Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Kisah Cinta


__ADS_3

*Seorang pemuda tampan yang berusia kisaran dua puluh tahunan tengah terduduk dikursi taman dikampusnya tersebut. Wajah tampannya terlihat berseri seri menunggu kedatangan sang kekasih.


"She.. maaf telat. tadi aku ada kelas" kata seorang gadis yang baru saja terduduk disamping pemuda tampan itu.


"mm. tidak apa" jawab pemuda itu.


"oh ya She kita mau kemana setelah ini?" tanya sang kekasih.


"kemana pun yang kamu mau" pemuda itu tersenyum simpul.


"benarkah? kalau begitu bagaimana kalau pergi kebioskop saja? sudah lama kita tidak nonton" kata gadis cantik itu antusias.


"baiklah"


Mereka berdua beranjak pergi untuk menonton dibioskop berasama. Sepasang kekasih itu memang terlihat sangat serasi dan cocok. yang satu cantik dan peminim dan yang satu lagi tampan dan ramah.


Mereka telah menjalin asmara sekitar dua tahun lamanya semenjak mereka sama sama Major di kampusnya. Walaupun mereka tidak satu jurusan, tapi mereka selalu menyempatkan waktu untuk pasangan ditengah kesibukan masing masing.


Shean dan Selena pasangan kekasih itu, mereka sekarang sudah semester empat dan sebentar lagi akan ada ujian di akhir semester. Tapi karena pada dasarnya mereka anak anak yang cerdas itu tidak akan mempersulit mereka, jika sehari saja mereka tidak belajar.


Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. sekarang Shean dan Selena sudah akan lulus S1 dikampusnya.


Shean yang memilih meneruskan perusahaan sang ayah dikota S, dan Selena yang memilih melanjutkan pendidikan diluar negeri.


Jarak tidak bisa menjadi penghalang bagi pasangan itu, mereka masih bisa berkomunikasi jarak jauh.


Namun suatu hari setelah kepergian Selena selama satu tahun, Shean sudah tidak dapat kabar lagi dari kekasih tercintanya. Dia berusaha menghubungi sang kekasih dari mana pun, namun nihil Selena seakan ditelan bumi.


"sebenarnya kau dimana lena" Shean berujar prustasi.


"aku mengkhawatirkanmu" lanjutnya.


Shean benar benar sudah tidak tau lagi harus mencari sang kekasih kemana. Sehingga suatu hari teman dari Shean memberi tau bahwa Selena sudah menikah dengan pengusaha kaya di Jerman.


Seketika Shean syok dan tidak punya semangat hidup lagi. Bahkan ayah dan saudara saudaranya tidak bisa menghibur Shean, dan berusaha mengembalikan Shean yang dulu.


Shean hancur. Masa depan yang telah dia tata sedemikian rupa, harus lenyap karena Selena berkhianat. Shean mengurung dirinya selama hampir setengah tahun, dan itu lah saat saat paling terpuruk bagi Shean*.


☆☆☆


Shean membuka pintu kamarnya perlahan, dia sedikit mabuk malam itu. Pandangannya menyusuri setiap sudut kamarnya namun tidak menemukan sosok gadis yang sering tidur diatas sofa.


"kenapa aku harus mencarinya. terserah dia dimana" kata Shean dan langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur.


Pikirannya melayang kebeberapa tahun yang lalu ketika dia merasa dirinya adalah orang yang paling bahagia dalam hidupnya.


Shean menghela nafasnya dalam, dan mengingat pertemuannya dengan mantan kekasihnya yang membuat dirinya berakhir di *Bar dan minum beberapa gelas wine*.


"apa keputusan ku kali ini adalah yang terbaik?" tanyanya kepada diri sendiri.

__ADS_1


Shean mencoba memejamkan matanya untuk tidur diatas kasur empuk itu. Dia melupakan bahwa dia sudah satu minggu tidur disana, dan seharusnya sekarang yang menempati kasur empuk itu adalah istrinya, dan dia harus tidur di sofa.


Namun Lira tidak terlihat disana setelah tadi pagi dia bertemu dengannya. Lira tidak pulang kerumah Shean dan dia belum menyadarinya.


TRING


Dengan susah payah Shean membuka ponsel pintarnya, hanya untuk sekedar melihat siapa pengirim pesan ditengah malam.


Selena


*Selamat malam She tidur yang nyenyak


Nanti kita bisa bertemu lagi


Semoga kita masih bisa seperti dulu lagi*


Shean tersenyum melihat nama orang yang mengiriminya pesan itu. Dia menyimpan ponsel diatas nakas, dan bersiap untuk terjun kealam mimpi.


☆☆☆


Lira hanya berguling guling diatas kasurnya, dan tidak berniat untuk sekedar memejamkan matanya. Dia tidak bisa tidur mengingat semua permasalah yang ada dirumah pratama itu.


"apa yang harus aku lakukan?" monolognya.


Lira bingung harus berbuat apa, dia tidak mungkin hanya berpangku tangan melihat ipar iparnya mengatasi masalah sendirian, sedangkan dia bisa membantu.


Walaupun penikahannya dan Shean hanya sebuah perjanjian, dan tidak akan lama akan bercerai. Namun sifat toleransinya itu sulit dihilangkan.


Tok tok tok


"Ra. kamu sudah tidur?" tanya seseorang dibalik pintu.


"belum kak, masuk aja" Lira mendudukan dirinya diatas kasur.


Dion masuk kedalam kamar adiknya yang rapih itu, lalu berjalan menghampiri Lira diatas kasur.


"kamu sudah baikan Ra?" tanya Dion lembut.


"mm. Rara baik kak" Lira tersenyum manis.


Dion hanya bisa mengusak rambut adiknya yang cantik itu.


"jika kamu punya masalah, kakak siap mendengarkan Ra. jangan disimpan sendiri" kata Dion.


"Sebenarnya ada kak..." Lira sedikit ragu.


"apa? apa ini tentang si Shean itu?" tanya Dion yang tiba tiba mulai sinis.


Lira tersenyum penuh arti "bukan itu kak. tapi akhir akhir ini aku lihat di internet ada tas limitid edition. itu bagus kak-"

__ADS_1


"kakak akan membelikannya untukmu" potong Dion.


Lira memekik senang dan langsung memeluk kakaknya.


"tidurlah" kata Dion setelah melepas pelukannya.


"mm"


☆☆☆


Lira bangun dari tidurnya karena suara berisik yang terdengar dilantai bawah. Lira menyibakan selimutnya dan berjalan menuju pintu kamar dengan mata yang masih sayu.


Lira tidak berniat untuk sekedar mencuci muka, karena dia sedang malas.


Rambut berantakan, mata sayu, bahu yang sedikit terekpos karena kaus hitam kebesaran yang dikenakannya, itu cukup menggambarkan Lira dalam dua kata. Imut dan cantik.


"kenapa berisik sekali dad?" tanya Lira dengan suara khas orang bangun tidur. Lira belum menyadari kehadiran seseorang yang sedang duduk disofa ruang keluarganya.


"sayang kamu sudah baik- maksudnya sudah bangun?" tanya tuan Broto kikuk.


"mm, aku masih mengantuk sebenarnya. tapi perutku lapar" kata Lira manja.


"sebaiknya kau memberi tauku jika ingin kemari" suara berat menyapa pendengaran Lira, dia menoleh kesebelah kiri.


"kau?" tanya Lira.


"ya sayang, tadi dady memberi tau Shean kalau kamu menginap disini semalam" kata tuan Broto dan masih tersenyum cerah.


"lalu kau mau apa kesini?" tanpa sadar Lira berkata sinis.


"tentu saja untuk mengajakmu pulang sayang.." perkataan tuan Broto terpotong.


"ini rumah Lira. dia mau diajak pulang kemana?" Dion baru saja turun dari atas tangga.


"pulang kemana?" Dion mengulang pertanyaannya dan menatap Shean sinis, namun sedetik kemudian ekspresinya berubah dan tersenyum cerah menatap Lira dan mengusak rambutnya.


Cup


Dion mencium pipi Lira yang putih itu.


"kakak~" Lira berkata manja.


"apa?" Dion tersenyum jahil "seharusnya kau cepat cepat mandi, bukankah kita akan membeli tas" lanjut Dion.


"Wah benar juga Rara lupa. kalau begitu tunggu ya kak" Lira melesat kelantai atas dan masuk kedalam kamarnya untuk mandi.


Shean melihat semua kejadian didepannya itu, dia sedikit tertegun namun bisa diatasinya.


"apa maksudmu Dion? Lira harus pulang dengan Shean" kata tuan Broto.

__ADS_1


"aku hanya ingin membahagiakan adikku dad. hal yang seseorang tidak sanggup berikan" Dion tersenyum miring kearah Shean.


__ADS_2