
Dipagi hari yang cerah didalam sebuah kamar, seseorang tengah terganggu dalam tidurnya, karena sinar matahari yang menembus masuk melalui celah jendela, mengenai kedua mata indah yang sedang tertutup itu.
"Eugh.." Lira menggeliat saat sinar mentari yang sudah mulai meninggi mengenai kedua matanya "silau" lirihnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Lira mengerjap ngerjapkan kedua matanya yang masih enggan untuk terbuka lebar, sebab dirinya masih mengantuk karena dia tidur terlambat tadi malam.
Lira menyibakan selimut dengan mata yang masih sedikit tertutup dan berniat beranjak dari tempat tidur "mengantuk sekali.. tapi aku harus bangun" katanya dengan suara yang masih serak.
"tidur lagi!"
DEG
Lira membeku seketika saat mendengar suara berat menyapa pendengarannya serta sesuatu yang melingkar diperutnya melakukan pergerakan. Lira masih memproses apa yang terjadi dan dia benar benar baru sadar jika dari sejak dia bangun ada sebuah tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.
Lira menjauhkan pikiran pikiran aneh yang sudah mulai bermunculan dikepala kecilnya dan menengok kesebelah kanan untuk melihat siapa orang yang tidur disampingnya, walaupun pikirannya sudah menebak itu siapa.
Lira manahan nafasnya kala wajah seseorang yang dia tau itu adalah suaminya hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya, Lira mengamati wajah tampan Shean yang masih tertidur itu. Namun tiba tiba Shean membuka matanya dan menatap Lira tanpa ekspresi. Alhasil Lira jadi gelagapan sendiri.
"kenapa kau tidur disini?" tanya Lira dan melepaskan tangan Shean yang masih melingkar dipinggangnya, kemudian dia mendudukan dirinya.
Jantungnya sudah berdetak tak karuan diantara khawatir dan takut jika semalam dia melakukan sesuatu yang aneh aneh dengan Shean.
"memang apa salahnya tidur disini?" tanya Shean dengan masih mengumpulkan kesadarannya dan berusaha untuk duduk.
"malam tadi bagianku untuk tidur diatas tempat tidur dan kau di sofa" Lira berkata dengan sedikit nada tinggi.
"hah?" Shean masih mengingat ingat kejadian semalam yang dirinya mabuk berat lalu seseorang membawanya pulang kerumah dan "bukannya kamu yang menidurkanku disini?" tanya Shean.
"itu...." Lira terlihat berpikir mengingat kejadian semalam yang membuatnya tidur terlambat.
"benar.. tapi itu semua kan gara gara kau yang minum terlalu banyak sehingga aku harus menidurkanmu disini. mana mungkin aku membiarkanmu tidur disofa dengan keadaan mabuk" kata Lira sedikit gugup.
Setelah semalam Lira menempatkan Shean diatas tempat tidur dia berniat untuk tidur diatas sofa saja, namun tiba tiba ponselnya menyala dan seseorang menelponnya. Dengan terpaksa dia mengangkat telpon dari seseorang itu yang ternyata bukan Say melainkan orang lain.
Lira menutup telpon dengan segera dan bergegas membuka laptopnya untuk melakukan apa yang orang tadi suruh ditelpon. Setelah sekitar dua jam lebih dia menatap layar laptopnya, dia berniat untuk tidur
Jam sudah menunjukan pukul setengah satu dini hari, Lira berjalan menuju sisi lain tempat tidur tanpa melihat siapa yang tengah tertidur disisi lainnya. Dia lupa jika dia yang menidurkan Shean disana.
"jadi bukan aku yang salah" kata Shean "kau sendiri yang mau tidur denganku" lanjutnya sembari tersenyum miring.
"a-aku kan lelah jadi lupa kalau kau tidur disini- tapi tunggu, kenapa aku yang salah. seharusnya jika kau tau kalau semalam bagianku tidur disini kau harusnya pindah ke sofa" kata Lira dan masih pada posisinya.
"ini bukan masalah besar. kita adalah suami istri. atau jangan jangan kau malu?" kata Shean dan membuat Lira merona seketika.
"um- itu.." Lira membelalakan matanya ketika wajah Shean yang tiba tiba berada didepannya dan hanya berjarak beberapa senti saja, Lira refleks mundur dengan cepat dan....
BRUK
__ADS_1
"eugh.." Lira membuka matanya dan melihat dirinya yang berada dibawah Shean, dan sialnya Shean saat itu sedang bertelanjang dada.
"kenapa aku tidak sadar kalau dari tadi dia tidak pakai baju" batin Lira.
Beberapa saat Lira terpaku melihat wajah Shean yang sekarang sedang tersenyum tipis.
"apa aku begitu tampan, sampai kamu melihatku sampai segitunya" kata Shean menyadarkan Lira.
"ti-tidak. AWAS aku mau bangun" titah Lira dan mendorong dada bidang Shean menjauh darinya. Kemudian dia langsung melesat masuk kedalam kamar mandi.
☆☆☆
Hari ini sebenarnya adalah hari senin, namun karena Shean terlambat untuk bangun jadi dia tidak kekantor karena menurutnya juga tidak ada pekerjaan yang terlalu mendesak.
Setelah sarapan, Shean kembali kekamarnya untuk bersantai, dia tidak pernah berdiam diri diruang tamu atau diluar kamar ketika dia ada dirumah. Dia melihat sekeliling ternyata Lira tidak ada disana, namun dia tidak ambil pusing dan duduk disamping tempat tidur memainkan ponsel pintarnya.
Beberapa menit kemudian pintu kamar terbuka kemudian Lira masuk dengan membawa sepanci irisan buah buahan dan segelas susu panas diatas nampan.
"kau tidak kekantor?" tanya Lira mendekati sisi tempat tidur.
Shean mengalihkan atensinya dari ponsel kemudian melihat Lira dan mengerutkan halisnya kala melihat apa yang Lira bawa.
"tidak. aku sudah telat" jawab Shean singkat.
Lira hanya ber oh ria sambil menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan menuju sofa dan duduk diatasnya.
"ada apa?" tanya Lira heran karena Shean tengah melihatnya lekat.
"apa kau mau?" tanya Lira dan menyodorkan irisan buah itu.
"apa enak?" Shean malah balik bertanya.
"yah.. seperti rasa buah buahan" kata Lira.
"sepertinya begitu" jawab Shean singkat namun tidak melihat panci yang berisi buah buahan melainkan bibir merah muda Lira.
"apa kau mau?" Lira menyodorkan garpu yang ada irisan buah apel diatasnya.
"mm" jawab Shean dan mendekatkan bibirnya ke bibir Lira, membuat siempunya terkesiap.
"a-apa yang kau lakukan?" tanya Lira gugup.
Shean tidak mendengarkan Lira yang sudah mulai panik.
Shean menempelkan bibirnya dibibir kecil Lira yang saat ini tengah membolakan matanya, walau hanya sekedar menempel tapi itu adalah pertama kalinya Shean melakukan itu dengan kata lain itu adalah first Kiss untuk Lira.
Lira mendorong dada Shean setelah sadar dengan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"apa yang kamu lakukan?" tanya Lira sedikit emosi.
Namun alih alih mendapat jawaban dari Shean dia malah kembali terkesiap dengan Shean yang kembali menempelkan bibinya dibibir Lira, namun kali ini Shean melakukan lebih dari sekedar menempel. Awalnya Lira memberontak namun kemudian dia hanya bisa memejamkan matanya mengikuti arus.
☆☆☆
Kejadian tadi siang membuat Lira jadi kikuk dihadapan Shean. tapi Shean bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa apa, itu membuat Lira jadi mengumpat pada dirinya sendiri.
"Lira lira. jangan dipikirkan, mungkin dia hanya sedang tidak sadar. tapi jelas jelas dia sadar, apa mungkin dia sedang mengujiku? apa mungkin dia... ahk tau ah. tapi kenapa dia terlihat biasa saja" batin Lira.
Sebenarnya Lira sedang bersandar dikepala ranjang setelah makan malam tadi. Dia memejamkan matanya dan tidak mempedulikan pintu kamar yang dibuka seseorang.
Cup
Shean mencium bibir Lira singkat dan siempunya malah duduk disamping Lira.
"kau?" Lira menatap Shean nyalang.
"ada apa?" tanya Shean enteng.
"kenapa kau melakukan ini padaku?"
"melakukan apa? maksudmu ciuman? apa salahnya jika pasangan yang sudah menikah melakukan itu?"
"tidak salah jika itu pernikahan normal. tapi kau dan aku hanya terikat dengan sebuah perjanjian" kata Lira mengingatkan.
Lira sebenarnya cukup tersulut emosi dengan sikap Shean yang biasa biasa saja melakukan itu padanya. Namun yang membuat Lira emosi adalah poto yang pernah seseorang kirimkan padanya waktu itu.
"apa kau terbiasa mencium perempuan sana sini?" Shean masih terdiam dengan tanpa ekspresi.
"kau menggunakan bibirmu untuk mencium pacarmu dengan hangat, dan kau menggunakan itu juga padaku. apa kau tidak merasa bersalah" entah kenapa Lira merasa sesak didadanya.
Shean tidak mejawab apa apa, dia masih menunggu Lira untuk melampiaskan amarahnya.
"awas! aku mau turun" Lira mendorong tubuh Shean supaya turun dari tempat tidur kemudian Lira berajak untuk meninggalkan kamar.
"tunggu" Akhirnya Shean membuka suaranya.
Lira menghela nafas dan berbalik dengan enggan.
"aku tidak bermaksud seperti itu" Shean mendekati Lira yang tengah berdiri dengan tatapan lurus kedepan.
"maaf" itulah yang bisa Shean katakan untuk saat itu.
Lira menatap mata Shean dengan tatapan penuh arti.
"kau tidak salah. lagi pula enam bulan lagi kita akan bercerai" Lira berlalu meninggalkan Shean keluar dari kamar.
__ADS_1
Shean hanya bisa berdiri mematung ketika lira mengingatkan kembali akan sebuah perjanjian yang dibuatnya, yang sudah Shean sesali setelah tiga bulan mereka menikah. Namun kini Lira mengingatkannya dan Shean tidak bisa menyalahkan kemarahan Lira karena dirinyalah yang membuat semuanya menjadi rumit.