
Putra melirik Balin sekilas. Pria itu cuek saja dengan obrolan mereka. Sama sekali tak tertarik, malahan sejak tadi pusat perhatiannya kepada foto Gia yang terpampang di layar ponselnya.
"Saya yakin jika Pak Balin bertemu dengan sosok yang kami maksudkan maka_____"
"Saya sudah menikah dan sangat mencintai istri saya jadi singkirkan pikiran Bapak yang mengatakan saya ikut terpincut!" Spontan saja Balin memotong padahal Kelvin belum usai berucap.
Kelvin manggut-manggut, ia belum tahu bahwa Balin sudah menikah. Sedangkan Putra menggelengkan kepala karena merasa lucu. Bahwa sosok yang sebenarnya dibicarakan itu adalah istrinya sendiri.
"Baguslah jadi ada kesempatan bagi saya!" Sambut Kelvin dengan senyuman sumringah karena ia sadar kalah tampan dari Balin. Tapi dari hati kecilnya mengatakan jika Balin bertemu Gia, ia yakin dia akan tertarik.
Hmm
Balin hanya berdehem menanggapi.
"Sebenarnya saya menawarkan untuk ikut serta dengan kami tapi beliau menolak," ujar Kelvin sedikit kecewa pada saat Gia menolak ajakannya.
Ssst
Desis Putra ketika mendengar penuturan Kelvin. Andai saja Gia ikut maka ada kesempatan besar untuk merek bertemu. Tapi kembali lagi, andai Gia tahu dengan perusahaan yang bekerja sama mungkin Gia akan berhenti dari tempatnya bekerja. Itulah yang ada dalam benak Putra.
"Ada apa dengan mu Putra?" tanya Balin ketika melihat dan mendengar Putra bergumam.
"Tidak Pak. Saya hanya kecewa saja setelah mendengar penuturan Pak Kelvin. Andai saja sosok si primadona kantor ikut, ada kesempatan untuk kita bertemu!" Papar Putra dengan asal.
"Sabar Pak Putra, ada saatnya," sahut Kelvin.
"Hmm saya masih ada pekerjaan. Jika begitu lanjutkan perbincangan tidak penting ini bersama asisten saya Putra," ujar Balin karena ia rada menghabiskan waktu saja untuk membahas hal yang tidak penting, dan tidak menyangkut dengan urusan kantor. Itulah sosok acuh seorang Balin Azura ketika di tinggal pergi oleh sang istri.
"Baiklah! Kami juga akan segera kembali ke hotel. Sampai bertemu kembali satu bulan ke depan!" Ujar Kelvin sembari bangkit dari kursinya.
Mereka kembali berjabat tangan. Menyudahi pertemuan tersebut dengan perasaan lega karena dapat menjalin kerja sama untuk pertama kalinya.
Yang sangat menguntungkan bagi perusahaan JAYA MAJU karena dapat menjalin kerja sama dengan perusahaan tenar.
Ssst
Tiba di ruangannya Balin langsung melemparkan tubuh lelahnya di atas sofa. Ia rebahan di atas sofa panjang.
Pandangannya ke langit-langit ruangan tersebut. Ruangan yang ia ketahui di rancang oleh istrinya Gia.
"Sayang aku sangat merindukanmu. Sudah cukup kamu bersembunyi," lirih Balin dengan mata berkaca-kaca.
Sudah satu tahun lamanya mereka tidak bertemu. Tapi tidak menyusutkan niatnya untuk mencari keberadaan Gia. Tapi takdir baik belum berpihak padanya hingga sampai detik ini.
Lelah berpikir ia pun terlelap, kebetulan usai pertemuan dengan klien barusan tadi jadwalnya kosong hingga waktu pulang kantor.
__ADS_1
***
Drrrtt
Entah sudah berapa kali ponsel di atas nakas samping ranjang bergetar tapi sama sekali tak mengusik tidur nyenyak Gia. Hingga getaran yang terakhir berhasil membangunkannya.
Eump
Gia bergumam masih dengan mata terpejam. Sangat berat untuk membuka mata, seakan tidurnya belum cukup padahal sekarang terik matahari sudah memancarkan sinarnya.
Hah....
Seketika Gia terlonjak kaget ketika pandangannya ke jendela kamar yang sudah terang benderang. Ia pun langsung bangun dengan buru-buru.
"Ya ampun aku bangun kesiangan. Bagaimana ini? padahal pagi ini akan ikut meeting dengan perusahaan penting," celoteh Gia masuk ke kamar mandi.
Tanpa berlama-lama lagi ia segera menyudahi ritual mandinya. Anggap saja ia mandi dengan bersih seperti biasanya. Inilah sulitnya jika tidak ada Bi Ani karena wanita paruh baya tersebutlah yang sering membangunkannya.
Gia segera menggenakan pakaian kantor. Merias natural wajahnya. Merasa sudah cukup ia meraih tas kantor dan kucing sepeda motor.
Ia keluar dan tidak lupa mengunci pintu. Menyalakan sepeda motor dan segera meluncur. Sepanjang jalan ia berdoa agar tidak terjebak macet.
Hari ini ia bernasib baik karena tidak terjebak macet seperti hari biasanya. Tiba di kantor ia segera memasuki lobi dengan berlari kecil.
"Iya Pak. Saya sudah terlambat," sahut Gia sembari berjalan.
Huh.... huh....
Nafasnya memburu masuk kedalam ruangan. Melihat kedatangan Gia membuat Nia segera beranjak mendekati Gia. Sejak tadi ia menghubungi tapi tak ditanggapi.
"Kamu terlambat. 5 menit yang lalu Pak Guntur mencari mu. Katanya CEO dari perusahaan yang menjalin kerja sama telah berada di ruang meeting. Segeralah menyusul karena kedatangan kamu sangat ditunggu-tunggu," ucap Nia.
"Aduh bagaimana ini," keluh Gia sembari mencari bahan pembahasan dalam meeting karena ia ditunjukan sebagai juru bicara.
"Tenang Bu Gia. Duduk sebentar, dan minum dulu. Merasa sudah tenang baru beranjak. Hmm kata teman-teman CEO nya sangat tampan, sayangnya aku tak sempat lihat. Bahkan ketampanannya mengalahkan Pak Kelvin," cicit Nia panjang lebar.
"Plis Bu Nia, jangan bahas soal yang tidak penting. Aku lagi kesulitan bagaimana untuk menjelaskan keterlambatan ini." Ya Gia merasa khawatir dan panik.
"Semangat primadona kantor! Ibu Gia pasti bisa. Ssst dan aku yakin sang CEO tampan itu terpesona dengan Bu Gia yang cantik ini dan mendapat gelar primadona kampus!" Hibur Nia.
Gia menggeleng
Merasa cukup tenang Gia pun beranjak keluar. Berjalan menuju ruang meeting.
Di ruang meeting
__ADS_1
Berkali-kali Kelvin mengucapkan kata maaf kepada Balin karena membuatnya menunggu. Sudah 15 menit berlalu tapi sosok yang mereka tunggu tak kunjung datang.
"Jika tahu begini jadinya, aku tidak akan sudi mewakili pertemuan ini! Batin Balin dengan raut wajah datar. Ia ingin mengumpat tapi di sini banyak orang, dan bagaimanapun ia harus profesional.
Sebenarnya ia menyuruh Putra untuk mewakili Pertemuan ini. Tapi Putra tiba-tiba minta cuti selama dua hari, dikarenakan ada urusan keluarga. Mau tidak mau dia sendiri yang datang.
Dan sekarang ia mengumpat Putra karena bertepatan dengan jadwal pertemuan dia minta cuti pula.
"Pak Guntur hubungi sekali lagi!" Titah Kelvin kepada Guntur untuk menghubungi Gia karena beberapa menit yang lalu Guntur pergi ke ruangan Gia tapi sosok itu belum juga tiba di kantor.
Guntur pun melakukan seperti yang diperintahkan. Tapi raut wajahnya dapat membuktikan jika Gia tak kunjung di jawab.
"Tidak dijawab Pak!" Ujar guntur kembali meletakan ponselnya di atas meja.
"Kenapa sih Bapak memilih dia? dia memang tidak bisa diandalkan!" Ucap seorang wanita yang ikut meeting. Dari kalimat bicaranya menandakan dia tidak menyukai Gia.
"Ini ruang meeting Bu Rini!" Sela Guntur menekankan.
Wanita bernama Rini tersebut mengepalkan tangan di bawah meja. Ia menaruh hati dengan Kelvin tapi sayangnya ia tak berhasil karena seperti yang di rumorkan karyawan kantor bahwa Kelvin menyukai Gia.
Balin mendesah karena harus mendengar kalimat yang kurang sopan didalam ruang meeting. Ia dapat menyimpulkan bahwa wanita bernama Rini itu merasa iri atau kurang saingan.
"Saya tunggu 5 menit lagi. Jika belum kunjung juga tiba, batalkan pertemuan menjadi besok!" Balin berujar tanpa harus di bantah.
KLEK
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Gia menunduk tanpa berucap karena lidahnya keluh, tahu bahwa ia bersalah dalam hal ini.
Semua dalam ruang meeting merasa lega, kecuali Balin dan juga Rini. Balin jangan ditanyakan lagi. Pria itu sama sekali tak mengubah tatapannya kepada laptop yang nyala di atas meja. Ia tidak peduli dengan sosok yang sejak tadi ditunggu-tunggu.
Bahkan ia mengumpan karena sodok yang menjadikan perusahaan ini maju tapi lihatlah sekarang dia tidak bisa membagi waktu. Padahal ini adalah pertemuan yang sangat penting.
Gia berjalan dengan kepala menunduk. Duduk di kursi bagian ujung, bertepatan berhadapan dengan tempat duduk Balin. Katakanlah mereka duduk dengan posisi berhadapan dengan jarak lima orang dari sisi kanan dan kiri.
"Ibu perkenalkan ini adalah Balin Azura CEO dari perusahaan BB GROUP. Perusahaan yang menanam saham sebesar 50℅!"
"Pak Balin Azura perkenalkan ini adalah Ibu Gia yang menjadi juru bicara dalam meeting hari ini!"
DUARR
Bersambung.....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan vote like favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi
__ADS_1