
"Apa benar Bu Rika bertemu dengan Bu Gia? kita langsung pada intinya saja!" Ujar Putra.
Rika menghela nafas panjang. "Apa aku kelihatan sedang berbohong?" sahutnya sembari menyesap jus yang mereka pesan.
"Jangan mempermainkan waktu kami karena masih banyak yang harus di kerjakan!" Putra menegaskan.
"Aku tidak berbohong, bahkan sempat berbincang-bincang walaupun hanya kau yang banyak berbicara. Gia ada di kota ini tapi aku tidak tahu dimana keberadaannya, kebetulan kemarin bertemu di pusat pembelanjaan," pungkas Rika.
"Sepertinya dia tak berbohong karena Bibi juga mengatakan bahwa Bu Gia sedang ada proyek di sini," ucap Putra dalam hati.
"Apa saja yang Ibu katakan?"
"Aku menceritakan kesalahpahaman ini dan bahkan menyuruh Gia kembali pulang tapi dia tak merespon. Malah berusaha kabur, aku menyesal karena tidak berhasil membawanya pulang." Tuturnya dengan raut wajah sendu.
Putra menyelidiki Rika dengan seksama. Ia sadar karena wanita yang menjadi penyebab kehancuran ini telah banyak berubah.
"Apakah Bu Gia baik-baik saja?"
Rika mendesah mendengar pertanyaan itu, seakan pria ini adalah suami Kakak tirinya. "Sepertinya kamu sangat mengkhawatirkan Gia dan bahkan ingin tahu banyak!" Celetuk Rika dengan senyuman sumbing.
Mendengar penuturan Rika membuat Putra tersadar jika ia sudah kelewat lancang. Ia sedikit menjadi salah tingkah tapi dengan pandai ia merubah ekspresi wajahnya.
"Karena Bu Gia adalah atasan ku jadi wajar-wajar saja aku mengkhawatirkannya, apa lagi melihat kondisi Bapak dan Pak Balin." Terang Putra.
"Apa itu juga berlaku untuk ku?" pertanyaan konyol Rika membuat dahi Putra mengerut. "Hmm lupakan saja!" Tutupnya.
"Bu Rika sendiri apa yang dilakukan di sini? bukankah masih di Jakarta?"
"Berhenti memanggil ku dengan sebutan Ibu karena aku masih sangat muda dan juga bukan Ibu mu!" Cicit Rika dengan bibir mengerucut.
Putra menghela nafas karena wanita ini cukup percaya diri dan banyak omong.
"Aku mewakili perusahaan makanya sekarang berada di sini tapi besok sudah kembali." Rika memberitahukan tujuannya ada di kota Bandung.
Hmm
"Kebetulan hari ini pekerjaan ku sudah selesai. Hmm bagaimana jika kita mencari Gia bersama-sama karena aku juga tidak begitu tahu seluk beluk kawasan ini," ucap Rika.
Putra berpikir sejenak, apa yang di usulkan oleh Rika ada benarnya juga.
"Putra!" Putra sontak kaget karena tepukan di pundaknya.
"Kamu bikin aku kaget saja!" Protes Putra dengan tidak formal.
__ADS_1
"Habis diajak bicara melamun saja. Apa sih yang dilamunkan? Hati-hati loh!" Celoteh Rika.
"Jangan sok tahu, aku bukan melamun tapi berpikir!"
Huh.....
Rika menghembuskan nafas kesal karena pria ini tak ada perubahan, sangat acuh kepada dirinya. Bahkan ingatan Rika pada saat masih bekerjasama di perusahaan BB GROUP. Mereka sering beda pendapat.
"Kamu memang belum berubah!" Kekeh Rika tanpa menatap Putra.
"Karena aku bukan seorang bunglon!"
"Tapi ulat bulu yang sensitif!"
"Kamu!"
Hahaha......
Drrrtt
Tiba-tiba ponsel Putra bergetar hingga membuat perdebatan mereka terhenti. Dengan raut wajah masam Putra meraih ponselnya dan itu panggilan dari atasannya.
"Jangan berisik!" Titahnya.
"Cari Gia ku sampai dapat!"
Usai mengatakan kalimat singkat itu sambungan langsung terputus. Putra maupun Rika saling menatap dengan sorot mata penuh tanya.
"Atasan mu sedang bucin akut. Tunggu apa lagi? ayo kita segera laksanakan perintah!" Celetuk Rika sembari terkekeh lucu.
"Ini semua karena ulah mu!" Ujar Putra hingga berhasil membuat Rika mengurungkan niatnya untuk berdiri dari kursi.
Wanita itu langsung menundukkan wajahnya sembari meremas jari-jemarinya. Perkataan Putra yang barusan saja tadi mengenai ulu hatinya.
"Kamu benar ini semua karena aku," lirih Rika dengan nada bersalah, masih dengan wajah menunduk.
Melihat dan mendengar hal itu membuat Putra tercengang karena yang ia tahu selama ini wanita itu cukup cuek dan tidak ada kamus salah dalam dirinya, tapi lihatlah sekarang dia benar-benar seperti bunglon.
Rika beranjak bangkit. "Baiklah aku akan kembali ke penginapan," lirihnya dengan raut wajah sendu. Usai mengatakan itu ia berlalu tanpa ingin mendengar jawaban dari Putra.
Putra tersadar, dengan soontan ia mengejar Rika. Ia bernafas lega karena masih menemukan sosok Rika yang sedang menunggu jemputan atau taksi.
"Ayo ikut!" Ujar Putra sembari menarik tangan Rika menuju ke mobil. Rika melongo, sulit untuk berucap karena cukup kaget. "Masuk!" Titahnya karena Rika tetap berdiri di samping pintu mobil.
__ADS_1
"Aku sudah pesan drive, itu sudah datang," ucap Rika dengan pandangan ke sebuah mobil di sisi kiri.
Putra berjalan mendekati mobil, lalu mengetuk kaca jendela. "Ini untuk Bapak, pelanggan membatalkan!" Ujar Putra kepada sang supir sembari menyodorkan beberapa lembar uang pecahan.
Rika kembali melongo tak percaya, rupanya Putra membatalkan drive yang ia pesan.
"Apa kamu masih betah berdiri di situ?" ternyata pria ini rupanya banyak omong, itulah yang ada dibenak Rika. Tidak ingin mendapat cecar lagi Rika masuk tanpa disuruh.
"Kita cari dimana dulu?" tanya Rika dengan pandangan ke luar jendela mobil sembari memperhatikan jalanan, bisa saja sosok yang tak pernah ia duga muncul seperti kemarin.
"Aku juga tidak tahu," sahut Putra sembari mengusap pangkal hidungnya.
"Bagaimana jika kita mencari di pusat hiburan? hari ini akhir pekan bisa jadi Gia jalan-jalan." Usul Rika.
Putra mengangguk, setuju dengan usulan tersebut karena yang ia tahu Gia berafa di sini karena sebuah pekerjaan. Bisa jadi mereka mengunjungi pusat hiburan.
Sejak tadi Putra menghubungi Bi Ani tapi ponsel wanita tersebut tidak aktif. Bisa saja dengan mudah ia mengetahui keberadaan Gia melalui Bi Ani tapi nasib berkata lain karena pinselnua tidak bisa dihubungi.
Dengan kita besar dan padat bukan mudah mencari seseorang, apa lagi tidak ada titik terang untuk mengarah di mana tempatnya berada. Tapi tak ada salahnya untuk berusaha.
Tiba di pusat hiburan Putra dan Rika fokus melihat ke sana sini tapi sosok itu tak kunjung mereka jumpai. Hingga rada lelah yang mengerogoti tubuh masing-masing.
"Apa kamu kelelahan?" tanya Putra ketika menyadari jika wajah Rika penuh keringat.
"Bagaimana jika kita minum dulu, aku harus sekali," ucap Rika dengan nafas terengah-engah.
Putra membawa Rika di kedai pusat hiburan tersebut. Tanpa ragu ia mengenggam tangan Rika karena pengunjung cukup padat dan sulit mendapat jalan. Rika tertegun menatap tangan Putra yang menggengam tangannya. Mereka persis seperti pasangan kekasih, mungkin kalimat itulah yang ada dalam iran pengunjung lain untuk memberi komentar kepada mereka.
"Bu es kelapa mudanya dua. Jangan pakai gula."
Tidak lama pesanan mereka datang.
"Kasian pacarnya Nak kepanasan," ucap Ibu penjual es kelapa muda.
JLEP
Putra maupun Rika menelan ludah. Mendengar penuturan sang penjual membuat mereka menjadi kikuk.
Bersambung....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi
__ADS_1