Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 75. Kabar Mengejutkan


__ADS_3

"Hamil? bagus dong Mi. Gia saja sampai saat ini belum dikarunia," ucap Gia dengan raut wajah berseri-seri karena mendengar pengakuan bahwa Rika sedang hamil. Tapi tidak lama raut wajahnya menjadi tegang ketika pikirannya ke arah lain. "Hmm apa kamu sudah menikah?" tanya Gia kepada Rika.


"Belum. Bahkan Mami baru tahu sebelum kamu datang, entah siapa bayi yang ada dalam kandungannya Mami juga tidak tahu." Bukan Rika yang menjawab tapi Mami Maya dengan dada begitu sesak mendapati putrinya hamil diluar nikah.


"Apa?" gumam Gia dengan mata membulat.


"Hiks.... hiks...." Tangis Rika kembali pecah, bahkan spontan begitu saja memeluk Gia.


Gia membeku, tidak bisa mengatakan apapun saat ini. Ia membalas pelukan Rika sembari mengusap pundaknya yang tergoncang.


Gia menghela nafas berat. Dengan masalah yang dihadapi Rika tentu saja membuatnya ikut merasakan apa yang dirasakan Mami Maya.


"Katakan siapa Ayah bayi yang kamu kandung Rika?" tanya Gia dengan nada selembut mungkin.


"Percuma kita tanyakan karena dia tak punya mulut lagi!" Ucap Mami Maya karena sudah kesal melihat Rika tak kunjung memberitahu siapa Ayah bayi yang ada dalam kandungannya itu.


"Katakan Rika biar aku dapat membantu!" Kini suara Gia tak selembut sebelumnya, ia sengaja meninggikan intonasi nadanya.


Rika hanya bisa menangis tanpa ingin memberitahu siapa sosok yang menanamkan benih dalam rahimnya tersebut. Rika belum siap karena kejadian dua bulan yang lalu adalah kesalahannya sendiri.


Gia menghela nafas panjang. Ia paham dengan diamnya Rika. Berarti kehamilan Rika tidak diinginkan, entah bagaimana kronologinya. Untuk saat ini Gia tidak ingin memaksa Rika untuk menceritakan apa yang terjadi yang sebenarnya. Ia akan mencari tahu sendiri dan minta bantuan suaminya untuk mendalami masalah yang dihadapi Rika.


"Baiklah, aku tidak memaksa untuk kamu cerita. Yang terpenting jaga kandungan mu, jangan stres. Hmm apa sudah diperiksa ke dokter?"


Rika menggeleng pelan.


"Aku akan menemanimu untuk periksa kandungan mu. Apa kamu berminat?" tanya Gia sangat berharap.


Rika kembali menggeleng sebagai jawabannya.


"Mau mu apa Rika? hah?" seru Mami Maya dengan nada meninggi.


"Tenang Mi," sela Gia sembari menenangkan wanita yang selama ini tak pernah peduli kepadanya.


"Mami malu Gia, sangat malu. Apakah ini karma atas keserakahan Mami kepada mu dan juga almarhum Mami mu?" lirih Mami Maya sembari menangis tersedu-sedu dihadapan Gia.


Gia menggeleng bahwa apa yang dilontarkan Mami Maya tidaklah benar. Ingin sekali ia berkata tetapi lidahnya begitu keluh untuk melontarkan sepatah kata karena ia juga ikut mencurahkan air mata.


Beberapa menit kemudian Gia menegakkan tubuhnya. Sudah merasa tenang, ia melirik Rika dan Mami Maya. "Ikut Gia pulang Mi," ucap Gia.

__ADS_1


Mami Maya menggeleng, menolak ajakan Gia karena semua itu tidaklah mungkin terjadi. Bagaimana mungkin mereka akan kembali ke kediaman keluarga Bintang setelah pernah diusir begitu tidak hormat.


"Papi tidak akan marah, percayalah!" Papar Gia katena tahu bahwa yang mengusir mereka adalah Papinya.


"Tidak Gia, Mami tidak bisa. Hmm bagaimana kabar Papi?" ucap Mami Maya dengan bibir bergetar.


Gia menghela nafas. "Sekarang sudah lebih membaik, sebelum Gia kembali kesehatan Papi cukup memprihatinkan," ungkap Gia. "Mungkin dengan kepulangan Mami sama Rika maka kebahagiaan Papi semakin sempurna," imbuhnya dengan tatapan sendu.


Mendengar penuturan Gia, Mami Maya bungkam karena jujur saja perasaannya begitu hancur karena pria yang sangat dicintainya sampai detik ini mengalami masalah kesehatan.


Ingin sekali ia bertemu tapi itu tidak akan mungkin, mengingat bagaimana pria itu mengusirnya dari rumah.


Selama satu tahun itu mereka tidak pernah menjalin komunikasi melalui apapun, seakan mereka tinggal beda negara.


"Suatu saat Gia akan membawa Mami dan juga Rika. Baiklah Gia akan pulang, ingat apapun masalah yang dihadapi Mami dan juga kamu Rika jangan sungkan memberitahukan kepada ku," ucap Gia dengan bibir tersenyum, tetapi hatinya miris melihat kehidupan Ini sambung dan juga Adik tirinya yang berubah drastis.


"Terima kasih Gia," lirih Mami Maya kembali memeluk Gia.


Gia mengangguk. "Hmm ini untuk keperluan Mami dan juga Rika." Gia memberikan sebuah amplop tebal yang tentunya berisi uang.


Mami Maya tak kunjung menerima pemberian Gia. Ia menggelengkan kepala, dengan inisiatif sendiri Gia meletakan amplop tersebut di tangan Mami Maya. Setelah itu ia bergegas berjalan keluar rumah.


"Terima kasih Gia," teriak Mami Maya dari dalam rumah dengan mata berkaca-kaca.


Menjelang malam


Usai makan malam Gia, Balin dan juga Papinya melanjutkan obrolan di ruang keluarga. Gia harus membicarakan masalah Rika kepada suami dan juga Papinya karena mereka belum tahu jika seharian tadi dirinya bertemu dengan Mami Maya dan juga Rika.


"Sayang apa yang ingin kamu bicarakan?" Balin mulai membuka obrolan.


"Sebelumnya Gia minta maaf karena tidak terlebih dahulu memberitahu. Hmm Gia sudah menemukan keberadaan Mami dan juga Rika," ucap Gia dengan tatapan lekat kepada Papinya.


DEG


Papi melebarkan matanya ketika mendengar apa yang dikatakan Gia. Ia tak pernah tahu jika Gia diam-diam mencari keberadaan istri dan juga putri sambungnya itu.


"Mereka tinggal di sebuah gang kecil. Sudah Gia ajak kembali ke rumah tapi Mami menolak," ungkapnya dengan mulut cemberut karena sudah gagal membujuk mereka.


"Sayang kenapa kamu pergi tidak mengajak ku?"

__ADS_1


"Karena hari ini jadwal kamu padat. Maaf ya?" sahut Gia begitu menghormati Balin.


"Tidak masalah sayang." Balin mengelus rambut panjang milik Gia dengan penuh cinta.


Sedangkan Papi hanya diam saja ketika mendengar sosok yang selama ini menemaninya kembali dibahas.


Gia maupun Balin saling menatap dengan sorot mata penuh tanya melihat diamnya orang tua mereka.


"Selamat malam Pak!" Tiba-tiba keheningan beberapa saat tadi kembali normal ketika kedatangan Putra.


"Malam Putra!" Balas Balin.


"Ini dokumen yang Bapak minta," ujar Putra sembari meletakan dokumen penting itu di atas meja sofa.


Balin mengangguk. "Duduklah dulu, minum teh hangat. Lagi pula ini adalah malam minggu, hmm atau kamu ada janjian?" ujar Balin.


"Tidak ada Pak, " jawab Putra sembari duduk di sebelah Papi.


"Minum dulu Putra," Gia mempersilahkan Putra untuk minum teh dan ada sedikit cemilan yang menemani obrolan mereka.


"Terima kasih Bu," balas Putra.


"Hmm Papi baik-baik saja?" tanya Gia ketika mendapati pria paruh baya tersebut hanya diam saja sejak tadi, bahkan sekedar menyapa Putra saja lidahnya keluh.


"Papi bsik-baik saja sayang. Hmm kalian lanjutkan saja, Papi sudah mengantuk," ujar Papi bohong karena ingin menenangkan dirinya.


"Ada yang ingin Gia bicarakan Pi," ucap Gia hingga mengurungkan niat Papi ingin bangkit. "Ini masalah Rika!" Imbuhnya yang berhasil membuat Putra tersedak ketika menyesap teh nya.


"Ada apa Putra? apa teh buatanku tidak enak?" tanya Gia sembari melirik Putra.


"Bukan begitu Bu," sahut Putra tidak enak hati dengan pertanyaan tersebut.


"Ada apa dengan Rika?" tanya Papi sedikit penasaran.


Gia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengatakan. "Rika hamil!"


DEG


Bersambung....

__ADS_1


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2