
Jika dikatakan sebagai seorang pengganggu Diqi sudah menyandang predikat itu sejak dulu, namun dia tidak pernah mengira jika dia mengganggu seorang Shean akibatnya akan patal.
Sebenarnya Diqi tidak tau apa salahnya dan apa penyebab Shean selalu dingin kepadanya walaupun sebenarnya memang selalu seperti itu. Tapi setelah beberapa hari yang lalu Diqi datang kekamar Shean dengan membawakan makanan kesukaan Lira, Shean jadi semakin sinis saja dengannya. Dan bahkan jika tatapan dapat membunuh, Diqi mungkin sudah tinggal nama karena ditatap Shean.
"apa aku mengganggu pekerjaannya waktu itu?" Diqi bertanya pada dirinya sendiri.
"tapi waktu itu dia sedang tidak melakukan apa apa malah Lira yang duduk dikursi kerjanya" monolognya lagi.
Entah Diqi tidak peka atau apa dia secara tidak sengaja memang mengganggu 'kegiatan' Shean.
"oh kak Shean, sudah pulang?" tanya Diqi antusias.
Alih alih mendapat jawaban dari Shean dia malah dapat tatapan dingin dan menusuk, bahkan tubuhnya seakan berlubang ketika Shean menatapnya seperti itu. Kemudian Shean berlalu meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"kak Shean sudah biasa dingin, tapi kenapa aku merasa berbeda" Diqi bergidik ngeri.
Diqi memang sedang berada diruang tamu yang dekat dengan pintu masuk, jarang ada yang berdiam diri disana kalau bukan untuk menyambut tamu. Jadi sekarang dia sedang sendirian dengan raut wajahnya yang rumit.
"kau kenapa?" tanya Bym yang memang sengaja menghampiri Diqi karena dia melihat ada raut kebingungan diwajah Diqi.
"oh Bym, ada apa?" Diqi malah balik bertanya.
Bym duduk disofa tunggal disamping sofa panjang yang diduduki Diqi.
"tidak. tapi kenapa wajahmu terlihat prustasi?" tanya Bym santai.
Diqi menghela nafas " hah.. entah lah Bym. hanya saja beberapa hari ini kak Shean seakan dingin kepadaku".
"bukannya memang biasa?" tanya Bym "kak Shean memang bersikap seperti itu kesemua orang. Aku bahkan tidak mengerti kenapa Lira bisa tahan dengan sikapnya" lanjut Bym.
"memang sudah biasa sih. tapi akhir akhir ini agak beda aja"
"bedanya kayak gimana?" tanya Bym.
"yak begitu lah" Diqi juga tidak tau apa bedanya, hanya dia ngerasa seperti itu saja.
"kau ada melakukan salah gak ke kak Shean?" tanya Bym, dia sepertinya memang cukup penasaran juga.
"aku tidak tau" jawab Diqi "ah tau lah" Diqi terlihat menyerah.
"mending begini saja. coba kau tanya ke kak Shean, atau minta maaflah ke dia walaupun gak tau salah kamu apa" saran Bym.
"begitukah?"
Bym hanya mengangguk mengiakan.
__ADS_1
Diqi beranjak dari duduknya dan berniat ke kamar Shean untuk meluruskan semuanya.
☆☆☆
Lira sedang duduk di samping tempat tidur memainkan ponsel pintarnya. Dia sudah mandi dan juga wangi tentunya, tapi Lira terlihat bosan dengan kegiatannya. Dia mematikan ponselnya dan turun dari tempat tidur, kemudian berjalan menghampiri meja didekat sofa lalu mengambil sesuatu dibawahnya.
"ternyata masih ada" monolognya dan membuka bungkusan kecil berbentuk Love itu.
Ternyata itu adalah bungkusan coklat yang tinggal tersisa beberapa biji lagi.
Diqi yang memberikannya waktu itu dan Lira dengan senang hati menerimanya. Lira duduk disofa dan menikmati camilan sorenya sebelum terdengar pintu kamar mandi terbuka. Shean keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melingkar dipinggangnya dan berjalan kearah Lira yang sedang duduk.
Melihat kondisi Shean yang setengah 'terbuka' itu membuat pipinya memanas, dan Lira sudah merasakan perasaan itu untuk beberapa hari kebelakang.
Setelah Shean sampai didepan Lira, dengan refleks Lira pun berdiri. Dan tinggi mereka benar benar terlihat kontras karena Lira hanya setinggi dagu Shean.
Shean tersenyum kecil dan mengusap lembut bibir Lira yang terdapat sisa coklat disana, kemudian dia menyesap jari yang digunakannya untuk menyentuh bibir Lira itu.
Lira sudah merona dan salting sendiri mendapat perlakuan itu dari Shean, namun dia berusaha mengontrolnya.
"k-kau sudah selesai, aku hanya mengambil coklat ini. Kalau begitu aku kembali ketempat tidur dulu" kata Lira gugup dan berniat beranjak dari hadapan Shean.
Namun tangan Shean mencegahnya dan malah memposisikan tangannya dipinggang ramping Lira, lalu menempelkan tubuh Lira ditubuhnya, sampai tidak ada jarak diantara mereka.
"Cantik" kata singkat yang keluar dari mulut Shean benar benar membuat jantung Lira berdetak sangat kencang, mungkin bisa didengar oleh Shean.
Shean mulai mendekatkan wajahnya pada leher putih Lira dan berhenti saat posisinya tinggal beberapa senti lagi. Lira bisa merasakan nafas Shean yang hangat menyentuh kulitnya.
"KAK SHEAN!" Suara cempreng itu membuat Shean menghentikan kegiatannya.
"oh kak sedang apa?" Diqi tiba tiba berada didepan pintu kamar dan itu membuat Lira refleks mendorong tubuh Shean menjauh, dan dirinya yang langsung salah tingkah.
Pintu kamar memang setengah terbuka membuat Diqi tidak perlu repot repot mengetuk pintu dan tanpa ragu langsung membukanya, tapi mungkin dia kini sedang merutuki perbuatannya.
"ada apa?" tanya Shean dengan suara yang benar benar membuat bulu kuduk Diqi merinding seketika.
"ah- itu-gini-" tiba tiba Diqi malah gugup sendiri.
"cepat katakan!" perkataan Shean yang penuh penekanan dan perintah membuat otaknya blank dan lupa akan tujuannya menemui kakak sepupunya itu.
"kalau tidak penting, cepat pergi!" lagi lagi Diqi merasa ngeri dengan aura yang keluar dari Shean.
"ah ia kalau begitu aku pergi dulu kak" Diqi berlalu pergi dengan perasaan ngeri yang masih menyelimutunya. Dan dia tidak jadi menyampaikan maksudnya.
Kali ini Diqi sungguh merasa akan ditikam oleh tatapan tajam Shean.
__ADS_1
☆☆☆
"bagaimana sudah bicara?" tanya Bym.
Bym memang sudah menunggu Diqi diruang keluarga.
Diqi tidak menjawab apa apa, dia hanya duduk disamping Bym dan menampilkan ekspresi horor yang sangat kentara.
"ada ap-"
"sepertinya sekarang aku benar benar akan tinggal nama" kata Diqi dengan tatapan kosongnya.
"memangnya kak Shean mengatakan apa?" Bym mulai merasa khawatir.
"dia tidak mengatakan apa apa. Hanya saja aku mengerti kenapa dia beberapa hari ini bersikap seperti itu padaku" jawab Diqi dan masih pada posisinya.
"apa?" Bym benar benar penasaran, pasalnya kalau pun Shean seseorang yang irit bicara. Shean tidak mungkin sampai bisa menguliti seseorang karena tatapannya.
Dengan tatapan yang masih kosong dan raut wajah horornya, Diqi mulai menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu dan beberapa saat lalu yang membuat lututnya lemas seperti melihat hantu (hantu ganteng kali).
Raut wajah Bym sulit dimengerti ketika dia mendengar semua penjelasan Diqi, namun setelah Diqi selesai bercerita...
HAHAHAHAHAHA
Suara tawa Bym sangat menggema dan menggelegar tanpa dikontrol, sampai Key yang kebetulan lewat pun, berjalan menghampiri mereka berdua.
"ada apa?" tanya Key.
Namun tidak ada jawaban dari Diqi maupun Bym. Diqi yang menatap horor Bym dan Bym yang masih tertawa terbahak bahak sambil memegang perutnya.
"hahhah.. aduh perutku" Bym kembali tertawa.
Sedangkan Key sedang bertanya tanya kenapa adiknya tertawa seperti itu, seperti baru menonton komedi saja.
"ada apa, kenapa kau tertawa segitunya?" tanya Key yang sudah sangat penasaran.
"tanyakan saja padanya!" Bym menunjuk Diqi, kemudian Key menatap Diqi penuh tanya.
Diqi pun menghela nafasnya dalam dan mulai menceritakannya lagi ke Key. Dan reaksi Key tidak jauh berbeda dengan Bym setelah dia mengerti inti pembicaraannya.
"kau memang cari mati Diq" hanya itulah yang bisa keluar dari mulut Key sebelum dia kembali tertawa puas.
"aku saja tidak berani mengganggunya saat sedang tidak melakukan apa apa, tapi kau malah mengganggunya saat- hahahha.." Bym kembali menertawakan kebodohan sepupunya itu.
Akhirnya sore itu dihiasi dengan suara tawa lepas dari kedua bersaudara yang tidak mempedulikan perasaan sepupunya yang sedang merasa tertekan.
__ADS_1