
Setelah pulang dari makan siang, akhirnya Lira dan Shean tidak pergi kemana pun selain pulang kerumah. Shean ada urusan mendadak diluar dan terpaksa harus menunda waktunya bersama Lira. Setelah Lira sudah benar benar masuk kedalam rumah, Shean langsung tancap gas untuk menemui seseorang. Mungkin seteleh ini dia akan membunuh siapapun yang mengganggu kecannya, dengan tatapan tajamnya (berlebihan).
Lira masuk kedalam rumah dengan suasana hati yang kurang bagus, dia sedikit kecewa tapi tak apa Shean mungkin ada urusan yang penting. Lira melihat kesekeliling dan hanya melihat kesepian dilantai bawah itu, dia melihat jam tangan menunjukan pukul lima sore.
"pada kemana orang orang?" tanya Lira entah pada siapa.
Lira terus berjalan sampai langkahnya terhenti karena melihat seseorang didalam perpustakaan, pintunya terbuka. Yang awalnya Lira berniat menuju ke kamarnya, berbelok arah menuju perpustakaan.
"sedang apa kau?" tanya Lira setelah sampai didalam perpus, namun jaraknya dengan Diqi yang sedang duduk masih agak jauh.
Diqi mendongak dan tersenyum tiga jari "Oh, kau sudah pulang ra? bagaimama kencannya?" tanya Diqi.
Lira berjalan mendekati Diqi dan duduk didepannya, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Diqi. Lira menatap Diqi lekat dan mengangkat sebelah halisnya pertanda dia sedang menyelidik. Sadar jika Lira sedang menatapnya penuh arti, Diqi jadi sedikit gugup.
"kenapa?" tanya Diqi.
"tumben kau ada diperpus" ketus Lira.
"emangnya salah kalau membaca buku diperpus" kata Diqi dan masih sedikit meremas buku ditangannya.
"tidak salah, tapi kau memang tidak pernah datang ke perpus jika tidak ada orang didalamnya. Tumben saja" jelas Lira dan melirik tangan Diqi yang sedang mencengkeram buku.
Lira tersenyum miring "kasihan bukunya, jangan diremas!" kata Lira dan sukses membuat Diqi meletakan bukunya diatas meja.
Diam untuk beberapa saat dan keheningan yang tercipta didalam perpustakaan itu, Lira mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Pandangannya terhenti pada sebuah benda pipih berteknologi, yang ada dikursi kosong disebelah Diqi. Hanya terhalang satu kursi posisi Diqi dengan benda pipih itu, dia mungkin tidak menyadarinya.
"ponsel siapa?" tanya Lira tiba tiba.
"Hah?" Diqi tidak pokus.
"itu.." tunjuk Lira pada sebuah ponsel pintar diatas kursi "punya siapa?" lanjutnya.
Diqi mengikuti arah jari Lira, dia langsung menyambar benda pipih itu dan menyembunyikannya dibawah meja.
Lagi lagi Lira tersenyum miring "setauku itu bukan ponselmu" kata Lira "dan kenapa kau menyembunyikannnya" lanjutnya.
"siapa yang menyembunyikan, ini ponselku kok" Diqi mengelak.
"Oh benarkah? tapi kenapa ada gambar bunga anggrek dibelakangnya, setauku yang suka dengan bunga itu hanya Dea disini" Lira memojokan Diqi.
Diqi sudah kehabisan akal untuk memberikan penjelasan bohong, memang sangat sulit jika membohongi Lira. Menurut Diqi Lira selalu bisa mengetahui apa yang dipikirkan semua orang, dan itu membuatnya gugup sekarang.
"itu-"
"Diqi apa ponselku-" Dea masuk tanpa permisi.
Diqi dan Dea saling pandang seperti mengisyaratkan sesuatu, dan Lira melihat mereka bergantian.
☆☆☆
"jadi?" tanya Lira setelah Dea keluar dari perpus.
"apa kalian menjalin hubungan yang tidak seharusnya?" lanjutnya.
__ADS_1
Diqi menghela nafas " tadinya.." jawab Diqi.
"tadinya?" Lira memiringkan kepalanya.
"Hanya aku yang menyukainya, Dea sangat mencintai Sam. Tapi dia terlalu baik untuk menolakku secara mentah mentah, jadi kita hanya bisa berteman dekat" jelas Diqi. "tapi aku masih berharap" lanjutnya dan menundukan pandangan.
"bodoh" Lira memukul sayang kepala Diqi dengan buku, membuat siempunya mendongak menatap Lira nyalang "kau tau sendiri kalau Dea mencintai Sam, tapi malah mengambil resiko mendekatinya. Untung dia tidak mengadu ke Sam" lanjutnya.
"ya aku tau aku salah, tapi kalau harus menjauhi Dea sepenuhnya, itu sulit" bela Diqi.
"tidak harus sepenuhnya juga, kau bisa bicara dengannya seperlunya saja. Dan jangan berduaan terlalu lama dengannya, jika yang lain melihat bisa gawat" kata Lira.
"akan ku coba" jawab Diqi dan kembali melihat lantai.
"ayolah, seorang Diqi yang ceria dan suka menghibur orang lain masa harus terpuruk" Lira menyemangati dan menggenggam tangan Diqi.
Diqi mendongak dan tersenyum simpul, kemudian membalas genggaman Lira. Lira menarik tangannya pelan dan meruhnya di pangkuan.
"oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku" kata Diqi.
"yang mana?" tanya Lira.
"apa kencanmu dan kak Shean lancar?" tanya Diqi tersenyum jahil, sifatnya mulai kembali.
"apasih, itu bukan kencan hanya makan siang" jawab Lira.
"sama saja. Oh ya, apa kau makan siang direstoran waktu itu?" tanya Diqi.
"itu... yang waktu kau bareng temanmu"
"kenapa kau bisa tau?"
"tentu saja, waktu itu aku dan kak Shean mengikuti-" Diqi menutup mulutnya dengan kedua tangan "mulut sialan" batin Diqi.
"hah? kau mengikutiku dan Say?" tanya Lira menuntut jawaban.
"aduh bagaimana ini, kak Shean bisa menggantungku (berlebihan lagi)" batin Diqi.
"Diq?" Lira benar benar menatap Diqi tajam.
"baiklah baiklah akan aku jelaskan" Diqi pasrah kalau sudah melihat Lira seperti itu.
"kenapa suami istri tidak jauh beda sikapnya kalau sedang kesal" kasihannya Diqi.
☆☆☆
Sudah jam setengah tujuh malam tapi Shean belum juga kembali, membuat Lira sedikit khawatir. Namun kemudian dia teringat penjelasan Diqi, senyuman tipis terukir dibibirnya.
"apa waktu itu dia benar benar mengikutiku?" tanyanya entah pada siapa. "cemburu? apa benar kata Diqi" lanjutnya.
Lira menutup wajahnya dengan kedua tangan, semu merah mulai terlihat dibalik tangan putih itu. Seperti ada ribuan bunga bungan disekelilingnya, Lira hanya bisa tersenyum malu.
"kenapa aku bisa senang sekali mendengar dia cemburu?" monolognya lagi. "ahhh entahlah" Lira berguling kesamping menbungkus seluruh tubuhnya dengan selimut. Ngomong ngomong Lira sudah berada dikamarnya dari tadi.
__ADS_1
Sekitar tiga puluh menit Lira berada diatas tempat tidur lalu dia mendudukan dirinya, jam sudah menujukan pukul tujuh malam tapi Shean belum kembali juga. Lira tidak mau berpikir yang tidak tidak, dia berniat turun kelantai bawah untuk makan malam bersama.
Setelah Lira sampai dimeja makan hanya ada beberapa orang yang duduk disana, mungkin yang lain sedang keluar sama seperti Shean. Tak ada pembicaraan yang berarti selama makam malam, Lira segera menyelesaikan makannya dan beranjak menuju kamarnya.
Bosan dengan situasinya, Lira mengambil laptop dan menyalakannya. Dia duduk dikursi meja kerja dan mengotak atik benda berteknologi itu.
"sambil menunggu Shean, lebih baik aku mengecek pekerjaanku" monolog Lira.
Pinggang Lira sudah terasa pegal, menandakan dia sudah lama dengan posisi seperti itu. Lira melihat jam dinding, jam sepuluh malam.
Lira menutup laptopnya kemudian berjalan menuju pintu kamar, dia membukanya berharap seseorang berdiri dibaliknya. Namun nihil tidak ada siapapun disana, rumah besar itu sudah mulai sepi.
"kenapa dia belum pulang?" monolog Lira. Dia menutup kembali pintu kamarnya, niatnya ingin merebahkan diri diatas tempat tidur sampai...
Tok tok tok
"Ra, sudah tidur?" tanya seseorang dibalik pintu.
"kak Key?"
Lira berbalik dan kembali membuka pintu.
Greb
Lira menahan tubuh seseorang yang hampir jatuh tersungkur. 'Dejavu' itulah yang ada dibenak Lira.
"dia kenapa lagi kak?" tanya Lira masih menahan tubuh Shean.
"biasa, bisakah kau buka pintu lebih lebar!? biar aku yang memapahnya ke tempat tidur"
"mm" Lira membiarkan Key memapah tubuh Shean dam membaringkannya diatas tempat tidur.
Huh
Key menghembuskan nafas kasar, beban yang berat akhirnya sudah ada ditempatnya (maksudnya Shean).
Lira memperhatikan wajah tampan Shean yang sedikit kusut, matanya terpejam.
"berapa botol yang dia habiskan?" tanya Lira tanpa mengalihkan pandangannya.
"sepuluh" jujur Key.
"What? gila"
"apa?" syok Lira.
Lira menatap Key menuntut jawaban.
"terpaksa" jawab Key.
"kok bisa kak?"
"sebenarnya..."
__ADS_1