
"Sayang.....stop!"
"Sekali saja ya?" Balin menawar. Gia menggeleng dengan tegas karena ia merasa lelah.
Bukannya mendengar jari-jemari itu sengaja diletakan di bagian titik terlemah Gia, hingga membuat sang empunya bergidik geli.
"Sayang sekalian kita mandi bersama, oke?" bisik Balin dengan mendesah, semakin memperdalam sentuhan tersebut.
Gia menggeleng lemah karena tidak sanggup. Tanpa menunggu persetujuan Gia, ia langsung menggendong ala bridal, masuk ke dalam kamar mandi.
Didalam kamar mandi ia melucuti semua pakaian hingga keduanya kini dalam kondisi polos. Dan kembali lagi keduanya saling bertempur, yang pasti jelasnya pertempuran membawa kenikmatan.
***
Dua bulan kemudian
"Bilang sama Mami Rika, anak siapa yang kamu kandung? kamu buat Mami malu!" Bentak wanita paruh baya dengan berurai air mata.
Rika hanya bisa terisak, membungkam mulut. Ia belum siap untuk memberitahukan siapa Ayah dari bayi yang sedang ia kandung.
Setelah melewati masa panas itu Rika banyak berubah, tidak banyak ngomong. Ia pun tidak berangkat ke kantor, ia hanya mengurung diri di kamar.
Hal itu membuat Mami Maya merasa heran tetapi dengan santai Rika memberitahukan jika kantor sedang memberi ia cuti.
"Jawab Mami Rika!" Bentaknya kembali sembari menangis.
__ADS_1
Tok tok
Ketukan pintu membuat mereka berdua terdiam sembari pandangan di arah pintu karena posisi mereka memang di ruang tamu.
Tok tok
Sekali lagi ketukan tersebut membuat Mami Maya beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menuju pintu, sebelum membuka pintu ia mengusap terlebih dahulu air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
KLEK
Deg
"Gi-Gia....." Gumam Mami Maya dengan mata membulat mendapati sosok Gia yang berada di hadapannya.
"Mami....." Balas Gia dengan lega karena rumah yang ia tuju ternyata benar. Tadi ia sedikit tak percaya karena rumah tersebut sangat sederhana.
"Mami tidak ingin mempersilahkan Gia untuk masuk?" mendengar ucapan Gia Mami Maya tersadar hingga tidak sadar meneteskan air mata.
"Mami minta maaf Gia," lirih Mami Maya dengan spontan memeluk Gia sembari menangis.
Gia mengangguk dan membalas pelukan tersebut sembari mengusap bahu yang tergoncang akibat menangis. Gia terlonjak kaget karena permintaan maaf tersebut, ucapan yang tak pernah ia duga selama ini.
"Gia juga minta maaf Mi," balas Gia.
Merdeka menguraikan pelukan tersebut. "Kemana saja kamu selama ini?" tanya Mami Maya sembari memegang kedua bahu Gia.
__ADS_1
Gia menelan ludah karena mendapati sorot pancaran yang tak biasanya. "Di Kalimantan Mi baru dua bulan ini Gia di Jakarta," sahut Gia. "Hmm Rika ada Mi?"
Mendengar nama Rika membuat Mami Maya terdiam, kembali lagi air mata itu tumpah. Hal itu membuat Gia menjadi panik karena pikiran negatif tentang Rika pun menghinggapi dirinya.
"Rika mana Mi?" tanya Gia kembali karena ia tak melihat keberadaan Rika yang duduk di pojokan sana.
"Ada didalam, ayo masuk," ucap Mami Maya.
Gia masuk dan kaget mendapati Rika yang tengah terisak dengan kepala menunduk. Hal itu membuat Gia diam sejenak sembari memperhatikan Rika dengan seksama, ada perubahan terlihat dengan jelas pada bentuk tubuhnya.
"Rika kenapa kamu menangis?" tanya Gia yang berdiri dihadapannya dengan dahi mengerut.
"Kak Gia," lirih Rika sembari mendongak hingga tatapan mereka bertemu.
Gia duduk di sebelah Mami Maya masih dengan perasaan janggal, ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan orang tua sambungnya dan juga Adik tirinya tersebut.
"Mami ad aapa dengan Rika? apa yang terjadi? apakah Rika sedang sakit?" tanya Gia bertubi-tubi.
Mami Maya menarik nafas, dadanya begitu sesak untuk mengatakan hal ini. Ia juga baru tahu apa yang terjadi kepada Rika, tentu saja hatinya begitu hancur menerima kenyataan bahwa Rika hamil diluar nikah, bahkan tidak tahu siapa Ayah dari bayi yang ada dalam kandungan Rika.
"Rika hamil!"
Bersambung.....
🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi