
Seminggu setelah kejadian dimana Shean yang tiba tiba memeluk Lira, mereka berdua jadi jarang berbicara (emang Shean irit bicara). Lira juga lebih pokus dengan mencari cara untuk membongkar kedok Mia tanpa membuat pihak lain bersedih, namun sulit jika harus membuat Min melihat kebusukan istrinya secara langsung.
Diqi menyarankan untuk menyerahkan bukti itu saja ke Min, namun Lira masih menimbang nimbang, dan itu membuat Diqi gereget sendiri. Tapi Lira tidak punya cara lain lagi jika bukan menunjukan video itu. Akhirnya Lira setuju dengan saran Diqi, dan mereka sudah merencanakannya dari tiga hari yang lalu.
Bagaimana mencari waktu yang tepat untuk membongkar semuanya supaya tidak terlarut larut.
Kebetulan hari ini adalah hari minggu dan semua anggota keluarga ada dirumah, namun tidak semua karena Shean sedang ada urusan diluar.
Dari pagi hari Lira dan Diqi sudah mengatur semuanya dengan baik, bagaimana mereka menunggu semua berkumpul disatu tempat yang sama.
Dan ini lah saatnya, sekarang semua sedang berkumpul diruang tamu setelah makan siang. Suasananya sangat mendukung sekarang.
"apa kau siap ra?" tanya Diqi serius.
"jangan berlebihan! kita tidak akan pergi berperang" jawab Lira datar.
"serius dikit dong ra" kata Diqi.
"emang mau ujian harus serius" Lira masih cuek.
Diqi hanya mencebikan bibirnya, dan itu membuat Lira terkikik kecil.
"ayo-"
"kalian mau kemana?" tanya seseorang tiba tiba, dan membuat Lira dan Diqi berbalik dan menghentikan niat mereka.
☆☆☆
Semua orang benar benar kaget dengan apa yang mereka lihat saat ini. Video dimana Tam dan Mia yang sedang berada diperpustakaan membuat semuanya kecewa dan tidak percaya dengan semua itu.
Bahkan Lira dan Diqi pun tidak kalah terkejutnya dengan apa yang Jeni tunjukan beberapa saat lalu. Lira bukan terkejut dengan videonya melainkan dengan bagaimana Jeni bisa punya video itu.
Beberapa saat lalu ketika Lira akan menyerahkan bukti hubungan Mia dan Jhon, Jeni datang menghampiri mereka dan mengatakan bahwa dia yang akan membongkar kebusukan Mia.
Jeni tidak ingin Lira dan Diqi terkena masalah kedepannya karena permasalahan ini. Jadi dia yang akan menanggung apapun setelah menyerahkan bukti itu termasuk amarah yang sedang Min tumpahkan kepadanya.
Min tidak percaya dengan video itu dan dia mengira itu adalah rekayasa Jeni saja, sedangka si rubah licik sedang berekting menangis.
Ria sudah pergi kekamarnya karena tidak kuat dengan apa yang dia lihat, walaupun dia tau suaminya masih menyukai Mia, namun dia tidak pernah menyangka jika Tam akan melakukan hal 'itu'. Sedangkan Tam hanya bisa diam dan tidak ingin membantah semua yang dikatakan Jeni, karena memang benar itu adanya.
Min bukannya tidak tau namun dia berusaha menutup matanya, karena dia sangat mencintai Mia. Ada raut kesedihan disana saat dia membela Mia, matanya sedikit berkaca kaca.
Diqi mengisyaratkan Lira untuk menyerahkan bukti yang satunya lagi agar Min benar benar percaya. Lira maju mendekati Min yang sudah memerah menahan kesal yang ditujukan pada Jeni. Key? dia juga membela Min tentunya sebagai seorang adik dan malah tidak mempercayai istrinya. Bukan tidak percaya tepatnya, namun dia tidak mungkin menyudutkan Mia juga, intinya dia ingin menjadi netral.
__ADS_1
"Ini kak.." Lira menyerahkan benda pipih itu kehadapan Min.
"apa lagi ini?" kata Min yang masih menahan emosi.
Sungguh, Lira tidak pernah menyangka Min akan semarah itu, dan dia juga sebenarnya tidak ingin melihat Min yang seperti itu.
"aku tidak ingin membela siapapun dan tidak ingin menyudutkan siapa pun. Namun aku juga tidak ingin kak Min terbutakan oleh cinta palsunya (maksudnya cinta palsu Mia)." kata Lira tenang dan masih mengatur kata katanya.
Min sudah tidak tau harus bereaksi seperti apa lagi ketika harus dihadapkan dengan dua bukti sekaligus yang menyudutkan istrinya. Dia yang tadinya berdiri dengan wajah yang merah padam, langsung duduk disofa dengan tidak elitnya, kepalanya tertunduk dan kedua tangannya diatas kepala.
Melihat reaksi Min yang seperti itu, Key langsung menyambar ponsel yang ada diatangan Min. Sungguh reaksinya bertolak belakang dengan Min saat ini. Dia langsung berjalan mendekati Jhon dan menarik kerah baju Jhon yang membuat siempunya kaget seketika.
"ada apa kak Key?" kata Jhon panik.
BUG
Key mendaratkan sebuah pukulan yang sangat keras dipipi Jhon yang membuat siempunya tersungkur.
"ada apa kak Key. kenapa kau memukul Jhon?" kata Rina dan menghampiri suaminya yang tengah memegang pipinya yang lebam.
"lihatlah sendiri!" kata Min dan menyerahkan ponsel ke Ria.
Ria membolakan matanya saat melihat apa yang ada di dalam layar ponsel itu, dan kemudian melihat Jhon sendu. Tanpa berkata apapun Ria berlari menuju kelantai atas dan masuk kedalam kamarnya dengan berlinangan air mata.
"ini semua gara gara kau" kata Mia dengan wajah yang tidak merasa bersalah sama sekali.
"MIA" Jeni membentak Mia "aku yang menunjukan videonya duluan kenapa kau menampar Lira?" Jeni benar benar kesal.
Mia tidak berkata apapun lagi. Dia pergi begitu saja dengan pandangan yang sulit diartikan tertujukan kepada Lira.
"akh dia dendam padaku" kata Lira dalam hati.
Semuanya benar benar kacau, dan ekspresi semua orang sudah tidak beraturan. Semua sudah pergi ke kamarnya masing masing untuk mengistirahatkan pikiran mereka.
Tinggallah Lira yang sedang mengelus pipinya yang terasa perih dan memerah.
"kau tidak apa ra?" Diqi terlihat khawatir.
"lumayan juga tamparannya" Lira tertawa renyah.
Diqi menyentuh pipi Lira dan mengelusnya supaya bisa mengurangi rasa sakitnya. Niatnya baik, namun disalah artikan oleh seseorang yang baru saja datang.
"Ekhem" deheman kecil membuat Diqi membeku seketika, dia tau betul suara yang selalu membuatnya akan menjadi es.
__ADS_1
"eh kak Shean sudah pulang" Diqi tersenyum getir "kalau begitu aku pergi dulu ra" Dia langsung melesat pergi.
☆☆☆
Lira sudah duduk dipinggir tempat tidur dikamarnya dan sedang mengompres pipinya dengan batu es. Dia meringis karena dinginnya es dan juga perihnya bekas tamparan.
"tamparannya benar benar kuat" monolog Lira.
Shean masuk kedalam kamar dan membawakan salep dingin untuk menetralisir rasa sakit dipipi Lira (anggap aja ada).
Dia duduk disamping Lira dan memposisikan tubuh Lira menghadapnya, yang membuat siempunya sedikit protes.
"aku bisa sendiri" tolak Lira ketika Shean akan mengoleskan salep ke pipi Lira.
Lira berniat mengambil salep itu dari tangan Shean, namun Shean menahan tangan Lira dalam genggaman tangannya. Kemudian Shean mengoleskan salep dingin itu kepipi putih Lira yang sedikit memerah.
Shean mengoleskannya dengan lembut dan terlihat hati hati. Dia menatap pipi Lira dengan tatapan dingin dan datar, namun itu membuat Lira merasa jantungnya berdetak tak karuan. Lira juga merasa aneh dan tidak tau kenapa, namun saat melihat wajah Shean yang begitu dekat dengannya dia jadi merasa gugup.
Pasalnya Shean saat ini benar benar tampan dengan sorot matanya itu. Wajah dingin dan datarnya membuat dia lebih mempesona.
Lira adalah orang yang buta akan apa arti cinta yang sesungguhnya, karena dia memang bukan orang yang mau ribet mengurusi hal itu. Bahkan ketika hatinya mulai bergetar saat ini, dia juga tidak menyadarinya.
"jangan lagi" kata Shean setelah selesai mengoleskan salep itu.
Lira sedikit terkejut dengan suara berat Shean yang membuyarkan lamunannya.
"yah siapa yang mau seperti ini, dia tiba tiba menamparku" kata Lira enteng dan ingin beranjak dari tempatnya duduk, namun tangannya ditahan oleh Shean.
"ada apa?" tanya Lira tidak sabar.
Shean tidak mengatakan apa apa, dia hanya menatap wajah Lira lekat dengan ekspresi datarnya itu. Lira yang merasa risih dan prustasi kerena tidak bisa membaca isi hati Shean pun akhirnya bicara "kalau tidak ingin bicara, lepaskan!" Lira tidak sinis hanya saja kata katanya sedikit memerintah.
Lira mulai jengah dengan sikap Shean dan kembali berusaha menghempaskan tangan Shean namun sedetik kemudian....
GREB
Shean menarik Lira kedalam pelukannya dan itu membuat Lira terkesiap, Lira berontak namun tenaganya jelas lebih kecil dari Shean.
"jangan terluka" kata kata itu membuat hati Lira sedikit menghangat, dan dia tidak berontak lagi.
"ini seperti dejavu" batin Lira.
Seminggu yang lalu Shean juga memeluk Lira seperti ini, karena dia tidak tau harus bersikap seperti apa untuk mengekspresikan perasaannya. Karena pada dasarnya Shean adalah orang yang tidak pandai berkata kata, apalagi dengan dirinya yang sangat irit bicara.
__ADS_1