
Lira sangat kesal awalnya dengan pernyataan Shean kalau dirinya ingin berduaan. Namun setelah dia tau kalau Shean akan mengajaknya untuk bertemu dengan tuan Pratama, dan nyonya Pratama yang baru saja tiba di kota S. Lira jadi merasa gugup.
Apakah itu berlebihan? yah dirasa tidak. Bukankah semua menantu seperti itu kalau bertemu dengan mertua, apalagi mereka tidak dekat.
Tidak dekat bukan berarti orang tua Shean tidak menyukai Lira, malahan mereka sangat suka. Tapi karena pernikahan Lira dan Shean terjadi begitu saja, tanpa ada embel embel pacaran ataupun pertunangan.
"ayo" kata Lira yang sudah berada disamping Shean. Lira baru saja selesai berdandan, sedangkan Shean sudah menunggunya diruang tamu.
Shean melihat kesampingnya, dan nampaklah seorang bidadari tak bersayap (berlebihan). Lira memakai gaun pendek berwarna biru tua yang menampakan lekuk pinggangnya. Dia memakai kalung berliontin hati berwarna perak dileher jenjangnya yang terekpos. Rambut panjangnya digerai dengan hiasan rambut berada dirambut belakangnya.
Diqi yang memang berada disamping Shean sudah menjatuhkan rahangnya, sedangkan Shean masih berwajah datar namun ada sorot kekaguman dimatanya.
"Waaah Ra. kau cantik sekali" puji Diqi, dan mendapat tatapan dingin dari Shean.
Lira tersenyum manis "terima kasih" katanya.
"ayo!" ajak Shean dan langsung berdiri.
Shean dan Lira berjalan berdampingan, namun mereka tidak bergandengan tangan atau sekedar berdekatan. Jarak diantara mereka terpaut satu meter.
Diqi yang melihat keanehan itu, dan memang sudah merasa aneh dari awal dia tinggal di rumah besar itu. Mereka terlihat baik baik saja atau mereka dari awal tidak menjalin hubungan yang lebih dari baik baik saja.
Diqi mengerutkan keningnya dia sedang berpikir "Ada yang aneh" gumamnya.
☆☆☆
Lira dan Shean tiba disebuah restoran yang bernuansa hijau putih itu. Disana lumayan ramai karena ini memang waktunya untuk makan siang.
Lira dan Shean duduk disalah satu meja yang memiliki empat kursi disebelah jendela restauran. Sepertinya tuan dan nyonya Pratama belum datang.
Tidak ada obrolan diantara mereka, dan itu sudah biasa. Para pengunjung lain memperhatikan mereka, ada juga yang mengangumi kecocokan mereka. Lira yang cantik dan elegan sedangkan Shean yang tampan dan berkharisma.
Tak lama kemudian dua orang datang menghampiri mereka yang tak lain adalah orang tua Shean.
"Sudah menunggu lama?" tanya nyonya pratama kemudian duduk didepan mereka.
"tidak tante" kata Lira dengan senyum manis.
"kok tante? mamah.." kata nyonya pratama.
"eh iya.. mamah" kata Lira ragu.
"jadi ada apa mengajak bertemu?" tanya Shean to the point.
__ADS_1
"kau ini She. apa salah jika ingin bertemu dengan anak dan menantu kami?" kata tuan pratama.
"tidak. tapi aku tidak masuk kerja demi bertemu kalian" kata Shean masih datar.
Lira menyenggol kaki Shean, dan mendapatkan tatapan tajam dari siempunya.
"jangan berbicara seperti itu sama orang tua" bisik Lira pada Shean. Kemudian terseyum kearah mertuanya.
Shean hanya memalingkan wajahnya dan tidak bersuara lagi.
"kalau begitu ayo pesan makanan!"
Makan siang berjalan dengan baik, sesekali tuan pratama membuat lelucon dan mendapatkan kikikan dari keduanya. Keduanya? Ya karena Shean hanya pokus pada makanannya.
Tuan dan nyonya pratama sudah pergi duluan meninggalkan Shean dan Lira ditempat parkir.
"Hai She" tiba tiba seseorang datang menghampiri mereka.
"lena" kata Shean.
"ini istrimu?" tanya Selena.
"mm"
"halo kenalkan aku Selena. mantan pacarnya Shean" kata Selena dengan senyum yang dibuat buat. Pada dasarnya dia ingin membuat Lira cemburu.
Shean sudah harap harap cemas dalam hatinya, mungkin ini tidak akan baik menurutnya. Namun pemikirannya terbantahkan oleh apa yang Lira katakan.
"oh ya salam kenal aku Lira. ISTRINYA Shean" kata Lira dengan senyum paling ramah yang dia tunjukan.
Melihat respon dari Lira yang tidak sesuai keinginannya, Selena jadi kesal sendiri.
"hahaha. memangnya aku bisa terpancing. jangan salah aku bisa mendengar isi hatimu" Lira tertawa dalam hati.
☆☆☆
Didalam mobil mewah yang kikendarai oleh Shean.
Lira dari tadi hanya bisa cekikikan mengingat ekspresi Selena saat Lira menekankan bahwa Shean adalah suaminya, namun Shean jadi risih karenanya.
"bisakah kau diam" kata Shean.
"kenapa? aku punya mulut. terserah mau aku apakan" kata Lira "oh ya, kau lihat ekspresi pacarmu itu She, dia pikir bisa membuat aku cemburu. bisa mungkin jika itu untuk orang yang mencintaimu, tapi kan aku tidak. Kita bahkan tidak pernah saling menyukai. benarkan She? Lira kembali tertawa lucu.
__ADS_1
Shean hanya bisa diam mendengar kata kata Lira, ada terselip perasaan kecewa, sedih dan tidak terima dengan apa yang Lira katakan. Namun semua yang Lira bilang memang benar adanya.
"oh ya She. kenapa kau tidak bilang kalau kita akan bercerai beberapa bulan lagi. dia pasti akan senang" kata Lira enteng.
Shean yang merasa diingatkan dengan perjanjian itu, jadi benar benar merasa bersalah.
Entah bagaimana dia merasa bersalah kepada Lira, dan merasa sudah menghianatinya. Namun dia juga tidak memungkiri jika dia masih mempunyai perasaan untuk Selena.
Lira memang tidak pernah merasa keberatan dengan hubungan Shean dan Selena yang bisa dibilang CLBK. Namun Shean yang sudah menjalin sebuah ikatan pernikahan dengan Lira jadi merasa bersalah dengan sikap baik baik saja yang Lira tunjukan.
Itu yang Shean inginkan, bahwa Lira tidak ikut campur urusannya, namun disisi lain dia berharap jika Lira bisa sedikit saja menyatakan keberatan atas hubungannya dan Selena. yah bisa dikatakan, Shean ingin Lira sedikit merasa cemburu.
"oh ya She bisa mampir dulu ketoko es krim" tiba tiba Lira menginterupsi.
Shean tidak menjawab apapun, dia langsung memarkirkan mobilnya didepan toko es krim yang Lira tunjuk.
"tunggu sebentar" Lira langsung keluar dari mobil, dan masuk kedalam toko.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Lira membeli es krim tersebut. Lira sudah memasuki mobil dengan segembolan es krim yang dibelinya.
"apa kau akan memakan semuanya" tanya Shean merasa ngeri dengan selera makan Lira.
"mm. jika kau ingin, beli saja sendiri" kata Lira dan mulai memakan es krimnya.
Shean hanya bisa bergeleng geleng kepala, dan tanpa sadar dia tersenyum kecil melihat cara makan Lira.
Shean melajukan mobilnya dengan kecepatan rata rata. Hari sudah menunjukan pukul empat sore dan dia tidak akan sempat jika pergi kekantor sekarang.
☆☆☆
Lira dan Shean sudah berada dikamar mereka. Lira menyenderkan punggungnya diatas sofa, dan ngomong ngomong ini sudah gilirannya tidur di sofa.
Shean sudah melesat kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Lira malah bersantai santai dan belum berniat mengganti pakaiannya.
Lira mencari cari sebuah kotak yang berisikan coklat yang diberikan Diqi waktu itu, dia belum sempat membukanya, dan mudah mudahan coklatnya tidak basi.
Lira sudah menemukannya dan membuka kotak tersebut. tercium bau tidak enak dari dalamnya.
"euh... ini sudah basi, padahal aku sedang ingin makan coklat" kata Lira agak kecewa.
Shean yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar apa yang Lira katakan, namun dia tidak berkata apa apa dan memilih untuk mendudukan dirinya diatas tempat tidur.
Lira membuang kotak itu kedalam tong sampah kecil yang tersedia disana.
__ADS_1
"maaf Diq. aku tidak memakan coklat pemberianmu" lirihnya sedikit menyesal.
Setelah itu Lira menyambar handuknya dan masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Shean yang dari tadi memperhatikannya dengan tatapan penuh arti.