Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode 81. Hadiah Terindah


__ADS_3

Delapan tahun kemudian


Pukul enam pagi, sayup-sayup terdengar suara seseorang sedang muntah di dalam kamar mandi. Dengan kepala berat Balin berusaha bangun, matanya pun masih sulit untuk di buka.


Perlahan dia membukakan matanya, melirik ke kanan kiri, namun tidak mendapat sosok yang dicarinya. Biasanya Gia akan membangunkan dirinya, dan akan mandi bersama.


Sekali lagi suara itu menganggu pendengarannya hingga membuat Balin memutuskan masuk ke dalam kamar mandi, untuk mengecek siapa yang muntah di kamar mereka karena selama ini Gia tak pernah seperti itu.


Seketika dia kaget mendapati Gia yang sedang mengelap mulutnya dengan wajah pucat pasi.


"Sayang, ada apa? Kamu sakit?" dengan rasa cemas Balin mendekap tubuh Gia.


"Entahlah, tiba-tiba aku mual dan akhirnya keluar semua. Sayang, tolong bawa aku keluar, kepalaku pusing," lirih Gia dengan mata terpejam, pengelihatannya berputar.


Balin pun menggendong dengan perasaan khawatir karena sekujur tubuh Gia dingin sekali, dan keringat pun bercucuran.


Gia dibaringkan, sementara Balin mengusap keringat yang membasahi wajahnya. "Sayang, kita harus ke rumah sakit, ini tidak bisa diberikan. Wajahmu pucat sekali." Ya, Balin memutuskan harus segera ke rumah sakit, untuk segera ditangani sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


Gia menggeleng, memberi kode jika tidak perlu ke rumah sakit. Namun Balin tidak menuruti perintahnya karena dia benar-benar khawatir dengan kesehatan istri tercinta. Apa lagi tiba-tiba begini, padahal semalam baik-baik saja.


"Sayang, mau bawa aku ke mana?" Gia sontak kaget dan berusaha membuka matanya ketika tubuhnya kembali digendong ala bridal.


"Ke rumah sakit." Balin menjawab sewajarnya saja dengan raut wajah cemas.


Gia terbaring dengan kepala beralaskan pada pangkuan suaminya. Sementara yang nyetir adalah supir pribadi yang sewaktu-waktu mereka perlukan, contohnya saat ini.

__ADS_1


"Sayang, sabar ya? Sebentar lagi sampai." Balin menenangkan sembari mengecup dahi Gia, dan tangannya menggenggam tangan dingin Gia dengan mata berkaca-kaca karena tidak sanggup melihat Gia lemah seperti ini.


Gia terenyuh melihat betapa khawatirnya suaminya itu, padahal ini hanyalah sakit biasa yang belum tahu penyebabnya.


"Sayang, tenanglah. Aku tidak apa-apa kok, kamu saja yang berlebihan, sampai-sampai ke rumah sakit." Gia bergumam karena jujur saja rasa mual itu sangat menganggu.


"Apanya yang tidak apa-apa? Wajahmu pucat seperti kehabisan darah." Balin sekali lagi mengecup dahi istrinya dengan penuh cinta.


Lima belas menit mereka tiba di rumah sakit. Gia pun langsung mendapat penanganan. Balin ikut masuk ke ruangan karena memaksa ingin menemani pada saat pemeriksaan Gia.


Dengan perasaan cemas dia menunggu hasil pemeriksaan itu. Bahkan dibandingkan dengan Gia yang sakit, Balin yang paling khawatir.


Balin mengerutkan dahi melihat dokter yang memeriksa Gia tersenyum lebar. Dalam pikirannya jika dokter itu sudah tak waras, walau dia mengenali dokter itu cukup dekat.


"Dokter Anita, apa yang membuat Anda tersenyum?" tanya Balin dengan rahang mengeras karena di saat istrinya sakit, ada orang yang tersenyum seperti itu.


"Istriku lagi sakit dok, namun Anda sangat bahagia dengan hasil pemeriksaan Anda." Tentu saja Balin tak Terima dengan pernyataan dokter Anita.


"Sayang," Gia menggelengkan kepala untuk memperingati Balin agar tak melanjutkan perdebatan tanpa kejelasan itu.


Mau tak mau Balin menurut, walau hatinya masih kesal.


"Dokter Anita, aku sakit apa sih?" lirih Gia yang masih dengan posisi berbaring.


"Selamat atas kehamilan Bu Gia!"

__ADS_1


Deg!


"Apa?" seru sepasang suami-istri itu sontak kaget, bahkan saking kagetnya mata ke-duanya melotot.


"Sesuai hasil periksaan manual. Bu Gia dengan keadaan berbadan dua, jika kurang yakin sebaiknya melakukan USG." Dokter Anita menjelaskan.


"Hamil? Aku hamil?" dengan bibir gemetar Gia mengusap perutnya yang masih rata.


Pantas saja sudah satu bulan dia telat menstruasi. Karena siklus menstruasinya tidak teratur, makanya Gia tidak curiga. Yang ada nntinya kecewa, karena pernah sekali kekecewaan itu dia dapatkan.


Gia pernah melakukan testpack sendiri karena pernah telat datang bulan, namun hasilnya membuat dia menangis, maka dari kejadian tersebut dia tidak mau terkecoh lagi.


"Benar dok? Benarkah istriku hamil?"


Dokter Anita mengangguk dengan perasaan haru, karena selama ini pasangan harmonis itu sudah lama menunggu kehadiran buah hati, dan kesabaran mereka terjawab juga hari ini.


Balin memeluk Gia, mengecup wajahnya bertubi. "Kamu hamil sayang, kamu hamil." Bisik balin dengan bahagia, hingga tetesan air mata kebahagiaan tak dapat dibendung lagi. Sepasang suami-istri itu saling menangis haru, menerima hadiah yang luar biasa.


Gia hanya bisa mengangguk, membalas perlakuan manis suaminya.


"Selamat datang baby, kehadiranmu sangat berarti bagi Papi dan Mami. Kehadiaranmu adalah hadiah terindah!" Balin mengusap dan mencium perut Gia sembari berbicara.


Sembilan tahun mereka menanti suatu keajaiban, hingga Gia menyerah beberapa kali. Namun cinta tulus Balin membuatnya kembali bangkit. Dan kini penantian panjang itu terjawab. Kesabaran dan ketulusan hati tidak pernah mengecewakan, jika Tuhan sudah berkehendak.


Bersambung....

__ADS_1


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2