Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 39. Menghela Nafas


__ADS_3

Keesokan paginya


Entah apa yang membuat Balin cepat terbangun dari tidur nyenyak nya. Mata itu mengerjap, perlahan terbuka. Melihat ad ayang aneh membuat mata itu terbuka lebar.


Tangan nya memeluk Gia yang tak lain adalah istrinya sendiri. Wajah mereka saling menempel. Balin menahan nafas karena sedikit shock dengan keadaan seperti ini.


Dengan penuh kehati-hatian ia mendorong pelan wajah Gia agar ada jarak dari keduanya. Gia sama sekali tak terganggu dari tidur nyenyak itu.


Balin tersenyum manis meneliti setiap jengkal wajah teduh itu. Jari-jemari itu menyelipkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantik Gia.


Hidung mancung, bulu mata lentik alami, kulit wajah putih bersih, alis tebal alami dan satu lagi yang membuat iman tergoda adalah bibir seksi itu. Balin menahan nafas hingga dengan spontan ia beralih menatap mata Gia yang masih terpejam.


"Entah ini perasaan jatuh cinta atau hanya sekedar nyaman saja," keluh kesah Balin dalam hati tidak tahu apa yang ia rasakan kepada Gia saat ini. Biarlah waktu yang akan menjawab pertanyaan itu.


Hmm


Gia menggeliat, hingga pelukannya terlepas. Kini ia terbaring terentang. Menurut Balin itu sangat mengemaskan.


Detik selanjutnya ia kembali lagi, bahkan menganggap tubuh Balin adalah guling kesayangannya.


Balin tersentak kaget, apa lagi mendapati keadaan Gia seperti itu. Dimana dua kancing baju piyama yang ia kenakan terlepas tanpa di sengaja. Hingga dva gvndvkan itu menyembul dibalik penyangga nya masing-masing.


GLEK


Balin menelan ludah. Pandangannya masih tak lepas, seakan ia terhipnotis dengan harta milik Gia yang tak sembarangan dilihat apa lagi di sentuh.


Bagaimanapun ia adalah lelaki normal. Apa lagi ini di pagi hari, tentu saja yang di bawah sana sudah meronta-ronta.


Sadar akan hal itu membuat Balin segera membuang muka. Ingin sekali merapikan kancing tersebut tapi ia tak berani melakukan itu.


Tak tahan lagi dengan suhu tubuh memanas Laur dalam. Balin beranjak bangun, dan menyelimuti Gia sampai leher agar ia tak terpancing lagi.

__ADS_1


Balin berjalan masuk ke kamar mandi, untuk merendamkan dirinya. Mengusir pikiran kotornya pagi ini. Bisa saja ia langsung menerkam Gia, secara mereka adalah pasangan suami-istri yang sah tapi kembali lagi bahwa hubungan mereka tidaklah selayaknya pasangan-pasangan di luar sana yang sudah menjadi kewajiban mereka melakukan hubungan intim.


Didalam kamar


Gia menguap, perlahan mata itu terbuka. Sesaat ia mengumpulkan senyawa-senyawa. Seakan sudah merasa cukup, ia bangun duduk.


"Kemana dia?" gumam Gia melihat Balin tak berada di kamar, bukankah seingat dia bahwa mereka tidur bersama. Hal inilah yang membuat Gia terlambat bangun tidur pagi ini.


Ia kembali menguap serta menutup mulutnya. Sayup-sayup terdengar gemercik air didalam kamar mandi, dan ia yakin bahwa Balin berada didalam kamar mandi.


Gia menyeret bokongg nya agar menepi pada ranjang. Lalu menjatuhkan kedua kaki jenjang itu di lantai. Ia masih belum sadar dengan apa yang terjadi di bagian dadanya.


Ia masih menunggu Balin keluar dari kamar mandi karena ia juga ingin melakukan ritual di pagi hari.


KLEK


Pintu kamar mandi terbuka membaut Gia mendongak, bahkan tidak berpikir dulu.


DEG


"Kamu sudah bangun," ujar Balin seraya mengusap rambut basahnya, itu semakin membuatnya tambah cool. Otot-otot tubuhnya membuat jantung Gia ingin copot.


Hmm


Gia hanya bisa berdehem seraya menunduk, tidak sanggup melihat pahatan sempurna di hadapannya.


"Sepertinya tidurmu sangat nyenyak," basa basi Balin.


"Iya sampai kesiangan," lirih Gia masih dengan wajah menunduk.


"Baru pukul 7. Jika masih mengantuk tidur saja, bukankah hari ini libur," ujar Balin semakin mendekat.

__ADS_1


"Aku ada ibadah pagi," imbuhnya.


"Boleh aku ikut?" tanya Balin karena selama mereka menikah tidak pernah bersama-sama melakukan kewajiban seorang Nasrani. Mereka akan pergi beda jadwal ibadah.


Gia mendongak


"Bersiap-siap lah, 1 jam lagi kita kan berangkat." Gia berbicara dengan sorot mata ke sana sini agar tidak menatap Balin yang kini duduk di sampingnya.


Balin mengangguk senang karena hari ini adalah hari pertama mereka akan memulai dari awal.


Huh......


Balin menarik nafas ketika mata siallnya ini kembali berpusat pada bagian tertentu itu. Ia tahu bahwa Gia tidak menyadari akan keadaannya yang membuat kelelakian nya mencuat di balik handuk tersebut.


"Aku sudah siapkan air hangat," ya sebelum keluar dari kamar mandi ia mempersiapkan air hangat untuk Gia.


Gia mengangguk senang. "Terima kasih," ucapnya. Ucapan yang baru pertama keluar dari mulut Gia selama ini untuk Balin.


"Itu sudah menjadi kewajiban seorang suami," entah keberanian dari mana Balin mengatakan itu.


Gia menjadi kikuk mendengar perkataan itu. Lalu beranjak bangkit.


Cup


Dengan spontan dan sekilas mendaratkan kecupan di pipi sebelah kanan Balin. Balin sentak kaget, bahkan shock mendapat perlakuan tak biasa Gia.


Gia langsung berlari kecil, masuk kedalam kamar mandi dengan tersipu malu. Sedangkan Balin tercengang seraya mengusap wajahnya, bekas kecupan manis itu.


Tidak lama bibir itu melengkung indah, menandakan ia sangat senang.


Bersambung.....

__ADS_1


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2