Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Aidan di Bully


__ADS_3

Suasana jadi canggung di ruangan tersebut


Alvaro batuk-batuk kecil untuk meredakan kecanggungan dirinya.


"Sayang, apa kau memerlukan sesuatu??


Apa kau tak merasa nyaman??? Bagaimana diagnosa dokter??" tanya Alvaro beruntung membuat Sandra bingung harus menjawab apa


"Papa, kau membuat saudariku bingung" protes Catty cemberut


"Hahaha maaf, maaf"


"Aku baik-baik saja pa, hanya...


Aku merasa bersalah"


"Kenapa???


Apa yang membuatmu merasa bersalah?"tanya Alvaro


"Aku ...


Sejak kedatanganku, keluarga Clift jadi terpecah"


"Astaga...


Putriku, mengapa kau berfikir begitu?


Aku dan pamanmu memang sudah tidak aku sejak lama, kamu memang tak bertengkar secara nyata, namun seperti perang dingin, sebanyak apapun papa berusaha dekat dengan pamanmu, dia terus membangun benteng tinggi yang membatasi kami.


Ini hanya masalah waktu kamu berkonfrontasi.


Tapi percayalah, papa menyayangi pamanmu begitu juga pamanmu, papa harap" ucap Alvaro di ujung kalimatnya.

__ADS_1


Sandra bisa melihatnya betapa papanya yang paling terluka oleh penolakan Alfa.


Harusnya Alfa, adiknya adalah orang yang mendukungnya, namun pada kenyataanya,Alfa orang yang berdiri paling depan menentang kehadiran putrinya, putri yang baru saja ia temukan, buah cintanya dengan wanita yang amat Alvaro cintai, dulu, kini dan selamanya.


"Aku akan membuat paman Alfa menerima ku, papa jangan bersedih" ucap Sandra berusaha menghibur Alvaro


"Kau tidak membenci pamanmu nak??" tanya Alvaro berbinar senang. Sandra menggeleng, sesungguhnya ia memang tak pernah membenci Alfa


Ia berusaha memahami perasaan Alvaro, Ayaka dan Lely


Jika Sandra di posisi mereka, mungkin saja akan merasa cemburu, tersaingi, terancam saat orang yang paling berati di rebut, tapi sungguh Sandra tak ingin berebut dengan mereka.


"Ku tak mungkin membenci keluargaku sendiri"


"Tapi aku tak suka istriku di rendahkan orang" ucap Aidan niatnya ingin membela namun dapat tatapan mengintimidasi dari Alvaro, sementara Sandra mantap Aidan dengan tatapan tak percaya.


"Apa kau memiliki kualifikasi berbicara disini??"


"Aku tak melihat siapa yang berbicara, apa kalian melihat??" tanya Layla malah halu membuat Sandra menepuk keningnya. Mulai lagi, Aidan menjadi sasaran mereka.


Sandra merasa kasihan juga, namun ia tak mau membela.


Biar saja papanya, Catty dan juga Layla melampiaskan kekesalan mereka pada Aidan, rasanya seperti meminjam tangan orang lain untuk membalas dendam.


Sandra hanya diam pura-pura tak melihat manakala Aidan menatap penuh harap Sandra membantunya.


"Kau layak mendapatkannya" ucap Sandra menahan tawanya


"Ah aku juga hanya mendengar suara" ucap Catty malah ikut permainan Layla


"Papa merinding, sepeti ga di ruangan ini ada setannya"ucap Alvaro juga ikutan halu, Sandra menepuk keningnya sediri.


Ia sungguh kasihan pada Aidan, papanya menyemprotkan pengharum ruangan ke arah Dian membuat Adian terbatuk dan mau tak mau ia keluar ruangan karena kemana Aidan pergi, Alvaro menyemprotkan pengharum ruangan itu sambil dengan suara mengusir.

__ADS_1


Sungguh Aidan yang malang, setelah Aidan keluar, Catty dan Layla tertawa kencang sampai memegangi perutnya yang kaku karena tertawa terbahak-bahak


"Papa kau luar biasa"


"Pa..kasian mas Aidan"


"Jangan membelanya!!!" bentak ketiga orang di ruangan tersebut, Sandra langsung menutup mulutnya


"Maaf kami hanya memberi pelajaran pada suamimu yang durhaka itu" ucap Alvaro mengelus puncak kepala putrinya


"Ya terserah kalian saja"ucap Sandra pasrah.


Kendrick lalu masuk ke dalam ruangan diikuti dokter spesialis kandungan, ia sengaja membawa Bawahnya itu untuk menerangkan kondisi Sandra pada Alvaro.


Akhirnya sepanjang sore itu Aidan hanya bisa menanti di luar, sebab tiga orang di dalam tidak memberi Aidan kesempatan untuk masuk


Kendrick sampai tertawa puas menertawakan penderitaan sahabatnya itu, ia mengajak Aidan menuju ruangannya, namun Aidan menolak


Ia hanya menatap Sandra dari kaca jendela.


Hingga akhirnya Alvaro pulang, Sandra meminta papanya untuk istirahat.


Ia melihat wajah Alvaro yang pucat dan terlihat kelelahan .


Begitu pula Layla, gadis cantik itu memilih pulang untuk mengganti pakaian


Begitu juga Catty,


"Awas kau macam-macam dengan saudariku, ku patahkan tulang rusukmu" ancam Catty


"Catty...."


"Iya, iya, huh ingat awas...." ancam Catty sebelum pergi.

__ADS_1


__ADS_2