Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 41. Adegan Dewasa


__ADS_3

Sekian detik film mulai di tayangkan. Ketegangan dari penonton mulai menyelimuti. Rasa penasaran yang teramat dalam selama ini kini bisa disaksikan.


Balin maupun Gia diam seraya menyesap kopi yang mereka pesan.


Tiba-tiba tayangan dimana itu adalah adegan intim antara Ayu dan Dimas dalam pemeran film tersebut.


Balin maupun Gia saking menelan ludah. Wajah keduanya memerah, sayangnya tak bisa dilihat karena lampu pencahayaan.


Tiba-tiba tangan Balin meremas telapak Gia tak seperti biasanya. Tentu saja Gia terang sangg dengan apa yang di lakukan Balin.


Entah kapan tubuh keduanya saling berhimpitan tiada jarak.


Pengaruh adegan yang masih berlangsung itu membuat gelora kelakian Balin memuncak, bagaimanapun dia adalah pria normal. Belum lagi status mereka adalah sebagai sepasang suami istri yang pastinya ingin di sentuh.


Cup


Tanpa tahan lagi ia meraup bwbir Gia. Gia sedikit kaget tapi ia juga terbawa suasana. Ciuman panas itu berlangsung, sebagaimana adegan dalam tayangan tersebut.


Hingga tangan Balin tak bisa dikondisikan lagi dan ia lupa sedang berada dimana. Menyusup masuk dalam baju kemeja yang dikenakan Gia. Hingga berhasil meremas salah satu aset tersebut.


Hah.....pekik Gia.


Spontan saja Gia mendorong dada Balin hingga ciuman mereka terlepas. Balin kaget karena tengah asyik-asyiknya mencumbu bwbir tersebut hingga tidak sadar dengan situasi di sekitar.


"Maaf," ujar Balin seraya mengusap ujung bwbirnya yang basah. Nafas itu memburu hingga membuatnya berusaha mengendalikan diri.


Sedangkan Gia hanya bisa menoleh ke arah lain. Wajahnya memerah serta nafasnya bergemuruh. Ciuman beberapa menit itu mampu membuat keduanya senam jantung.


Tiba-tiba tayangan menegangkan hingga membuat Gia memekik ketakutan dan akhirnya kembali dalam dekapan Balin.


"Gia itu hanya sebuah film," bisik Balin menenangkan Gia karena Gia benar-benar ketakutan.

__ADS_1


"Serem!" Gumam Gia dalam dekapan itu dengan suara manja. Balin sangat menyukai nada manja seperti itu, bahkan selalu menginginkan Gia tetap seperti itu.


Film masih berlanjut sedangkan Gia tak berniat beranjak sama sekali dari dekapan Balin. Ia masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang tersebut. Lain hal nya dengan Balin, ia cukup serius dengan tayangan tersebut.


Senyuman bahagia mengembang di bibirnya ketika menyadari Gia masih berada dalam pelukannya. Sesekali ia kecup pucuk kepala Gia dengan perasaan sayang.


"Apakah masih lama?" gumam Gia tanpa menarik tubuhnya. Bahkan hidung mancung itu tanpa sadar bermain di dada Balin.


"Belum, sepertinya 20 menit lagi. Hmm apa kamu sudah bosan?" kata Balin. Sebenarnya ia ingin film itu sampai selesai karena terlalu merasa nyaman. Bukan film itu yang membuatnya betah tapi Gia, cara Gia seperti saat ini membuatnya engan untuk beranjak.


Huh.....


Gia spontan saja menarik tubuhnya hingga mereka kembali duduk seperti semula. Tapi tangan keduanya masih saling bergenggaman.


Gia melirik ke arah Balin yang fokus serius tatapan di layar. Gia terdiam, memandangi wajah samar-samar itu dengan bibir tertarik.


"Ada apa?" tanya Balin seakan baru sadar jika istrinya itu sedang menatapnya.


***


Di rumah


"Cukup melelahkan," lirih Gia seraya mendaratkan bokongnya di atas kasur.


Ya mereka baru saja pulang menjelang malam. Bahkan mereka makan malam di luar. Usai nonton bioskop mereka menghabiskan waktu untuk menonton pertunjukan lomba-lomba.


"Aku sudah siapkan air hangat, segeralah bersihkan dirimu terlebih dahulu," kata Balin ketika baru keluar dari kamar mandi hanya untuk menyiapkan hal itu.


Gia tertegun sesaat. Perlakuan manis serta perhatian Balin benar-benar membuatnya seperti bayi baru lahir ke dunia.


"Tidak perlu repot-repot, aku bisa melakukannya. Terima kasih ya? lain kali jangan ulangi," ucap Gia dengan tidak enak hati. Justru ia yang melakukan kewajiban itu sebagai seorang istri.

__ADS_1


"Suami istri itu saling melengkapi," papar Balin.


Gia mengangguk dan tersenyum bahagia. Lalu beranjak bangkit, berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Balin tersenyum memandangi tubuh itu hingga masuk ke dalam kamar mandi. Lalu ia rebahan di atas kasur, rasa lelah membawanya masuk ke alam mimpi.


KLEK


Pintu kamar mandi dibuka. Gia keluar dengan pakaian yang sudah lengkap. Pandangannya langsung tertuju kepada sosok yang sedang tidur dengan posisi miring memeluk guling.


Entah apa yang membuat hatinya tergerak hingga kini ia duduk di tepi ranjang.


"Sepertinya kamu kelelahan," gumam Gia.


Gia memperhatikan seksama wajah tampan itu. Hidung yang mancung, rahang yang kokoh, alis yang tebal, bulu mata yang lentik, dan satu lagi bibir yang sensual itu membuatnya candu.


"Bal bangun, mandi dulu baru lanjutin tidurnya," ucap Gia dengan lembut sembari mengusap wajah Balin.


Hmm


Tidak sulit untuk membangunkan pria itu, mungkin pengaruh dinginnya jari-jemari Gia yang menyentuh kulit pipinya.


Balin bangun dengan mata berat, tentu saja ia masih mengantuk tapi ia harus membersihkan diri terlebih dahulu.


"Kamu sudah selesai," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.


Gia mengangguk


Bersambung.....


🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2