Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 79. Bertanggungjawab


__ADS_3

Papi bersama Gia tak menyangka di undang oleh Putra untuk makan malam. Selama Putra bekerja untuk keluarga mereka, baru kali ini mereka di undang untuk makan malam.


Sejak tadi hingga dalam perjalanan Gia kekeh bertanya ada apa kepada suaminya, tapi tidak dapat menjawab karena Balon juga tidak tahu pasti mengapa mereka di undang secara tiba-tiba. Bukankah pagi tadi asistennya itu minta izin tidak masuk kerja.


Di sebuah restoran Putra, Rika dan Mami Maya sudah standby 10 menit yang lalu, lebih dulu dari tamu yang mereka undang.


Kaget? tentu saja Mami Maya merasakan itu, dimana Putra mendatangi kediaman mereka, memberitahukan bahwa dialah Ayah dari janin yang ada dalam kandungan Rika.


Mami Maya tidak habis pikir katena ia tahu bahwa Rika bersama Putra tidaklah begitu dekat, hanya sebatas pekerjaan. Tidak ingin menebak-nebak ia tunggu malam ini apa yang sebenarnya terjadi.


Di ruang tertutup ketiganya banyak diam. Rika hanya bisa menunduk sembari memainkan jari jemarinya. Pertemuan dengan orang tua Putra dan juga Gia membuatnya tidak tenang. Sementara Mami Maya hanya bisa melamun, dari lubuk hati yang terdalam ia bekum siap untuk bertemu suaminya.


"Tenanglah!" Ujar Putra kepada Rika seakan sadar dengan bahasa tubuh wanita yang sebentar lagi akan sah menyandang seorang istri dan Ibu bagi calon buah hatinya, sembari menggenggam tangan Rika.


Rika hanya bisa mengangguk dengan senyuman kecil.


Hmm


Deheman di ambang pintu membuat ketiganya mendongak, dengan spontan Rika melepaskan genggaman tangan Putra pada tangannya.


"Pa, Ma," sapa Putra sembari berdiri.


Kedua orang tua Putra terdiam, melihat sosok Mami Maya dan juga Rika sedang bersama putra mereka.


"Bu Maya, Nak Rika!" Sapa Mamanya Putra, yang pastinya sudah saling mengenal.


Rika maupun Mami Maya mengangguk sebagai balasan sapaan tersebut.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Papanya Putra.


"Sebentar Pa karena masih ada lagi yang mau di tunggu," ujar Putra.


"Siapa?" tanya Mamanya.


"Keluarga Pak Bahtiar!" Sahut Putra.

__ADS_1


Kedua orang tua Putra saling memandang dengan dahi mengerut. Mereka tidak tahu apa yang menyebabkan Putra mengundang makan malam bersama keluarga Bahtiar.


Perhatian Mamanya Putra ke Rika yang kebetulan duduk dihadapan mereka. "Kamu hamil Nak Rika?" pertanyaan Mamanya Putra membuat Rika membeku. Tidak tahu harus menjawab apapun. Usia kehamilannya memang memasuki 8 minggu tapi perutnya terlihat membesar.


"Mami, Rika!" Seruan dari ambang pintu ruangan tersebut mengalihkan perhatian mereka yang awalnya kepada Rika. Dengan sangat kaget Gia mendapati sosok yang kemarin ia temui.


Sementara Papi Bahtiar hanya bisa membeku melihat wanita yang masih berstatus istrinya sedang memandang ke arahnya.


Gia dan juga suami serta sang Papi diam sesaat karena di sana ada juga kedua orang tua Putra. Banyak pertanyaan yang ingin mereka tanyakan. Sebenarnya ada apa ini.


"Bagaimana kabar kalian?" suara bariton yang sangat dihafal oleh Mami Maya membuatnya mengangkat wajah karena sejak tadi ia hanya menunduk saja.


"Seperti yang Papi hmm maksudku anda lihat," sahut Mami Maya gugup.


Suasana menjadi dingin, semuanya tahu bagaimana masalah yang dihadapi keluarga Bahtiar. Tidak ingin suasana menjadi aneh Gia berinisiatif memecahkan keadaan menjadi nyaman dengan menanyakan langsung apa yang menyebabkan Putra mengundang mereka.


"Putra apa yang ingin kamu bicarakan? hmm bagaimana bisa kamu menemui Mami dan juga Rika?" tanya Gia langsung ke pembahasan.


"Bagaimana jika kita pesan makanan dulu Bu Gia?" ujar Putra.


Gia menggeleng tidak setuju karena ia mati penasaran. "Katakan saja agar makan malam ini begitu nikmat, aku menjadi mati penasaran," ucap Gia menolak usulan Putra. "Hmm Rika bagaimana calon keponakanku?" imbuhnya beralih kepada Rika yang duduk bersebelahan dengan Putra.


"Silahkan Putra!" Desak Gia yang tak dapat terbantahkan.


"Sayang sabarlah." Balin menenangkan sembari mengusap punggung tangan Gia.


Putra menarik nafas dalam-dalam, menegakkan tubuhnya dengan kedua tangan terlipat.


"Maaf sebelumnya membuat Pak Bahtiar dan keluarga serta kedua orang tua ku kaget dengan acara makan malam ini. Aku akan menikahi Rika karena anak yang ada dalam kandungan Rika adalah darah daging ku!" Ungkap Putra langsung pada intinya.


DEG


"Apa???" sentak Gia dan Mamanya Putra setelah mendengar pengakuan Putra. Sementara para pria menegakkan tubuh mendengar pengakuan Putra.


"Kami telah melakukan____" Putra menceritakan apa yang terjadi dua bulan yang lalu. Hingga mencari keberadaan Rika selama ini.

__ADS_1


"Kamu harus tanggungjawab Putra. Aku tidak ingin keponakanku lahir tanpa sosok Ayah!" Ancam Gia serius. Ada senang bahkan sedih mendengar kabar itu.


Putra maupun Rika saling memandang.


"Dasar anak kurang ajarr berani menghamili anak gadis orang! Mama tidak menyangka jika kamu cukup liar Putra!" Seru Mamanya Putra setelah mendengar cerita Putra. Wanita paruh baya tersebut beranjak dari tempat duduknya, lalu duduk di sebelah Rika. "Atas nama Putra, Mama minta maaf Nak Rika," lirihnya sembari memeluk Rika dengan mata berkaca-kaca.


"Ini bukan sepenuhnya kesalahan Putra Tante," lirih Rika tidak dapat membendung air matanya lagi. Ia terharu karena dirinya diterima dengan lapang dada.


"Mama jangan panggil Tante lagi," ucapnya. Rika hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya.


Keduanya menguraikan pelukan mereka. "Bagaimana keadaan cucu Oma?" tanyanya sembari mengusap perut Rika.


"Bagaimana mereka tahu Tante, selama ini Rika tidak pernah memeriksakan kandungannya," bukan Rika yang menjawab tapi Gia.


"Kenapa?" wanita paruh baya itu menatap putranya dengan tajam.


"Maaf Ma, bukankah sudah aku ceritakan bahwa aku juga baru mengetahui kabar ini," papar Putra seakan paham dengan tatapan Mamanya itu.


Semuanya hanya bisa menghela nafas.


"Kalian segera di sahkan. Papa tidak ingin calon cucu pertama kami lahir tanpa seorang Ayah. Atas perbuatan Putra Kami minta maaf Pak Bahtiar dan Ibu Maya," ujar pria paruh baya yang sejak tadi hanya menyimak saja. Awalnya pria ini murka atas perilaku Putra tapi mendengar penjelasan antara Putra dan juga Rika ia dapat memakluminya.


"Tidak ada yang perlu disalahkan Pak Simon, kedua anak-anak kita sama-sama salah. Yang terpenting Putra mempertanggungjawabkan atas perbuatannya. Hmm bukankah begitu Mi?" ujar Papi dan minta pendapat Mami Maya.


DEG


Bukan hanya Mami Maya saja yang tersentak kaget tetapi Rika.


Mami Maya menatap suaminya yang sejak tadi tidak berani dia tatap. Ia sangat terenyuh karena pria yang masih sah suaminya itu masih menghargai keputusannya.


"Putra maupun Rika sama-sama salah. Terima kasih Putra kamu mau mempertanggungjawabkan dan menerima Rika dengan tulus. Jangankan kalian semua, aku saja baru mengetahui kehamilannya itu," ucap Mami Maya dengan mata berkaca-kaca.


Papi terpaku mendengar permintaan maaf serta kelembutan nada bicara Mami Maya. Bukankah wanita yang ia kenal itu sangat pelit dengan permintaan maaf, tapi lihatlah sekarang sungguh banyak perubahan.


Bersambung....

__ADS_1


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan vote like favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2