Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Aku Menyayangimu


__ADS_3

"aku merasa bersalah" Lira menundukan pandangan, buliran air mata sudah mulai membasahi pipinya. Perasaannya salah, Shean berperilaku baik padanya hanya karena dia merasa bersalah. Itu lah yang dipikirkan Lira.


Shean tersenyum tipis, dan menangkup pipi Lira. Pandangan keduanya bertemu, Lira sudah menangis sedangkan Shean hanya bisa tersenyum hangat.


"aku merasa bersalah" ulang Shean "aku tidak-" perkataannya terpotong dengan Lira yang langsung memeluknya erat.


"jangan katakan!" suara Lira sedikit tidak jelas karena wajahnya yang terkubur dileher Shean "aku tidak ingin kau bilang kalau kau tidak mencintaiku" kata Lira.


Shean sendiri hanya tersenyum geli melihat Lira yang sangat sensitif seperti itu. Tidak biasanya, sebab Shean baru pertama kali melihat Lira menangis terisak. Karena pada dasarnya Lira orang yang cuek dan sering bicara apa adanya didepan Shean. Lira juga sering marah marah kecil, tapi untuk menangis? itu terdengar lucu. Apalagi saat melihatnya langsung.


Shean melepas pelukan Lira dan menangkup pipinya, menatap Lira kedalam matanya.


"jika aku bilang aku mencintaimu" jeda Shean "cinta bisa menghilang dan pergi..." kata Shean.


"lalu?" Lira penasaran dan sesekali menyeka air mata dipipinya.


"hanya perasaan sayang yang tidak akan hilang.. jadi aku hanya bisa bilang LIRA BROTO AKU MENYAYANGIMU..." Shean berucap yakin "dengan sepenuh hati" lanjutnya.


Lagi lagi air mata dimata Lira tumpah, dia kembali menangis. Namun sekarang adalah tangis kebahagiaan, dan dia tidak bisa membendung tangisnya walaupun jika dia mendengarnya ketika suasana hatinya baik. Karena Shean tidak pernah menyatakan perasaannya sejak mereka menikah. Shean hanya berperilaku lebih baik selama beberapa bulan terakhir dan mulai peduli kepadanya.


Lira senang? jelas, dia kembali memeluk Shean dengan erat. Tidak mempedulikan Shean yang baru saja pulang dari kantor, dan keringat yang masih menempel di badan tegap suaminya. Kali ini Lira tidak ingin cepat cepat melepas pelukannya, katakanlah Lira cengeng untuk saat ini. Karena dia sangat senang atas pernyataan Shean, yang membuat hatinya ber bunga bunga.


Shean tidak memberi bunga, atau sesuatu yang gemerlap, dia juga tidak romantis. Namun untuk pria seperti Shean yang dingin dan irit bicara, pernyataan itu sangat berarti dan susah diucapkan. Namun Shean mengucapkannya dengan lantang dan yakin, Lira bahagia, sangat sangat bahagia.


"Ra.." Shean mengusap punggung Lira "aku belum membersihkan diri" Shean mengingatkan Lira.


Dengan enggan Lira melepas pelukannya, menyeka air matanya dengan cepat.


"Um maaf, aku terbawa suasana. mandilah! aku akan turun kebawah duluan" Lira kembali pada dirinya, namun senyuman yang tersungging dibibirnya tidak bisa menutupi perasaannya saat ini.


"Mm" gumam Shean, tersenyum hangat dan mengusap singkat pucuk rambut Lira.


Lira memandang punggung tegap Shean yang perlahan menghilang ketika pintu kamar mandi ditutup, dia tersenyum malu. Pipinya merah merona mengingat Shean yang mengucapkan kata sayang dengan sangat yakin.


"aku malu" Lira menutup wajahnya dengan kedua tangan.


☆☆☆

__ADS_1


Lira dan Shean sedang bersender di kepala sofa, tepatnya Shean yang bersender disana sedangkan Lira bersender dipundaknya. Sudah hampir satu jam Lira memainkan ponselnya dan Shean membaca buku disatu tangan, satunya lagi melingkar dipinggang Lira.


Pemandangan itu terlihat seperti pasangan yang romantis dan rukun, ya... walaupun memang iya. Tapi tidak akan ada yang menyangka pasangan yang sudah hampir delapan bulan menikah itu, bahkan belum menjalankan satu hal yang biasa dilakukan pasangan suami istri. Bahkan malam pertama pun belum pernah Lira dan Shean alami, walau mereka pernah satu tempat tidur dan tidur bersama, hanya sebatas tidur.


Lira menyimpan ponselnya diatas meja, dan mengubah posisinya jadi duduk bersender dikepala sofa.


"She.."


"mm" gumam Shean yang masih pokus membaca buku.


"kamu mau tidur disofa lagi?" tanya Lira.


"mm" lagi lagi Shean hanya bergumam.


Lira sedikit kesal dan mengambil paksa buku dari tangan Shean, membuat si empunya beralih menatapnya heran. Shean tidak marah loh ya, apalagi cuman Lira yang mengganggu acara membacanya. Bahkan jika Lira mengganggunya bekerja pun, dipastikan Shean tidak akan marah.


"..."


"aku tanya, apa kamu akan tidur di sofa lagi?" ulang Lira.


"iya"


"bukan begitu" jawab Shean.


"lalu?"


Shean tidak tau harus beralasan apa, tapi yang jelas untuk saat ini dia belum bisa tidur bareng Lira lagi ditempat tidur. Alasannya adalah, karena Shean mungkin tidak bisa menahan hasratnya ketika tidur dengan Lira. Bahkan waktu dia tidur disofa dengan Lira, mati matian dia harus menahan dirinya untuk tidak 'menyentuhnya'.


"She?" panggil Lira, karena Shean hanya diam.


"malam ini kamu tidur ditempat tidur ya?" mohon Lira dengan ekspresi imut yang dia punya.


Lihatlah itu! bagaimana Shean bisa tidur tenang bareng Lira dalam keadaan sadar (tidak mabuk), istrinya itu sangat imut dan menggemaskan. Bahkan ketika Lira menampilkan ekspresi marah saja terlihat lucu dimata Shean, apalagi sekarang Lira benar benar bertingkah imut.


"ya ya ya" Lira memohon.


Eits bukan berarti Lira meminta Shean melakukan kewajibannya sebagai suami, hanya saja sekarang dia punya mood yang tidak menentu. Lira hanya ingin Shean menemaninya tidur tidak lebih, dia juga belum siap menjalankan kewajibannya sebagai istri.

__ADS_1


"She-"


Cup


Shean mencium Lira tanpa aba aba, membuatnya sedikit terkesiap. Tapi Lira tidak menolak dan membiarkannya, namun lama kelamaan ciuman itu semakin dalam. Ciuman Shean tidak seperti biasanya, kali ini ada nafsu didalamnya. Lira berusaha melepas pautan mereka, sayangnya tenaga Shean lebih besar darinya. Shean menarik pinggang Lira supaya lebih dekat dengan satu tangan, sedangkan satunya lagi digunakannya untuk menekan tengkuk Lira. (salah mu sendiri Ra, bertingkah imut didepan Shean).


"She.." Lira mendorong dada Shean dengan keras.


Napas Lira terengah engah, berusaha mengambil oksigen sebanyak banyaknya. Wajahnya memerah entah karena malu atau kekurangan oksigen.


Belum sempat Lira berucap lagi, Shean kembali menempelkan bibirnya di bibir Lira. Melakukan hal yang sama seperti tadi.


☆☆☆


Pagi sekali Lira sudah bangun dan sekarang sedang melakukan rutinitas paginya yaitu mandi, perutnya sedikit sakit karena sedang datang bulan.


Selesai dengan acara mandinya, Lira melilitkan handuk menutupi bagian tertentu dari tubuhnya. Dia berencana keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk, yang biasanya dia sudah rapih dengan pakaian lengkap ketika keluar dari sana.


"Ya ampun" Lira sedikit memekik, ketika mendapati Shean berada tepat didepan pintu.


Setelah acara kagetnya, mereka berdua saling melihat satu sama lain. Shean yang melihat Lira yang hanya melilitkan handuk ditubuhnya segera memalingkan wajah, telinganya sedikit memerah. Begitu juga Lira yang melihat Shean memalingkan wajah jadi salah tingkah sendiri.


Mereka berdua saling bertabrakan ketika mau menghindari satu sama lain, tapi akhirnya Lira dan Shean melanjutkan aktifitas masing masing. Shean yang langsung masuk ke kamar mandi dan Lira yang menghampiri lemari untuk berpakaian.


Wajah Lira yang putih sudah memanas ketika tadi berpapasan dengan Shean didepan pintu kamar mandi. Dia mengingat kembali kejadian tadi malam yang mungkin bisa membuat Shean kesal atau bahkan menghindarinya, dan lagi lagi itu hanya pemikirannya sendiri.


Ketika Shean mecium Lira semalam, sebenarnya bukan hanya itu yang dia lakukan. Shean sudah menahannya untuk waktu yang lama, dan malam itu dia sudah tidak bisa mengontrolnya lagi. Disela sela ciuman hangat mereka, tangan Shean mulai menjelajah ditubuh ramping Lira. Membuat Lira jadi panik sendiri, dan sebelum itu berlanjut. Lira mendorong tubuh Shean menjauh, dan mendapati tatapan kecewa darinya.


Lira tidak bodoh, dia hanya sedikit tidak peka. Tapi apa yang Shean lakukan semalam membuat Lira mengerti, bahwa dia akan melakukan kewajibannya.


"Aku sedang PMS" Lira menundukkan pandangan.


Shean tersadarkan dan kembali membenarkan posisinya, tidak ingin menatap Lira. Bukan dia marah, tapi dia yang merasa bersalah dan tidak enak. Karena tanpa sadar dia akan melakukan sesuatu yang berlebihan, walau itu semua pantas pantas saja bagi pasangan suami istri.


Akhirnya malam tadi Lira dan Shean tidur terpisah, dengan Lira ditempat tidur dan Shean di sofa. Mereka berdua tidur dengan jantung yang masih berdetak tidak karuan, karena sesuatu yang hampir mereka lakukan.


Dan dipagi hari mereka jadi salah tingkah sendiri ketika berpapasan, merasa canggung dan kikuk.

__ADS_1


"Aku menyayangimu, tapi aku malu"- Lira


"Aku menyayangimu" - Shean


__ADS_2