Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 73. Saling Memaafkan


__ADS_3

Gia membeku mendengar sapaan tersebut hingga kakinya berhenti melangkah. Tawa yang cukup memecah adi seakan senyap dengan mulut yang tertutup rapat.


Gia melirik Balin dengan sorot mata penuh tanya karena sebelumnya Balin mengatakan bahwa ini kejutan tapi kenapa pria paruh baya tersebut sedang menyambut kedatangan mereka, itu berarti Papi sangat mengetahuinya.


Papi bangkit dari duduknya, menatap Gia dengan sorot mata berkaca-kaca. "Sayang apa kamu tidak merindukan Papi?" seru Papi dengan nada tergugu seperti sedang menahan tangis. Sosok putri yang selalu ia rindukan selama satu tahun itu kini berdiri di depannya.


Gia kembali melirik Balin dengan ekspresi wajah sendu. Balin mengangguk sembari melengkungkan senyuman.


"Pa-papi....." Seru Gia membawa kakinya mendekati sang Papi.


"Sayang....."


Ayah dan anak tersebut saling berpelukan, melepas rindu selama ini. Saling terisak dalam diam, kesalahan yang mereka lakukan membuatnya berpisah dalam jangka waktu cukup lama.


"Gia minta maaf Pi, Gia minta maaf....." Lirih Gia dengan terisak.


"Papi juga minta maaf sayang. Papi sangat senang akhirnya kamu dapat ditemukan, ini berkat usaha dan kerja keras suamimu. Selama ini suamimu tak henti-hentinya mencari keberadaan mu," pungkas Papi sembari mengusap kepala Gia dengan perasaan haru.


Balin yang sejak tadi melihat Ayah dan putrinya itu saling melepas rindu serta meminta maaf atas kesalahan merasa terenyuh. Senyuman berbinar-binar sangat terlihat jelas dari sorot mata dan bibirnya.


Ia ikut bahagia melihat hal itu karena selama ini dia dan juga mertuanya sangat mengkhawatirkan keberadaan Gia di luar sana. Dan Tuhan telah mempertemukan mereka.


"Apa Papi sakit?" tanya Gia dengan tatapan sendu mendapsti sosok pria patuh bayar yang duduk di debelahnya kelihatan lebih kurus dan wajah memucat.


Papi tersenyum seakan tidak terjadi apapun kepadanya. "Penyakit tua sayang, jadi jangan khawatir," sahut Papi sembari mengusap pundak Gia dengan kasih sayang.


"Gia minta maaf Pi," lirih Gia dengan wajah menunduk, merasa bersalah dengan masa silam tersebut.


"Tidak ada yang salah dan benar sayang karena berawal dari kesalahpahaman. Jadi Papi tegaskan untuk tidak mengungkit permasalahan itu kembali, anggap saja hal tersebut tak pernah terjadi. Papi sangat menyayangimu, maka dari itu apapun resikonya Papi ambil demi kamu karena Papi tidak ingin kehilangan kamu." Papi mengungkapkan perasaan yang belum sempat ia ungkapkan.

__ADS_1


Gia kembali meneteskan air mata, kini ia percaya dan paham alasan dibalik semua itu. Penyesalan memang datang di kemudian hari.


"Sayang sudahlah, lihat matamu sudah bengkak," ujar Balin sembari merengkuh tubuh itu, ia tidak sungkan kepada mertuanya.


Gia mengangguk, mengusap air mata itu dengan dada bergemuruh. Sedangkan Papi sangat bahagia melihat Gia dan Balin benar-benar menjadi pasangan yang sebenarnya. Impian dan keingannya kini tercapai berkat doa nya selama ini.


"Hmm bagaimana cara honeymoon kalian? apakah sukses? atau bahkan kalian sudah memberi cucu untuk Papi?" deheman Papi serta godaan itu membuat Balin maupun Gia tercengang dan saling memandang dengan dahi mengerut.


Papi terkekeh sembari memyesep teh hangat.


"Jangan ditunda karena Papi sangat menginginkan cucu," sambungnya.


"Papi...." Protes Gia dengan rona wajah memerah.


"Tentu Pi, mungkin lagi dalam proses," sahut Balin yang membuat Gia menatap tajam kepadanya.


"Kenapa kamu berbohong? katanya tidak memberitahu Papi," cicit Gia dengan bibir mengerucut.


"Dasar menantu kurang asam!" Ledek Gia karena dengan alasan tersebut.


"Sayang aku wangi kok," seru Balin sembari menghenduskan bagian tubuhnya.


"Itu menurut kamu!"


Papi sangat bahagia, sekarang rumah ini seakan berwarna dan hidup kembali.


"Hmm kalian istirahat dulu. Beberapa jam lagi akan makan malam, kalian pasti kelelahan," ujar Papi.


"Ayo sayang," ajak Balin karena ada sesuatu yang ingin ia lakukan didalam kamar sana.

__ADS_1


"Oya Pi, Mami dan Rika kemana? hmm pasti memborong," ucap Gia seakan tahu aktivitas Ibu dan anak tersebut.


Papi maupun Balin saling memandang sejenak. Lalu Papi menghela nafas berat. "Sudah Papi usir ketika kamu pergi meninggalkan rumah!" Papi memberitahukan yang sebenarnya karena ia tidak ingin menyembunyikan apapun lagi.


"Apa?" seru Gia tersentak kaget. "Jadi, jadi mana mereka?" sambung Gia dengan wajah masih kaget.


Papi menggeleng karena memang tidak tahu dimana keberadaan istri dan putri sambungnya tersebut karena ia memang tidak berniat ingin tahu. Sangat mudah baginya mencari informasi tetapi ia hanya memberi pelajaran sementara untuk mereka.


Gia menghela nafas panjang, ia tidak tahu bahwa ternyata banyak kejadian semenjak kepergiaannya. Seketika ingatannya beberapa bulan lalu, dimana ia bertemu Rika di Bandung. Dan Gia yakin bahwa Rika dan Mami Maya tinggal di sana.


"Ini semua berawal dari Gia," lirih Gia.


"Bukan sayang, tapi Papi sendiri yang bertindak. Biar mereka tahu bagaimana kerasnya hidup di luar sana!" Papar Papi tidka sama sekali menyalahkan Gia. "Nak bawa istrimu beristirahat sekarang," sambungnya karen atidka ingin Gia merasa bersalah terus-menerus.


Balin mengangguk dan membawa Gia kedalam kamar.


Tiba di kamar miliknya Gia tertegun karena tidak ada yang berubah. Hanya ad asatu perubahan yaitu dinding kamar ada beberapa bingkai foto yang tergantung. Yaitu dimana foto pernikahan mereka dan yang lainnya.


"Apa semua ini kamu yang lakukan?" tanya Gia.


"Iya sayang, hanya foto-foto ini yang dapat mengobati rasa rinduku kepadamu," sahutnya sembari memeluk Gia dari belakang.


Gia terharu hebat, ia tak pernah menyangka jika selama ini Balin sangat kehilangan dirinya.


"Sayang stop....!"


Bersambung....


🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2