
1 minggu berlalu
Hari ini Gia benar-benar menata hidupnya kembali. Ia sekarang tidak lagi terlalu terpuruk dengan masa lalu, walau sangat sulit untuk dilupakan karena ia sudah terlanjur punya perasaan terhadap Balin.
Gia tidka ingin berdiam diri saja di kediaman Bi Ani karena ia tidak ingin semakin merepotkan. Untung-untung ia diberi kesempatan untuk tinggal di rumah itu.
Sesuai anjuran Bi Ani, Gia akan melamar pekerjaan. Sepertinya ada beberapa cabang perusahaan lagi membutuhkan karyawan. Kebetulan ada salah satu perusahaan yang baru saja di buka, selama 5 bulan ini berjalan.
Gia pagi-pagi sudah bangun. Kebetulan dua hari ini Bi Ani kurang sehat hingga membuatnya menyiapkan sarapan pagi dan beres-beres rumah.
"Bi sarapan dulu, ini Gia buatin bubur. Bibi makan ya biar bisa minum obat," ucap Gia sembari meletakan napan di atas meja kecil yang dapat diletakan di atas kasur.
Bi Ani terbangun dari pembaringannya. Sungguh seluruh tubuhnya terasa sakit hingga membuatnya sulit bergerak.
"Terima kasih Nak, maaf sudah merepotkan," ucap Bi Ani dengan tidak enak hati.
Gia tersenyum karena ia sama sekali tidak direpotkan seperti yang dituduhkan oleh Bi Ani.
"Tidak masalah Bibi. Hmm pagi ini Gia ingin mencari pekerjaan. Apa tak masalah Bibi, Gia tinggalkan?"
"Bibi sudah terbiasa sendiri Nak, jadi kamu jangan khawatirkan Bibi. Fokuslah pada lamaran mu, Bibi yakin dengan cepat kamu diterima." Harapan Bibi dengan senyuman.
"Amin Bi," sahut Gia.
"Ya sudah kamu segera sarapan, Bibi bisa makan sendiri," ucapnya.
Gia mengangguk
***
Kini Gia berjalan di terik matahari. Ia sengaja berjalan kaki karena belum mengenal situasi kota tersebut. Bi Ani memiliki sepeda motor tapi tak ia gunakan dengan alasan belum hafal dengan lokasi.
Tujuan Gia tertuju pada perusahaan yang berada diantara pusat pembelanjaan serta sebuah klinik besar.
Dengan menggenakan rok hitam dan baju kemeja warna putih, dan di tangannya sebuah map. Ia berjalan menyeberangi jalan untuk tiba di gedung cukup besar tersenut, tetapi jika di bandingkan dengan gedung perusahaannya, maka ini tak seberapa besarnya.
Tepat di depan gedung tersebut, Gia mendongak ke atas. Memandangi ketinggian gedung tersebut. Ia pun berjalan hingga saat ini kakinya menapaki lobi.
Ia pun menarik nafas sebelum mempertanyakan apakah di sini memerlukan karyawan. "Semoga saja ada," batin Gia sangat berharap karena ia sudah merasa cocok dengan perusahaan tersebut.
"Selamat pagi Nona," sapa seorang satpam menyapa Gia. "Dia sangat cantik," batinnya memuji paras cantik Gia.
__ADS_1
Gia mengangguk
"Maaf Pak jika saja menganggu. Apakah di perusahaan ini membutuhkan tenaga kerja?" tanya Gia.
"Silahkan Nona langsung bertanya kepada resepsionis. Seperti yang saya ketahui, memang benar perusahaan ini membuka lowongan kerja," terang sang satpam hingga berhasil membuat perasaan Gia sedikit lega karena ada harapan untuk diterima.
"Terima kasih Pak," ucap Gia disertai senyuman.
Sang satpam salah tingkah sendiri karena senyuman manis Gia. Lalu tak lama ia mengangguk.
Gia segera berjalan menuju meja resepsionis. Ingin menanyakan apakah masih ad lowongan pekerjaan.
"Selamat pagi Mbak," sapa Gia dengan ramah.
"Selamat pagi. Apa ada yang bisa kami bantu?" ucapnya dengan ramah juga.
"Apakah di sini ada lowongan kerja?" tanya Gia langsung pada intinya.
"Iya benar Mbak. Apa anda ingin melamar?"
"Iya benar sekali," sahut Gia dengan mata berbinar-binar.
"Jika begitu tinggalkan surat lamaran anda. Nanti jika pihak perusahaan berminat dengan pengajuan lamaran, maka anda akan dihubungi kembali untuk melakukan interview," terangnya.
Sang resepsionis menjawab dengan anggukan.
***
Keesokan harinya
Seperti biasa Gia berkutat dengan urusan rumah. Bi Ani belum juga membaik, hingga membuat Gia membujuk Bi Ani agar mau ke rumah sakit untuk memeriksakan diri.
Dari kemarin-kemarin ia ingin membawa tetapi wanita itu selalu menolak dengan alasan sudah terbiasa sakit jadi tidak perlu terlalu khawatir.
"Bibi ayolah! Bibi harus diperiksa, biar tahu penyakit Bibi," celoteh Gia sepanjang hari karena selama ini Bi Ani minum obat dari apotek terdekat.
"Tidak perlu Nak," sanggah Bi Ani tetap kukuh pada pendiriannya.
"Atau Gia hubungi Kak Ricky," ancam Gia supaya Bi Ani sedikit takut.
"Jangan Nak, Bibi tidka ingin mereka tahu," sahut Bi Ani dengan cepat, raut wajahnya jadi berubah. Gia tersenyum diam-diam karena ancamannya berhasil mengelabuhi wanita tersebut.
__ADS_1
"Jika Bibi masih bersikukuh tidak mau ke rumah sakit, maka Gia akan hubungi," ucap Gia dengan tegas.
Bi Ani mendesah, menarik nafas kasar. Ancaman Gia membuatnya mau tidak mau mengikuti keinginannya.
"Baiklah!" Lirihnya.
Butuh waktu tempuh perjalanan 15 menit mereka tiba di rumah sakit terdekat. Gia memboncengi Bi Ani dengan sepeda motor. Ini pertama kalinya Gia mengendarai sepeda motor karena selama di Jakarta dia selalu mengendarai mobil jika ingin pergi kemana saja. Cukup aneh baginya tapi untuk saat ini hanya ini yang bisa ia lakukan.
Jauh dari kemewahan mengajarkan dirinya untuk hidup mandiri. Sekarang Bahagiana Bahtiar bukanlah dirinya yang terdahulu yang dikelilingi oleh kemewahan.
Sekarang adalah Gia yang hidup sederhana, bahkan tinggal di rumah sederhana, jauh dikatakan fasilitas lengkap. Rela melamar pekerjaan di perusahaan milik orang lain yang belum tentu diterima juga.
"Ayo Bi," ucap Gia setelah ia memarkirkan sepeda motor.
Mereka berjalan beriringan, bahkan Gia memegang tangan Bi Ani menuju ruang pendaftaran.
Agar merasa aman Gia menggunakan masker dan juga topi. Sekarang penampilannya seperti anak ABG. Jauh dari pakaian rapi dan kantoran yang selama ini melekat pada dirinya. Ia tidak ingin ada yang mengenal dirinya sebagai Bahagiana Bahtiar.
Setelah mendaftar mereka duduk, bergabung dengan pasien lainnya. Menunggu antrian masing-masing.
Nama Bi Ani pun dipanggil. Gia ikut masuk ke ruang pemeriksaan karena ingin tahu penyakit yang diderita Bi Ani.
"Apa yang Ibu keluhkan?" tanya dokter.
"Mual dan muntah, nyeri perut dan kurang nafsu makan," terang Bi Ani.
"Apa selama ini Ibu pernah memeriksakan diri?"
Bi Ani mengangguk karena selama ini ia mengetahui riwayat penyakit yang ia derita.
"Saya simpulkan Ibu mengalami permasalahan dengan liver. Agar lebih lanjut kita melakukan pemeriksaan," jelas dokter.
Gia sontak kaget mengetahui riwayat penyakit yang diderita Bi Ani. Ternyata ini bukan penyakit ringan, bahkan sangat mengkhawatirkan.
"Besok hasil laboratorium pemeriksaan akan keluar. Saya sarankan Ibu lebih banyak istirahat," ucap dokter mengakhiri pemeriksaan Bi Ani.
Mereka pulang dalam diam. Gia terlalu terkejut hingga membuatnya bungkam sepanjang jalan. Begitu juga dengan Bi Ani karena penyakitnya semakin parah.
"Kenapa Bibi menyembunyikannya dari Gia?" cecar Gia seusai tiba di rumah.
Bersambung.....
__ADS_1
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi