Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Keinginan Mertua


__ADS_3

Shean tengah duduk dikursi kebesarannya setelah sepuluh menit yang lalu dia sampai dikantor miliknya. Hanya diam dan merenung, itulah yang saat ini sedang dia lakukan. Tanpa niat menyentuh berkas berkas didepannya yang memang sudah diurus oleh Key, tapi kan hanya sebagian.


Key yang duduk di sofa ruangan itu, memang sudah menyaksikan sikap adiknya sejak awal masuk sepuluh menit yang lalu, hanya diam dan tidak berkata apapun. Key membiarkan Shean dalam posisi seperti itu untuk waktu yang lama, sedangkan dia sendiri melakukan pekerjaannya sendiri. Namun lama kelamaan Key tidak bisa untuk tidak bertanya, dan memutuskan untuk menunda pekerjaannya.


"ada apa She?" tanya Key dan berjalan mendekati Shean, duduk dikursi didepannya.


"tidak ada" jawab Shean singkat.


Mendapat respon dari Shean yang seperti biasa, Key hanya mendecih "bagaimana tidak ada apa apa, dari pertama kau masuk kantor sudah seperti orang bingung" kata Key "jujurlah! coba kau katakan kenapa?" lanjut Key tidak bisa dibantah.


Shean menghela nafas singkat, dia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari Key.


"dady..." jeda Shean.


"dady? siapa yang kau panggil dady?" tanya Key.


"tuan Broto" jawab Shean.


"Oh ok. lanjut kan!"


"beliau minta aku dan Lira... " lagi lagi Shean ragu, membuat Key geram dibuatnya.


"minta apa?" Key tidak sabaran.


"cucu" cicit Shean sangat pelan, namun masih bisa didengar oleh Key.


Tak disangka sangka respon Key tidak sesuai dengan tebakan Shean.


"terus?" tanya Key "apa susahnya? Lagi pula kalian sudah lebih dari enam bulan menikah, jadi sudah waktunya untuk memikirkan memiliki anak" lanjutnya.


Shean hanya menatap Key datar, sebenarnya Key lupa atau pura pura lupa, jika pernikahan Shean awalnya hanya sebuah perjanjian. Dan Shean baru menyadari kesalahannya setelah beberapa bulan menikah, dan itu tidak mudah untuk membuat pernikahannya harmonis seperti orang lain. Terlebih Lira bukan lah seseorang yang dengan mudahnya melupakan sesuatu yang berbekas pada dirinya.


Tidak ada pengaruh apapun tatapan datar Shean untuk Key, dia hanya bersikap seolah olah apa yang dia katakan benar (ya emang bener).


"aku sudah dua tahun menikah..." jeda Key "dan masih belum dikaruniai anak, rahim Jeni tidak sesubur wanita lain" suasana jadi sedih setelah Key berkata seperti itu, ada sorot sendu dimatanya.


"..."


"kalau Min, Mia belum siap punya anak begitu juga yang lain. Jadi mereka di KB" kata Key "seharusnya kau dan Lira bisa secepatnya memberikan papa dan mama cucu" kenapa jadi melow.


Shean hanya jadi pendengar yang baik, dia menundukan pandangan namun mempertajam pendengaran. Tapi dia bertanya tanya dalam hati, bagaimana dia dan Lira bisa mempunyai anak jika dia belum pernah menjalani malam pertamanya bersama Lira. Namun Shean tidak mungkin mengatakan itu didepan Key bukan, bisa bisa Key akan melayangkan kepalan tangannya lagi ke wajah tampan Shean.


☆☆☆


Lira sekarang tengah duduk dimeja makan, belum waktunya makan siang namun dia sudah berada disana. Sebenarnya Lira bukan berniat datang lebih awal untuk makan siang, dia menemani Dea makan buah buahan. Aneh memang, pasalnya Dea tidak pernah meminta sesuatu pada orang lain karena takut merepotkan. Tapi dia malah meminta Lira untuk menemaninya, bahkan Lira sudah duduk selama setengah jam melihat Dea yang sedang makan buah dengan rakus.


Lira jadi ngeri sendiri melihat seorang Dea yang pendiam bisa makan dengan sangat tidak elegan seperti itu, bahkan dengan melihatnya saja Lira sudah kenyang.

__ADS_1


"De kau tidak berniat untuk membaginya denganku?" hanya basa basi.


Pasalnya Lira yang sedang duduk cantik membaca komik didalam kamar, harus menghentikan kegiatannya kerena rengekan Dea. Rengekan? ya tidak salah, Dea merengek didepan Lira tapi bukan rengekan seperti anak kecil. Lira yang baik hati tidak enak untuk menolaknya, jadilah dia berakhir jadi penonton orang makan.


"tidak, kau bisa ambil sendiri" jawab Dea.


"sudah ku duga, sebenarnya dia kesurupan atau apa sih sampai bisa makan seperti itu? bahkan ini sudah mangkuk ketiga yang berisi irisan buah. lebih parahnya, rata rata buah yang rasanya asam" Lira geleng geleng kepala.


"kalau aku, bisa bisa langsung masuk rumah sakit" lanjut Lira dalam hati.


Lagi asik asiknya menonton orang makan, Jeni datang dengan membawa sesuatu ditangannya, kemudian duduk disamping Dea.


"apa itu kak?" tanya Lira.


"ayam goreng, kau mau?" tanya Jeni.


"aku-"


"tapi beli sendiri" lanjut Jeni dan langsung melahap makanannya.


Lagi lagi Lira hanya menjatuhkan rahangnya, melihat kedua orang yang dekat dengannya seperti saudara perempuan itu, tengah makan dengan rakus dan tidak seperti biasanya. Bahkan dengan teganya tidak membaginya dengan Lira (kasihan Lira).


"kenapa Ra?" tanya Ria yang tiba tiba saja datang diikuti Rina.


Sekarang memang sudah mendekati waktu makan siang, Tapi para asisten rumah tangga masih belum menyajikan makanan.


Lira tidak menjawab, dan hanya menunjuk arah depannya menggunakan dagu.


Ahirnya tawa menggelegar tercipta dari ketiga orang yang sedang menonton acara makan, tentu saja Lira, Ria, dan Rina. Melihat ketiga adiknya menertawakannya, Jeni menatap mereka tajam membuat tawa itu berhenti seketika.


Lira sudah harap harap cemas, kalau kalau Jeni akan marah atau merasa terusik. Namun kejadian berikutnya membuat Lira juga Ria dan Rina menjatuhkan rahangnya sejatuh jatuhnya. Jeni dan Dea menangis terisak.


☆☆☆


Sepulang dari kantornya, Shean menemukan Lira sedang merebahkan dirinya diatas sofa. Tanpa menyadari Shean yang baru saja masuk kedalam kamar, Lira masih saja memejamkan matanya dengan tangan ditaruh dikening. Sepertinya dia cukup lelah, dan tertidur setelah membersihkan diri.


Shean mendekati sang istri yang tidak sadar dengan keberadaannya, dia duduk disamping Lira. Sofa yang sering dijadikan Shean untuk tidur memang memiliki lebar yang cukup untuk dua orang berbaring, namun panjang sofa tidak cukup untuk menopang kakinya.


Lira masih belum sadar keberadaan Shean disampingnya, dan masih setia menutup mata. Shean tersenyum tipis, diperhatikannya Lira yang sedang tertidur dengan tenang membuat hatinya menghangat dan juga damai. Seakan semua beban pekerjaan seketika menghilang.


Tangannya terulur mengambil tangan Lira diatas kening dan menggenggamnya, tangan satunya dia gunakan untuk mengusap pipi putih Lira yang sedikit cubby. Lagi lagi Shean tersenyum tipis, melihat Lira yang sepertinya mulai terganggu karena aktivitasnya.


"umm~ " gumam Lira, perlahan membuka matanya.


Shean melepaskan genggamannya pada tangan Lira dan membantu Lira untuk bangun.


"kau sudah pulang?" tanya Lira dengan suara orang khas bangun tidur.

__ADS_1


"um" jawab Shean.


"jam berapa sekarang?" tanya Lira sambil mengucek ngucek matanya.


"jam delapan malam" jawab Shean dan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Lira.


Lira sudah sadar sepenuhnya dari tidur singkatnya, mata kristalnya menatap Shean yang terlihat lelah.


"kau terlihat lelah, mandilah! apa kau sudah makan malam? aku akan pergi ke dapur untuk menyiapkannya" kata Lira dan berniat menyiapkan makan malam untuk Shean.


Namun sebelum Lira beranjak dari sofa, Shean menahan Lira dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Lira. Sedangkan dagunya dia tempatkan dipundak sempit Lira, perlahan memejamkan matanya.


Lira hanya diam membiarkan Shean dalam posisi seperti itu, walupun tidak biasanya Shean bertingkah manja.


"She.."


"sepuluh menit" sela Shean.


Lira mengerti perkataan Shean dan membiarkan bahunya menjadi tumpuan dagu Shean untuk sepuluh menit kedepan.


"ada apa dengannya? tidak biasanya seperti ini. sebenarnya cukup aneh dan menggelikan, tapi ya sudah lah" gumam Lira dalam hati.


Sepuluh menit telah berlalu, bahu Lira juga sudah mulai keram karena seseorang masih menjadikannya tumpuan.


"She.." panggil Lira.


"..."


"Shean" panggil Lira kedua kalinya.


Tidak ada respon dari Shean, hanya ada dengkuran halus yang Lira dengar dan hembusan nafas yang teratur. Shean tertidur.


Lira memposisikan tubuh Shean agar terbaring diatas sofa, walaupun kakinya harus ditekuk.


"aku tidak mau membangunkannya, jadi biarkanlah" batin Lira.


Sejenak dia memperhatikan pahatan wajah Shean yang terukir sempurna, Lira tersenyum teduh. Lira berbalik dan melangkahkan kaki tujuannya adalah tempat tidur, namun baru saja satu langkah, tanganya ditarik oleh Shean dan memposisikannya dalam pelukan Shean yang sedang tertidur. Lira jelas terkesiap atas tindakan tiba tiba Shean.


"She.."


"..."


"Shean"


"..."


Shean seakan menulikan pendengarannya, padahal jelas jelas dia pasti sadar ketika menarik Lira kedalam pelukannya. Lira hanya menghela nafas kasar dan membiarkan Shean memeluknya dari belakang, dalam posisi tidur.

__ADS_1


"Huh. Terpaksa malam ini aku harus tidur di sofa yang sempit" sesal Lira.


Dan berakhirlah Lira tidur disofa dengan Shean yang memeluknya dari belakang.


__ADS_2