum agar sahabatnya itu tidak merasa khawatir. "Aku baik-baik saja, mungkin hanya kelelahan," ucap Gia, tapi rasa perih itu tak kunjung hilang.


"Syukurlah. Baik lah aku segera kembali ke kantor, maaf ya tidak bisa menunggu lebih lama. Kemungkinan kamu pulang sore," ucap Nia merasa tidak enak hati tapi karena pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan membuatnya terpaksa.


"Tidak apa-apa Nia. Aku juga tidak apa-apa, hmm rahasiakan ini dari Bibi."


Nia mengangguk. Selama ini persahabatan mereka begitu dekat. Nia sering main ke rumah Bi Ani ketika ada waktu luang, begitu juga dengan Gia.


Sepeninggalan Nia, Gia memejamkan mata. Ia sudah yakin bahwa yang sakit itu adalah organ bagian jantungnya.

__ADS_1


Dokter datang, lalu kembali memeriksa Gia.


"Ibu Gia harus di ronsen," terang dokter karena dapat menganalisis penyakit Gia. Untuk memastikannya makanya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Gia mengangguk mengikuti saja karena rasa sakit itu sungguh membuatnya menderita. Gia di bawa oleh suster dengan kursi roda ke ruangan ronsen.


Usai di ronsen dokter tersentak kaget dengan hasil ronsen. "Apakah Ibu Gia menerima transplantasi jantung?"


Gia mengangguk


"Saya sarankan untuk saat ini Bu Gia hindari rokok, makan dan minum yang menyehatkan, olah raga teratur dan jaga berat badan." Terang dokter.


"Iya dok."


"Selalu periksakan diri dan menjalani biopsi satu kali setiap tiga bulan." Imbuh sangat dokter.


Gia terdiam karena selama 1 tahun ini ia tak pernah menjalani biopsi seperti biasanya. Sejak pergi dari rumah ia seakan mengabaikan kesehatannya.


Menjalani biopsi bagi seseorang penerima transplantasi jantung wajib di lakukan guna memantau respon tubuh terhadap jantung baru. Ini dilakukan terus menerus dalam jangka panjang, meski dilakukan satu kali tiap tiga bulan.


Gia kembali ke ruang rawat. Sore ini ia diperbolehkan pulang. Ia terbaring dengan pandangan kosong menghadap jendela.


Bagaimana mungkin ia mampu membayar biaya biopsi, sedangkan ia bergantung dengan Bi Ani. Belum lagi Bi Ani juga memiliki riwayat penyakit, bahkan sudah di operasi dengan biaya cukup besar.


Gia ikhlas untuk membantu Bi Ani. Hingga ia mengadaikan, jika sudah terkumpul baru ia tebus. Bi Ani tentu saja tidak setuju tapi Gia tetap kekeh.


Air mata tak dapat dibendung lagi. Ingatan di masa lalu membuatnya sedih dan pilu. Sedari kecil hidup bergelimang harta, mau apapun dapat dimiliki tapi lihat sekarang, selama satu tahun ini ia bekerja keras banting tulang tak mengenal lelah. Gajinya di perusahaan hanya cukup memenuhi kebutuhan dan perubahan Bi Ani yang terus mengkonsumsi obat-obatan dan menjalani pemeriksaan.


Gia mengusap air mata tersebut. Ia tidak ingin semakin terpuruk. Semangatnya langsung berkibar setelah mengingat Bi Ani.


Wanita cantik tersebut menganggap semua ini adalah pelajaran. Pengalaman pertama agar ia semakin menghargai hidup dan kerja keras, dan ini adalah titik terbesar dalam hidupnya. Cobaan terus menerus menerpanya.


Ia menghela nafas panjang, memejamkan mata. Ingin melupakan sejenak rasa sakit dan juga lelah ini. Mungkin pengaruh obat membuatnya terlelap.


Sore menjelang


Gia sudah diperbolehkan pulang. Ternyata tanpa di duga CEO perusahaan datang menjenguk.


"Maaf jika saya datang lebih lama," ujar pria putih tinggi tersebut.

__ADS_1


"Tidak masalah Pak. Terima kasih atas semuanya," sahut Gia karena semua biaya perobatannya di tanggung kantor.


"Apa sebaiknya Bu Gia menginap saja? masalah biaya jangan dipermasalahkan karena pihak kantor yang urus."


Gia menggeleng. "Saya sudah baikan Pak. Dokter mengatakan karena sedikit lelah," terang Gia berbohong, tidak mungkin ia menceritakan yang sebenarnya.


"Baiklah. Saya akan memberi cuti selama tiga hari." Kelvin memberi cuti untuk Gia beristirahat penuh. Ya nama atasan Gia atau CEO JAYA MAJU adalah Kelvin Jaya. Pria dewasa yang masih single.


"Terima kasih Pak."


"Biar saya antar. Kebetulan arah kita satu jalur," ujar Kelvin.


Gia terdiam sesaat. Ingin menolak tapi tidak enak hati, ingin mengatakan iya tapi ia sebenarnya tidak suka. Jika dekat dengan para kaum adam membuat hatinya perih.


"Baik Pak." Ya ia terpaksa hanya untuk kali ini saja. Gia tahu bahwa Kelvin menaruh hati padanya, dari tatapan matanya ia dapat merasakan. Belum lagi rekan kerja wanita sering menyindir Gia karena menjadi saingan bagi mereka.


Didalam mobil


Sepanjang jalan Gia memilih diam dengan pandangan di luar jendela. Tidak ada obrolan, hanya sekedar pertanyaan seputar pekerjaan saja.


Tiba di depan rumah sederhana. Mereka tidak langsung turun karena Kelvin berbicara kepada Gia.


"Gunakan masa cuti untuk beristirahat, jangan pikirkan pekerjaan karena semuanya akan di handle kepada Pak Rio. Jaga pola makan dan satu lagi jangan lupa minum obatnya," pesan Kelvin dengan perhatian penuh.


"Iya Pak. Terima kasih sekali lagi," ucap Gia sembari membuka pintu mobil.


"Hmm saya tidak dipersilahkan masuk?"


Mendengar penuturan Kelvin membuat Gia membalikkan badan.


"Tidak, saya hanya bercanda saja. Ya sudah segera masuk," ujar Kelvin dengan senyuman lepas.


Gia mengangguk dan membalas senyuman tersebut.


"Astaga senyumannya membuat jantung ku meledak!" Batin Kelvin sembari memandangi Gia yang berjalan masuk kedalam teras rumah.


Melihat sosok itu sudah masuk, baru ia menjalankan mobil dengan bibir tersenyum.


Bersambung....

__ADS_1


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2