Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Makan Siang


__ADS_3

Ajakan makan siang yang dilontarkan oleh Shean membuat Lira semakin mantap, memberi kesempatan hubungan mereka supaya membaik. Lira senang tentu saja, Shean yang kaku dan dingin juga irit bicara. Shean yang pada awal pernikahan selalu membuatnya kesal sendiri ketika berinteraksi dengannya, kini pria itu mulai menunjukan perhatiannya. Wajah tanpa ekspresi yang selalu dia tunjukan, berganti dengan senyuman ketika berhadapan dengan Lira.


Lira sudah siap dengan pakaian yang dikenakannya, rok mini diatas lutut berwarna abu abu dan baju berwarna putih-abu, membuat kesan manis tersendiri untuk Lira. Rambut sepunggungnya ia gerai dan sebagian ia kepang dengan hiasan rambut, polesan polesan sederhana diwajahnya sudah membuatnya sangat cantik dan itu sudah cukup.


Lira mengecek jam tangan yang melingkar ditangannya, jam setengah satu siang. Waktu yang pas untuk makan siang disebuah restoran ternama di kota S, Shean sudah bilang tempatnya ke Lira.


Dirasa sudah rapih dan cantik, Lira menyambar tas dan ponselnya diatas tempat tidur. Melangkah keluar kamar dengan raut bahagia terlihat diwajahnya, untuk tersenyum? dia tidak mau terlalu menunjukan kebahagiaannya. Ngomong ngomong Shean sudah menunggu Lira dilantai bawah sejak sepuluh menit yang lalu.


Senyuman tipis yang menghiasi wajah Lira menghilang seketika saat dia sampai dilantai bawah. Selena sedang duduk dimeja makan bersama dengan penghuni rumah yang lain, berbincang bincang dan bersenda gurau. Shean? pria itu tengah duduk dikursi ujung dimeja makan itu dengan wajah tanpa ekspresinya, dia tidak menyentuh makanan sedikit pun.


"kenapa dia disini?" tanya Lira dalam hati.


Untuk beberapa saat Lira hanya berdiri memperhatikan kejadian didepannya, ada rasa tidak nyaman dihati Lira namun dia tidak tau apa itu. Senyum kecil kembali terbit dibibir tipisnya, dia berusaha untuk bersikap baik baik saja. Lira melangkahkan kakinya menghampiri mereka.


"Oh ra, kamu sudah rapih mau kemana?" tanya Jeni ramah.


"oh? aku.." Lira ragu.


"kita makan siang diluar" Shean melanjutkan perkataan Lira, kemudian dia berdiri dari duduknya melangkah mendekati Lira.


Semua yang ada disana hanya bisa melihatnya dengan berbagai ekspresi, ada yang tersenyum seperti Key dan beberapa yang lain, ada juga yang memasang wajah tidak suka seperti Selena dan Mia, Mia? jangan tanya.


"ayo" ajak Shean dan menggandeng tangan Lira.


"itu..." Lira kembali menjeda perkataannya dan menatap Jeni.


"tidak apa pergilah, jangan hiraukan kami. kalian belum pernah pergi berdua sebelumnya, jadi bersenang senanglah" Jeni tersenyum cerah.


Lira hanya membalasnya dengan senyuman dan berjalan menyeimbangkan langkahnya dengan Shean.


"baru pertama kali aku melihat mereka bergandengan" itulah yang ada di benak semua orang yang melihat Lira dan Shean berjalan berdampingan.


☆☆☆


Kejadian beberapa saat yang lalu membuat Lira sedikit tidak nyaman, dia hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun. Lira hanya duduk manis disamping Shean yang sedang menyetir, begitu juga dengan Shean yang diam seribu bahasa. Ingin Shean memulai pembicaraan dan memecah keheningan, namun dia takut salah bicara.


Shean terkejut ketika melihat Selena ada dirumahnya, dia juga tidak tau jika wanita itu akan datang kesana. Dan yang lebih Shean tidak mengerti adalah sikap beberapa penghuni rumah yang lain, seperti tidak pernah terjadi apa apa.

__ADS_1


"itu..." Jeda Shean "aku tidak tau dia akan kerumah" akhirnya dia memulai pembicaraan.


"siapa?" Lira sedikit melamun tadi jadi tidak pokus.


"Selena" jawab Shean, sesekali dia melirik Lira disampingnya kemudian kembali pada jalanan didepannya.


"oh tidak apa apa" kata Lira, "ya tidak apa apa, dia hanya berkunjung mungkin" batin Lira, dan dia memaksa dirinya untuk tersenyum hambar.


Shean melihat senyuman Lira, dan itu membuatnya teringat pada kejadian saat Lira menerima kiriman foto dari Selena, Shean membencinya. Senyuman itu bahkan tidak bisa menggambarkan kesedihan atau kebahagiaan Lira dan Shean tidak suka itu.


"aku sudah tidak ada hubungan dengannya" kata Shean mantap, dia tidak mau Lira salah paham dan menganggap dirinya yang mengundang Selena.


Lira melirik kesampingnya dan tersenyum manis "ya, aku percaya" jawab Lira.


Setelahnya tak ada lagi pembicaraan didalam mobil mewah itu, keduanya terlarut dengan pemikiran masing masing. Sampai sampai....


Ckiiitt


Shean menginjak rem sekaligus, membuat Lira hampir terbentur bagian keras mobil didepannya.


"kamu tidak apa apa?" tanya Shean, dia melepas sabuk pengamannya dan beralih melihat Lira, dia memegang tangan Lira dan menantikan jawaban.


Shean menghembuskan nafas lega, kemudian beralih melihat apa yang terjadi didepannya, MACET.


Jalanan kota pada jam makan siang memang sering macet, apalagi jalanan arah tujuan mereka. Shean melihat jam tangannya, jam satu siang. Namun kemacetan didepannya masih belum juga longgar.


Kruk


Cacing cacing diperut Lira sudah mulai berbunyi menandakan dia sudah mulai kelaparan, mengingat dia hanya sarapan dengan segelas susu hangat. Wajah Lira bersemu merah karena malu, mungkin Shean mendengar perutnya yang sudah protes.


Shean tersenyum tipis "apa sudah sangat lapar?" tanya nya.


"mm" Lira bergumam pelan.


Melihat sikap malu malu Lira membuat Shean gemas sendiri dan berakhir mengusak rambut Lira yang sudah rapih.


"YAK-"

__ADS_1


"sabar ya" Shean tersenyum manis.


Lira yang awalnya ingin protes karena Shean sudah merusak tatanan rambutnya, hanya bisa mengurungkan niatnya dan memilih untuk merapikan rambut hitam kecoklatan itu.


☆☆☆


Kedua sejoli sudah terduduk manis dikursi couple di restoran itu, keduanya sedang menanti makanan yang beberapa saat lalu mereka pesan. Memang sudah agak terlambat untuk makan siang, karena sudah jam dua siang. yah walau tidak terlalu terlambat.


Lira dan Shean duduk berhadapan, dan tidak saling bertatapan karena keduanya yang masih malu malu atau merasa canggung. Shean ingat pertama mereka datang berdua kerestoran adalah saat menunggu tuan dan nyonya Pratama, saat itu perasaan Shean masih belum pasti untuk Lira. Namun sekarang perasaan itu sudah menjadi prioritasnya, Shean sadar sekarang Lira sudah mengisi tempat yang kosong dihatinya.


"permisi.. silahkan makanannya" weiter yang membawa makanan berkata ramah dan menata hidangan diatas meja.


"terima kasih.." timpa Lira tersenyum ramah dan dibalas senyum ramah pula oleh weiter itu.


"ada lagi pesanannya?" tanya weiter itu dengan masih menyunggingkan senyuman.


"jangan kesini lagi" jawab Shean atas pertanyaan si weiter.


Pria muda itu hanya menelan salivanya ngeri melihat aura gelap yang sudah mengelilingi Shean, dia tersenyum getir ke Lira dan beranjak dari sana. Lira yang melihatnya hanya bisa meringis, melihat sifat Shean yang mulai muncul.


Sadar jika Lira memperhatikan gerak geriknya, Shean mendongak dan melihat Lira yang tengah menatapnya intens.


"jangan dipikirkan! cepat makan" kata Shean dan sukses membuat Lira menuriti perkataanya.


"jika sifatnya sudah keluar, benar benar mengerikan. Dulu aku tidak terlalu memperhatikan" batin Lira.


Makan Siang berjalan dengan khidmat tanpa ada suara yang keluar dari keduanya, selain dentangan alat makan yang saling bergesekan. Kini Lira dan Shean tengah menikmati hidangan penutup yang sangat disukai Lira, namun berbeda dengan Shean yang memang tidak suka manis.


"masih jam tiga. Kita mau kemana dulu?" tanya Shean tiba tiba.


"um? terserah kau saja" jawab Lira.


"apa ada tempat yang kamu mau kunjungi?" tanya Shean.


"tidak ada" jawab Lira dan masih setia memakan kue coklatnya.


"baiklah, kita pikirkan dimobil saja" putus Shean.

__ADS_1


"um" Lira mengangguk.


__ADS_2