Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Mulai Baikan


__ADS_3

Lira berusaha membuka kedua matanya yang sulit terbuka, dia baru bisa tidur sekitar jam tiga dini hari. Pekerjaan yang menuntutnya harus menatap layar laptop selama ber jam jam, dan itu memang sudah resikonya.


Ada sedikit lingkaran hitam dibawah kedua mata Lira, dia turun dari tempat tidur dengan sedikit malas. Berjalan dengan gontai menuju arah jendela yang masih tertutup tirai.


Matahari belum sepenuhnya nampak, mungkin waktu masih menunjukan pukul setengah enam pagi. Setelah menyibakan tirai jendela, Lira berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebenarnya Lira masih mengantuk namun karena pekerjaan yang sudah mepet, terpaksa dia harus mengurangi waktu tidurnya.


Lira hanya bekerja melalui internet, namun dia harus menatap layar laptop selama beberapa jam, membuat matanya sedikit pegal.


Ketika berjalan kearah kamar mandi, Lira harus melewati sofa dimana biasanya Shean tidur. Karena kesadaranya yang belum sepenuhnya kembali, Lira tidak melihat didepannya ada kaki yang menjulang.


"Aduh.." Lira terjatuh dengan lutut yang mencium lantai "siapa yang menaruh kaki disini?" kesadaran Lira sudah kembali dan dia sudah mulai meninggikan suaranya.


Tidak ada respon dari Shean yang memang sedang tertidur, pelaku jatuhnya Lira adalah kakinya. Tapi dia tidak bisa disalahkan karena sofa yang memang tidak cukup untuk seluruh badannya, kakinya harus menggantung diluar sofa ketika berbaring.


Lira bangkit dari posisinya dan beralih menatap Shean yang masih menutup kedua matanya, tidak ada tanda tanda jika Shean terganggu dalam tidurnya.


"sebenarnya seberapa tinggi kau ini? sampai sampai sofa ini tidak cukup untuk berbaring" monolog Lira, entah didengar atau tidak oleh Shean.


Tampan. Itulah yang menggambarkan Shean saat ini, dia yang sedang tertidur lebih enak dipandang menurut Lira. Wajahnya yang damai, tidak menampakan aura dingin, ditambah memang Shean pria yang sangat tampan. Entahlah Lira yang berpikir seperti itu.


Tanpa sadar tangan Lira terulur untuk menyapa wajah Shean, namun tangannya hanya mengambang diudara.


"sudahlah.." Lira beranjak dari samping Shean dan kembali pada tujuannya, yaitu kamar mandi.


Plup


Pintu kamar mandi tertutup berbarengan dengan Shean yang membuka kedua matanya, sejenak dia menatap langit langit kamar kemudian tersenyum kecil.


☆☆☆


Hari minggu adalah hari yang paling dinanti nantikan oleh semua orang kecuali yang sedang menganggur, setiap hari adalah hari minggu. Begitu pula dengan Lira, namun dihari minggu yang cerah itu dia harus berkutat dengan benda tak bergerak didepannya, laptop.


Setelah Lira membersihkan diri dipagi hari, langsung dia menyambar laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum dia selesaikan semalam karena kantuk yang sudah menyapa. Lira tidak turun untuk sarapan, tepatnya tidak sempat.


Sudah sekitar tiga puluh menit Lira terduduk didepan meja kerja setelah Shean keluar dari kamar. Dia masih belum bangkit dari duduknya walaupun cacing cacing diperut sudah berontak. Mungkin memang Lira mengabaikannya.

__ADS_1


Ceklek


Shean berdiri didepan pintu untuk sesaat, melihat Lira yang sedang pokus bekerja. Shean masuk kedalam kamar dengan nampan dikedua tangannya. Dia berjalan ke arah sofa, menyimpan nampan yang berisi segelas susu hangat dan sepotong roti selai diatas meja.


"sarapan" kata Shean setelah dia berada disamping Lira.


"Um? aku tidak sempat, kau saja" jawab Lira dan masih pokus menatap layar laptop.


Mendengar jawaban dari Lira, Shean tidak mengatakan apapun untuk mamaksa istrinya sarapan. Dia kembali berjalan ke arah meja didepan sofa, kemudian mengambil segelas susu hangat.


"apa?" tanya Lira karena merasa terganggu.


Shean menyodorkan segelas susu hangat kehadapan Lira yang membuat penglihatannya terhalangi.


"sudah kubilang kau saja, aku sibuk. Dan awaskan itu!" kata Lira meminta atau lebih tepatnya menyuruh Shean untuk menyingkirkan gelas susu didepannya.


Shean memang menyingkirkan gelas dari hadapan Lira, namun dia masih berdiri disampingnya. Tidak nyaman. Itulah yang dirasakan Lira ketika ada seseorang yang memperhatikannya saat bekerja, mungkin jika dengan Shean adalah tidak nyaman yang berbeda.


"sudah kubi-" perkataan Lira terhenti ketika ada sesuatu yang menempel dibibirnya, dia sedikit terkejut ketika wajah Shean sangat dekat dengannya, hanya terhalang oleh gelas susu yang sekarang tertempel di bibirnya.


Lira hanya menghembuskan nafas kasar, dia harus menurutinya kalau mau cepat selesai "baiklah baiklah, hanya minum susu" Lira mengambil gelas ditangan Shean lalu meneguknya dengan cepat "Ah.. Sudah" Lira menyeka mulutnya dengan punggung tangan.


Shean tersenyum simpul melihat sikap Lira seperti anak kecil yang susah untuk diberi makan. Shean mengambil gelas ditangan Lira, membiarkan siempunya menyelesaikan kesibukannya dan dia mendudukan diri diatas sofa, memandang wajah serius Lira yang sangat imut di matanya.


☆☆☆


Jam sebelas siang Lira sudah selesai dengan pekerjaannya, dia merentangkan tangannya yang sudah mulai kaku. Berdiri dari duduknya dan menarik pinggangnya kebelakang.


"Satu-dua..." katanya.


"Wuh, akhirnya selesai juga. jam berapa sekarang?" Lira melihat jam tangan "sudah jam sebelas, berarti aku sudah duduk selama empat jam. Untung otot ototku masih bisa digerakkan, tapi tidak apa apa lah, dengan begini aku tidak perlu bekerja dengan keras untuk satu bulan kedepan" lanjutnya dan tersenyum cerah.


"dan aku bisa mengurus si Diqi dan Dea. Ah coba pekerjaan ini tidak mendadak, pasti sudah aku buat Dea kewalahan dengan pertanyaanku" batin Lira.


"Ada apa?" tanya Shean yang sedari tadi duduk diatas sofa.

__ADS_1


"sejak kapan kau disana?" Lira sedikit kaget, dan menatap nyalang kearah Shean.


"sejak kamu peregangan" jawab Shean tersenyum tipis.


"lain kali kau harus membuat suara supaya orang tau kau ada disana" kata Lira.


"kamu mau kemana?" tanya Shean ketika melihat Lira akan beranjak keluar kamar, Shean berdiri dan menghampiri Lira didepan pintu.


"keluar. kenapa?" Jawab sekaligus tanya terlontar dari mulut Lira.


Shean terlihat ragu ketika sudah sampai didepan Lira "makan siang..." Shean menggantung perkataannya.


"makan siang?"


"umm.." Lira memiringkan kepalannya heran dengan sikap Shean yang tidak seperti biasanya "sejak kapan kau ragu ragu saat berbicara?" tanya Lira.


"makan siang diluar" Shean mengatakannya dalam sekali nafas.


"Hah?"


"kamu mau makan siang diluar?" ekspresi Shean penuh harap, kini wajah dingin dan datarnya lenyap ketika sudah berhadapan dengan Lira.


Dalam hati Lira tersenyum, mendengar Shean mengajaknya makan berdua diluar. Setelah mereka menikah, Shean tidak pernah mengajaknya jalan berdua atau sekedar makan diluar. Sekarang tiba tiba Shean mengatakan itu, otomatis Lira sangat senang. Tapi mungkin akan berbeda jika Shean melakukannya ketika di awal awal pernikahan mereka.


"umm.." Lira terlihat berpikir, namun ada kejahilan di wajahnya.


"tidak ada salahnya juga untuk memperbaiki hubungan ini" kata Lira dalam hati.


"baiklah" jawab Lira, kemudian dia tersenyum cerah.


Shean sudah cemas Lira akan menolaknya, namun pikirannya salah, Lira menyetujuinya dan itu pertanda lampu hijau untuk Shean.


Shean menarik Lira kedalam pelukannya, dan memeluknya dengan erat. Hangat dan nyaman yang dirasakan oleh Lira, namun tangannya tidak membalas pelukan dari Shean. Dia hanya memejamkan matanya, menghirup dalam dalam aroma tubuh dari orang yang memeluknya.


"beri aku kesempatan untuk memperbaikinya" kata Shean lirih, namun masih bisa didengar oleh Lira. Dia hanya tersenyum tipis untuk menanggapinya, tapi jelas tidak dilihat oleh Shean.

__ADS_1


__ADS_2