
Peryataan Gia tak terduga membuat Balin membeku. Jantungnya berdebar kencang hingga sulit untuk menyembunyikan rasa itu.
"Tapi aku salah," ucap Gia sembari tersenyum getir, membuang muka dengan tatapan pilu ke depan dinding kamar. "Kamu hanya memandang diriku sebagai orang lain," lirih nya dengan mata berkaca-kaca. "Yang tak lain adalah mantan kekasihmu, yang salah satu miliknya ada dalam tubuh ku!" Gia mengakhiri kegundahan, kemarahan, kekecewaan atas kejadian satu tahun silam. Hingga kini bulir bening itu tak dapat dibendung lagi, membanjiri kedua pipinya.
Gia menunduk, menangis dalam diam. Ia sangat tahu bahwa Balin sangat mencintai mantan kekasihnya tersebut. Pantas saja Balin menerima pernikahan tersebut dengan tujuan hanya satu, yaitu transplantasi pada dirinya sebagai jantung hatinya hingga ia tak merasa kehilangan.
Awalnya Gia bisa menerima masa lalu Balin, bagaimana dulu ia sangat kehilangan sosok Jill, tapi rasa itu seakan terbagi sudah dengan kejadian tersebut.
"Orang tua ku salah memberi nama. Buktinya bukan kebahagiaan yang aku dapatkan selama ini tetapi sebaliknya," ucap Gia seakan pemberian nama pada dirinya bertolak belakang dengan realita yang nyata.
Dada Balin terasa sesak mendengar ungkapan isi hati Gia. Ternyata wanitanya ini begitu terluka. Tanpa sadar ia ikut memberi luka mendalam untuk Gia.
Balin merosot ke lantai. Berlutut di hadapan Gia, memegang kedua lututnya, dengan wajah mendongak ke atas.
Balin menggelengkan kepala berulang-ulang agar Gia berhenti menangis. Tangisan tertahan tersebut menyesakan hati siapapun melihatnya, apa lagi orang yang sangat kita cintai.
"Aku minta maaf sayang!"
"Seharusnya aku yang minta maaf atas keegoisan Papi. Andai saja Papi tidak egois, maka kita tidak akan pernah bertemu bahkan saling merasa sakit. Jika aku tahu, maka aku lebih memilih mati dari pada_____" Gia tidak bisa melanjutkan ucapannya karena dengan spontan mulutnya di bungkam Balin dengan bibirnya.
"Jangan pernah katakan itu karena semua ini sudah takdir. Takdir untuk kita bersama-sama, walau tidak mudah. Papi tidak egois tapi begitu menyayangimu hingga takut kehilanganmu, jika aku yang berada di posisi Papi juga melakukan hal yang sama." Balin kembali mendekap tubuh Gia, memeluk perutnya dengan bibir bergetar.
Gia terdiam, lidahnya keluh untuk kembali berucap. Tatapannya ke bawah, dimana Balin memeluk pinggangnya.
"Jangan pergi lagi!" Lirih Balin.
Hiks.... hiks....
Gia menunduk menangis, menaruh wajahnya di atas kepala Balin. Dua ciptaan Tuhan tersebut saling mencurahkan perasaannya dengan tangisan.
Ssst.....
Sekian menit Balin menjerit, hal itu membuat Gia tersentak aget. Ia pun menarik wajahnya kembali dengan raut wajah panik karena jeritan tersebut seperti ada yang sangat sakit.
"Ada apa?" tanya Gia dengan panik. Bahkan air mata masih mengenang di pelupuk matanya.
Gia menarik tangan Balin agar bangkit dari posisi berlututnya, dan kini duduk di atas ranjang kembali.
"Ada apa? apa kamu sakit?" tanya Gia kembali sembari memeriksa dahi serta leher Balin. Tapi suhu tubuhnya normal, hanya saja wajahnya berubah menjadi pucat, serta keringat besar membasahi dahinya.
__ADS_1
"Perutku sangat sakit sekali," lirih Balin sembari memegang perutnya.
"Apa yang kamu makan hingga bisa sakit perut?" Balin sangat senang melihat kekhawatiran Gia. Ternyata wanita itu masih memperdulikan dirinya, jika cara ini bisa menarik hati Gia maka ia ingin sakit saja. Bukankah hal ini begitu konyol? tapi apapun dilakukan untuk cinta! Bukankah untuk memperoleh cinta penuh pengorbanan? ya itulah namanya cinta sejati.
"Tidak ada, bahkan dari kemarin aku belum makan, hanya minum air putih saja," adu Balin dengan jujur.
"Bodohh! Mau mencari mati?" omel Gia tanpa sadar dengan ucapannya sendiri.
Bukannya marah atau tersinggung, Balin malah merasa gemas mendengar omelan tersebut. Ingin sekali ia terkekeh keras tapi rasa sakit itu mengalahkan tubuhnya.
"Kamu baring dulu, biar aku buatkan makanan. Kebetulan hari ini aku kesiangan bangun tidur jadi tidak sempat memasak," ucap Gia sembari beranjak bangkit masih dengan tubuh terlilit selimut. "Asam lambung mu naik karena perut kosong," imbuhnya dengan pancaran kesal.
Balin mengangguk karena rasa lapar sungguh membuat perutnya menderita.
"Balikan tubuhmu. Aku ingin menggenakan pakaian," lirih Gia dengan malu-malu.
"Hmm bukankah aku sudah melihat semuanya? bahkan menikmatinya walaupun belum tuntas," goda Balin dengan melengkungkan bibir.
Wajah Gia merah padam. Ia sangat kesal karena pada saat sakit begini pria itu masih bisa menggoda.
"Apa salahnya karena kita adalah sepasang suami-istri!"
"Perutku sangat sakit. Nanti kita bahas," ujar Balin seakan tahu apa yang ada dibenak Gia.
Gia mengambil pakaian ganti, lalu keluar kamar. Ia memutuskan menggenakan pakaian di kamar mandi saja. Karena wajahnya kini seperti kepiting rebus.
Balin tersenyum lega sembari menatap sosok yang sudah hilang dari pandangannya tersebut. Ia ingin menyusul Gia tapi rasa lemas pada anggota tubuhnya tidak bisa dilawan hingga ia memutuskan menunggu di dalam kamar.
Di dapur
Gia memutuskan membuat nasi goreng karena itu simpel dan lebih cepat. Ia tahu jika Balin suka nasi goreng buatannya.
Hanya butuh waktu singkat nasi goreng siap disajikan. Gia kembali ke kamar dengan tangan memegang napan.
Balin tersenyum senang melihat sosok wanitanya kembali. Walaupun raut wajah Gia tak sehangat seperti biasanya.
"Segera dimakan," ucap Gia sembari menyodorkan sepiring nasi goreng. "Ada apa lagi? bukankah aku sudah berbaik hati memasak untuk mu?" keluh Gia karena Balin tak kunjung menerima piring itu.
"Suap," pintanya dengan nada manja.
__ADS_1
"Perut mu yang sakit bukan?" Balin mengangguk. "Kedua tangan mu masih utuh bukan?" Balin kembali mengangguk tak ubahnya seperti anak TK. "Jadi suap sendiri!" Ucap Gia dengan suara sedikit meninggi.
"Suap!" Pinta nya tetap kekeh.
Ssst....
Gia mengumpat dengan raut wajah kesal. Andai saja pria ini tidak sakit mana mau ia menuruti keinginannya. Gia masih marah dengan apa yang terjadi.
Dengan raut wajah datar ia menyuapi Balin. Tidak ada obrolan dari keduanya. Balin menikmati cita rasa nasi goreng buatan Gia. Ia sudah lama merindukan masakan Gia dan hari ini ia kembali merasakannya.
"Kamu sendiri sudah makan?"
"Melihat kamu makan aku sudah kenyang," sahut Gia dengan malas.
"Sayang jawab yang benar, aku tidak ingin kamu sakit."
Gia tersenyum kecut mendengar ketakutan pengakuan itu karena Balin sudah memberi goresan luka padanya, jadi omong kosong saja yang ia khawatirkan itu.
"Bukankah hatiku memang sudah sakit?" ucapnya tersenyum sumbing.
"Maaf!" Balin menunduk merasa kembali bersalah.
Gia menjadi tidak tega melihat pria itu menyesali kesalahannya. Ia menghela nafas kasar, mencoba menata hatinya.
"Bagaimana kabar Papi?" akhirnya Gia bertanya juga.
Balin mengangkat wajahnya. Raut wajahnya menjadi sendu ketika Gia menanyakan kabar dari mertuanya itu.
"Semenjak kepergianmu, kesehatan Papi menurun. Bahkan bolak balik masuk rumah sakit. Papi sangat terpukul dan menyesali atas kepergianmu yang tak kunjung kembali."
Piring yang sejak tadi di pegang oleh Gia, lepas begitu saja ketika mendengar kabar Papi nya, untung saja dengan gerakan cepat Balin dapat menyelamatkan piring itu.
"Papi......" gumam Gia kembali menangis.
Bersambung.....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi
__ADS_1