
Kejadian dimalam saat Lira tidak bisa tidur, tidak bisa dia lupakan begitu saja. Dimana dia menyaksikan kejadian yang membuat dia ingin melabrak mereka berdua waktu itu.
Mia dan Tam melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh adik dan kakak ipar. Entah mereka sadar atau tidak melakukan semua itu, tapi dimata Lira kejadian itu atas suka sama suka dari keduanya.
Mulai dari saat itu tanpa sepengetahuan Shean, Lira mencari cara untuk membongkar semuanya. Namun mencari bukti yang akurat tidak semudah itu, apalagi Shean malah tidak mendukungnya. Shean tau tapi pura pura tidak tau, dia tidak mau mengurusi urusan rumah tangga kakaknya. Karena pernikahannya sendiri dengan Lira juga memiliki masalah.
"argh.. bagaimana aku mencarinya. mencari bukti itu sangat sulit" kata Lira prustasi.
"bukti apa?" tanya seseorang dibelakang Lira.
"sejak kapan kau disini. mengagetkan saja" kata Lira.
"sorry ra. habis nya aku bosan sendirian, jadi kesini deh. karena aku tau kamu disini" jawab Diqi yang merupakan orang dibelakang Lira.
Diqi berjalan memutar dan duduk didepan Lira, yang sekarang sedang menampilkan ekspresi rumit.
"kenapa?" tanya Diqi.
"..."
"cerita aja ra. kita kan udah jadi teman. jangan sungkan siapa tau aku bisa membantu masalahmu"
"itu..." Lira ragu untuk mengatakannya sama Diqi.
"apa tentang kak Shean?" tebak Diqi tiba tiba.
Lira jadi mengerutkan keningnya. Kenapa Diqi jadi kepikiran dengan Shean.
"dia mulai curiga hubunganku dan Shean" batin Lira.
Lira 'mendengar' apa yang Diqi pikirkan saat ini.
"kenapa jadi Shean?" tanya Lira dengan tatapan penuh selidik.
"a-ah itu. aku cuman nebak" jawab Diqi kikuk. "jadi apa?" lanjutnya.
Wajah Lira mulai serius dan bersiap menceritakan semuanya pada Diqi. Lira lumayan percaya dengan Diqi yang bisa diminta bantuan.
"jadi gini...."
☆☆☆
Setelah mendengar apa yang Lira katakan, Diqi benar benar menjatuhkan rahangnya tidak percaya. Diqi kira selama ini pernikahan para sepupunya baik baik saja dan tidak ada masalah yang berarti. Namun dia salah.
Diqi sungguh tidak tau jika ada cinta segi banyak yang terjalin diantara para sepupunya dan wanita yang bernama Mia.
Awalnya Diqi tidak percaya dengan ucapan Lira pertama kali. Namun setelah dia melihatnya sendiri, dia benar benar percaya.
Ya. saat ini Diqi tengah memergoki sepupunya tengah berbuat hal yang tidak mungkin dilakukan oleh kakak dan adik ipar.
"sebenarnya siapa saja yang terjerat oleh wanita ini selain kak Min, Tam dan Jhon saat ini" tanya Diqi dalam hati.
Diqi sedang berada didapur saat ini, dan tangannya tengah memegang ponsel pintar miliknya.
Diqi tidak pernah keluar kamar dimalam hari apalagi tengah malam. Namun untuk membuktikan perkataan Lira dia mencoba untuk mencari bukti sendiri.
Nasib baik sedang berpihak padanya. Disaat dia bangun tengah malam dan berniat untuk mengambil air putih, dia melihat semua adegan itu.
"mereka sungguh berani" gumamnya dan mematikan ponsel yang dipegangnya kemudian pergi meninggalkan dua sejoli yang lagi asyik sendiri.
Diqi akan memberikan bukti itu ke Lira, dan dia tak berniat untuk menghentikan kegiatan panas itu. Dia juga sudah kesal dengan apa yang dilakukan Jhon dan ditambah dengan cerita Lira makin membuatnya kesal saja.
"Tam, Jhon, Mia. kalian dalam masalah" kata Diqi dengan tersenyum miring juga ada sorot kekecewaan disana.
__ADS_1
☆☆☆
"bagaimana?" tanya Lira.
Diqi yang paham dengan maksud Lira, kemudian dia merogoh sakunya dan menyerahkan benda pipih itu ketangan Lira.
"ini lihatlah sendiri" kata Diqi.
Lira dan Diqi sekarang sedang berada diruang tamu yang memang sedang tidak ada orang disana. Penghuni rumah yang lain sedang melakukan kegiatan masing masing.
"ini...?" Lira menatap Diqi tidak percaya. Dan Diqi hanya mengangguk singkat.
"wanita itu sungguh menjadi jadi. ini benar benar... bagaimana kak Min bisa tertipu dengan cinta palsunya?"
Lira sekarang berpikir bahwa apa yang Ria dan Rina katakan waktu itu ada yang salah, kalau Mia mencintai Min. Karena pada kenyataannya wanita itu hanya ingin mempermainkan anak anak tuan pratama.
Wajah sok polos yang Mia tunjukan benar benar membuat semua orang tertipu kecuali Lira.
"bagaimana kalau Ria dan Rina tau.." kata Lira dengan wajah khawatir dan merasa bersalah.
"kenapa ekspresimu seakan kau yang berbuat salah" kata Diqi "bagaimana kalau kita serahkan video ini ke kak Min saja?" usul Diqi.
"tidak semudah itu Diq. kak Min adalah orang yang ramah dan baik hati, aku yakin dia akan merasa kecewa dan bersedih" jawab Lira.
"lalu harus bagaimana...?"
Lira dan Diqi mencoba memikirkan cara terbaik untuk memecahkan masalah, sehingga mereka tidak sadar ada sepasang mata yang memperhatikan.
"kalian sedang apa?" suara berat itu dari Shean yang baru saja pulang dari kantor dan melihat Lira sedang bersama Diqi diruang tamu, berbicara dengan serius dan jangan lupa mereka duduk berdekatan.
"o-oh kak She, kakak sudah pulang" tanya Diqi langsung kikuk seketika.
"..."
"sedang apa disini?" tanya Shean menatap Lira, dan yang ditatap mulai khawatir kalau Shean tau tentang percakapannya dengan Diqi.
"ummm. kak Lira nanti kita lanjutkan lagi" kata Diqi dan langsung pergi dari suasana canggung itu.
Perkataaan yang Diqi ucapkan benar benar membuat Shean berpikir hal yang ambigu. Dia menatap Lira penuh tanya dan Lira hanya menampilkan wajah tak tau apa apa.
☆☆☆
Lira terduduk diatas sofa dengan pandangan kosong, dan sepertinya sedang melamun.
"bagaimana caranya?" gumamnya dalam hati.
Lira terus dalam posisi seperti itu dalam waktu lama, dan itu membuat Shean mulai khawatir.
"kau"
"..."
"Lira?"
"..."
"Rara" Shean sedikit berteriak dan melambai lambaikan tangannya didepan Lira.
"yah?" Lira lumayan kaget karena Shean sudah membuyarkan lamunannya.
Shean berdiri tegak didepan Lira dengan wajah dinginnya itu.
"kau kemasukan" entah sebuah pertanyaan atau pernyataan yang Shean katakan, itu membuat Lira kikuk.
__ADS_1
"tidak. hanya saja- kenapa aku harus memberi taukan padamu?" Lira mulai sadar.
Shean tidak menanggapinya dan malah berjalan menuju laci meja kerjanya, kemudian mengambil sesuatu didalamnya.
"ini" kata Shean menyerahkan sebuah kotak ke Lira.
"apa?" tanya Lira.
"buka saja"
Lira mengambil kotak itu dari tangan Shean dengan enggan dan membuka kotaknya, kemudian dia mengerutkan halisnya bingung.
"ini...?" kata Lira.
"jangan salah paham. ini pemberian dari temanku, dan aku tidak suka manis" kata Shean dan memalingkan wajahnya menghindari tatapan Lira.
"aku tidak bilang apa apa" kata Lira dan menyimpan kotak itu diatas meja didepannya.
"kau tidak memakannya?" tanya Shean ketika melihat pemberiannya diabaikan oleh Lira.
"tidak, ini sudah malam. Makan manis tidak bagus untuk gigi" jawab Lira.
Ekspresi Shean saat ini sulit diartikan, namun Lira tidak ambil pising karenanya. Dia mulai membaringkan tubuhnya diatas sofa, dan mengabaikan Shean yang masih berdiri mematung.
Merasa diabaikan oleh Lira Shean mulai mengeluarkan aura gelapnya, namun itu tidak akan Lira sadari karena dirinya yang memang tidak terlalu peduli dengan Shean.
Shean beranjak dari tempatnya berdiri dan menuju tempat tidur dengan ekspresi yang masih datar namun terdapat kekesalan disana.
Dreett
Dreett
Suara bunyi telepon mengganggu Lira yang baru saja akan meluncur kealam mimpi.
Dia mengambil ponsel dan menggeser tombol hijau dilayar ponselnya kemudian meletakan ponselnya ditelinga.
"halo"
"..."
"apa? kau sudah pulang? kapan?" Lira yang tadi murung terlihat antusias.
"..."
"benarkah? kapan kita bisa bertemu?"
"..."
"kamu mau mengurus kepindahan dulu. baiklah" Lira terlihat kecewa.
"..."
"Ok aku tunggu"
"..."
"I love you to"
Tut
Sambungan diputus oleh seseorang disebrang sana. Lira terlihat senang menerima telpon dari Say. Ya, itu Say yang menelpon Lira dan membuat Lira senang karenanya.
Lira menyimpan kembali ponselnya diatas meja dan bersiap untuk tidur, kemudian dia benar benar tertidur sekarang.
__ADS_1
Shean hanya bisa mengepalkan tangannya kala mendengar Lira sangat senang menerima telepon yang Shean sudah tebak itu siapa, karena dulu juga dia yang mengangkat telepon dari orang itu ketika Lira berada dikamar mandi.