
Usai pulang dari makan malam Balin dan Gia saling bercengkrama di atas ranjang dengan Balin meletakan kepalanya di kedua paha Gia. Sementara Gia dengan betah mengusap dan menyisir helaian rambut suaminya menggunakan jemarinya.
"Sayang aku iri deh," ucap Gia dengan manja, menatap ke bawah dimana wajah suaminya.
"Iri? iri kenapa sayang?" tanya Balin dengan dahi mengerut karena tiba-tiba istrinya itu mengatakan kalimat yang baru kaki ini didengarnya.
"Karena, karena Rika diberi kesempatan hamil, sedangkanku_____"
"Sut..... sabar sayang semua sudah diatur jadi jangan berkecil hati," sanggah Balin sembari menempelkan jari telunjuknya ke bibir Gia.
"Aku selalu berdoa, semoga segera dikabulkan," ucap Gia tak semangat.
"Sayang semuanya butuh proses. Kita saja baru dua bulan benar-benar menjadi pasangan suami istri. Hmm jujur saja aku ingin kita menikmati masa berdua kita, anggap saja saat ini proses pacaran kita." Terang Balin sembari mengusap wajah cantik itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Gia tersenyum, hatinya menghangat setelah ada kegundahan yang dirasakan.
"Sayang kamu ingin memiliki anak berapa?" tanya Gia ingin tahu.
"Dua, satu laki-laki dan satu lagi perempuan," sahutnya sesuai kata hatinya.
"Kok sama."
__ADS_1
.
"Berarti kita memang jodoh sayang." Balin langsung ******* bibir itu sekilas.
"Aku sangat mencintaimu....." akui Gia dengan mata berkaca-kaca.
"Aku juga sangat mencintaimu....." balasnya dengan perasaan hari sembari mengecup punggung tangan Gia.
Keduanya saling senyum dengan hati penuh cinta. Cinta yang benar-benar tumbuh dengan kejujuran tanpa dibuat-buat.
"Hmm apa Papi sudah pulang?" ucap Gia karena mereka terlebih dahulu pulang, sengaja memberi ruang untuk kedua orang tuanya. Sedangkan Rika dibawa Putra ke apartemennya. Minggu depan mereka akan melangsungkan pernikahan.
"Mungkin sudah sayang. Hmm biarkan Papi dan Mami sendiri menyelesaikan masalah mereka."
"Hmm sayang cetak anak yuk?" goda Balin sembari mengedipkan mata. Spontan saja wajah Gia memerah. Walau mereka sering melakukannya tapi tetap saja wajahnya ini merona.
"Sayang..... geli....."
***
Satu tahun kemudian
__ADS_1
Balin bersama Gia memilih tinggal berdua. Dengan penghasilan mereka berdua mampu membangun rumah impian yang lebih megah dari kediaman orang tuanya.
Gia melamun di kursi yang terdapat di kolam renang. Sudah dua tahun lebih usia pernikahan mereka tetapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda yang selalu di panjatkan, yaitu doa.
Selama ini mereka pernah konsultasi dan mengecek kesehatan tetapi tidak ada yang salah diantara mereka. Sama-sama subur tapi entah kenapa sampai sekarang belum diberi kesempatan seperti para Ibu lainnya.
"Aku ingin rumah ini di penuhi tangisan serta tawaan bayi," lirih Gia sembari meneteskan air mata. Hanya inilah yang selalu ia lontarkan jika sedang melamun seorang diri. Sementara Balin masih berada di luar kota karena ada pekerjaan di sana.
Balin sama sekali tidak mengungkit tentang anak karena tidak ingin istri tercintanya tersinggung. Walau dari hati yang paling dalam ia mendambakan sebuah anugerah yang belum bisa mereka miliki.
Sementara Rika dan Putra sudah dikaruniai anak perempuan seperti yang diinginkan Putra sebelumnya. Bahkan Rika kembali tengah berbadan dua dengan usia kehamilan empat minggu, padahal anak pertama mereka baru berusia lima bulan. Putri mereka lahir secara prematur tetapi sekarang sangat sehat dan mengemaskan. Kadang-kadang jika ada waktu luang Gia akan membawa keponakannya itu.
Drrrtt
Ponsel di atas meja bergetar hingga lamunan Gia membuyar, melihat yang menghubungi adalah suaminya dengan cepat Gia menghapus jejak air mata, ia tidak ingin suaminya tahu bahwa dia lagi bersedih.
Keduanya mengobrol, sesekali tertawa. Perasaan rindu tentu saja menyelimuti hati keduanya karena sepasang suami-istri itu sulit untuk dipisahkan. Kadang Gia juga ikut keluar kota jika ada pekerjaan tapi kali ini tidak bisa ikut karena pekerjaan di kantor pusat cukup padat dan tak bisa ditinggalkan.
Bersambung.....
🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi