
Kebusukan Mia telah terbongkar beberapa minggu yang lalu, dan semuanya menyerahkan semua keputusan ditangan Min sebagai seorang suami dan sebagai kakak tertua.
Ria dan Rina sebagai orang yang telah dikhianati awalnya benar benar tidak bisa memaafkan suami mereka masing masing. Namun setelah Tam dan Jhon sungguh sungguh berusaha untuk meminta maaf dan sungguh sungguh menyesal akan perbuatan mereka, akhirnya hati Ria dan Rina luluh karena pada kenyataannya mereka berdua sangat mencintai suami mereka.
Keadaan rumah mulai kembali seperti semula, namun Min masih bersikap dingin kepada istrinya dan juga kepada anggota keluarga yang lain. Mungkin Min masih belum bisa memaafkan Mia, sedangkan Mia masih berusaha untuk menunjukan bahwa dia memang benar benar menyesal dan tidak akan mengulanginya perbuatannya lagi. Tapi entahlah apa dia benar benar menyesal atau tidak.
"kak Min...?" Lira menghampiri Min yang tengah duduk ditaman belakang dekat kolam renang.
Min hanya tersenyum kecil dan menggeser duduknya untuk mempersilahkan Lira duduk.
"kakak baik baik saja?" tanya Lira.
"..."
"kalau kak Min butuh seseorang untuk cerita, Lira siap jadi pendengar yang baik" kata Lira tersenyum ramah.
Lira dan Min memang sudah akrab setelah Lira masuk kedalam keluarga pratama, walaupun mereka jarang berinteraksi seperti Lira dan Diqi atau Dea. Namun setelah kejadian Mia waktu itu mereka jadi saling tidak enak satu sama lain dan akhirnya hanya bisa saling diam.
"terima kasih ra... tapi aku tidak tau harus bagaimana menghadapi semuanya" Min terlihat putus asa.
"kak. Lira bukannya ingin menggurui, tapi kalau kak Min ingin masalah ini selesai dengan cepat, kakak harus bicara dari hati kehati sama kak Mia, dan jangan terus bersikap dingin ke kak Mia" kata Lira.
"kak, mungkin kalau kakak mau berbesar hati untuk memberi kesempatan untuk kak Mia kakak akan tau alasan kak Mia melakukan semua ini" lanjut Lira.
Min menatap Lira dengan tatapan penuh harap "apa seperti itu bisa?" tanya Min.
"um. kakak coba saja" Lira tersenyum manis dan menepuk bahu Min pelan.
☆☆☆
Didalam perpustakaan didalam kediaman pratama, seorang wanita cantik yang cenderung pendiam tengah duduk membaca buku. Dia memang membuka buku itu namun pikirannya terbang entah kemana.
Sudah satu jam lebih dia berada disana dan sepertinya tidak berniat untuk sekedar mengganti posisinya. Dea menatap buku ditangannya tanpa minat dengan tatapan sendu.
"kau disini?" kata Lira yang baru saja memasuki perpus.
Lira merasa bosan dirumah dan malas jika keluar, berniat untuk menghibur dirinya dengan membaca novel novel fantasi kesukaannya, namun tak disangka Dea yang sudah beberapa hari tidak datang ke perpus, sekarang tengah membaca buku dengan tatapan serius menurut Lira.
"kemarin kemarin kemana saja?" tanya Lira "apa kau keluar rumah dan tidak mengajakku?" Lira mengerucutkan bibirnya.
"bukan seperti itu.. hanya saja aku lagi tidak ingin" kata Dea.
Lira dan Dea sudah mulai akrab semenjak mereka berbelanja di Mall bersama Jeni waktu itu, dan seorang Dea yang pendiam mau membuka mulutnya untuk merespon perkataan Lira.
"dia berbohong. aku tau dia masih ada masalah dengan Sam" batin Lira.
Lira tersenyum simpul "ini tentang Sam" tebak Lira tepat sasaran yang membuat Dea mendongak menatap Lira.
"Ahk benar.." kata Lira. "Coba ceritakan!" lanjut Lira.
"aku.." Dea merasa ragu.
__ADS_1
"jangan sungkan. aku kan sudah menjadi sahabatmu" kata Lira tersenyum cerah.
Dea menghela nafas dalam dan bersiap untuk menceritakan semua unek uneknya ke Lira.
Dea memang orang yang pendiam dan jarang sekali bicara dan Sam tau itu. Pada saat Sam membentaknya didapur dan menyalahkan Dea untuk apa yang terjadi pada Mia, Dea juga tidak mengatakan apa apa untuk membela dirinya.
Namun setelah Sam tau kalau perbuatannya salah dia langsung meminta maaf ke Dea dan Dea benar benar merasa lega.
Namun hal baik cepat berlalu pergi dari Dea, Sam kembali menjadi cuek dan jarang berinteraksi dengannya, Dea juga tidak tau harus bersikap seperti apa untuk mendekati Sam. Akhirnya dia hanya bisa diam seperti biasanya.
Dea sangat mencintai Sam walaupun tidak pernah terlihat oleh Sam apalagi orang lain. Dea yang sulit menunjukan perasaannya dan Sam yang memang masih menyimpan rasa untuk Mia, membuat hubungan mereka benar benar monoton dan jauh dari kata Romantis.
"jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang?" tanya Lira setelah Dea selesai bercerita.
"entahlah Ra, aku sebenarnya hanya ingin Sam tau...."
"kalau kau sangat mencintainya" potong Lira dan tersenyum jahil.
Dea tersipu malu karena Lira menggodanya.
"tapi aku takut jika Sam menjauhiku jika dia tau kalau akau mencintainya" kata Dea tertunduk lesu.
"dia tidak akan menjauhimu" kata Lira yakin.
"maksudmu?" tanya Dea.
"a-um maksudku Sam akan dengan senang hati menerima perasanmu" Lira sedikit gugup.
"darimana kamu tau?" tanya Dea.
Lira tau jika Sam menyukai Dea ketika dia masuk kedalam kamar Sam waktu itu. Ketika dia ingin marah marah pada Sam karena dia memarahi Dea atas kesalahan yang tidak dilakukan Dea. Namun niatnya terhenti karena Lira 'mendengar' isi hati Sam dan perasaan Sam yang sesungguhnya ke Dea.
Ditambah lagi Lira tau bahwa Sam dari tadi berada didepan pintu perpus dan mendengar semuanya.
"dari..." Dea penasaran menunggu jawaban Lira.
"kalau tidak dicoba tidak akan tau. maksudku coba kamu berusaha sedikit menunjukan perasanmu ke Sam, aku yakin dia tidak akan bereaksi berlebihan" kata Lira.
"begitukah?" tanya Dea ragu.
"coba saja. Um" Lira meyakinkan.
Sementara Lira dan Dea tengah mengobrol Sam dari tadi hanya tersenyum miris mengingat semua perlakuannya ke Dea.
"terima kasih Ra, karena kau aku bisa tau perasaan Dea" monolognya pelan.
☆☆☆
"sedang apa?" tanya Lira.
"..."
__ADS_1
"Ah kau mengajakku bertemu ditempat biasa?"
"..."
"besok?"
"..."
"tidak. aku sedang tidak sibuk"
"..."
"ok. kita bertemu besok"
Tut
Lira menutup sambungan teleponnya. Dia baru saja selesai menelpon Say.
Lira menaruh benda pipih itu disampingnya dan berniat merebahkan diri diatas tempat tidur, namun sebelum itu dia melirik kearah Shean.
Shean tengah duduk dikursi meja kerjanya dan menatap layar laptop dengan ekspresi rumit.
"ada apa dengannya?" tanya Lira pada dirinya sendiri.
Pasalnya Shean terlihat prustasi mengutak ngatik Keyboard laptopnya, walau ekspresinya masih tetap datar.
"ya ampun dia lagi prustasi saja ekspresinya tetap datar" Lira terkikik kecil.
Lira turun dari atas tempat tidur dan berjalan menghampiri Shean, setelah sampai disampingnya Shean belum menyadarinya dan masih pokus pada layar laptop.
Lira sedikit memiringkan kepalanya dan melihat apa yang dikerjakan Shean sampai siempunya merasa prustasi.
"terhapus?" tanya Lira yang membuat Shean memundurkan kursinya.
"..."
"apa datanya sangat penting?" tanya Lira dan masih melihat layar laptop.
"ya" jawab Shean singkat.
"coba minggir! aku akan coba mengembalikannya" kata Lira menyuruh Shean berdiri dari duduknya.
Tanpa protes apapun Shean berdiri dan membiarkan Lira mengotak atik laptopnya, dia melihat aktifitas Lira dari samping dan tersenyum kecil melihat keseriusan Lira.
Shean tidak bodoh, dia adalah salah satu mahasiswa yang pintar diuniversitasnya. Namun tetap saja dia bukanlah anak IT yang mengerti Ilmu Teknologi dengan baik.
"sudah" kata Lira setelah lima menit mengotak atik benda tak bergerak itu.
Shean memiringkan kepalanya dan berniat melihat hasil kerja Lira, namun dia tidak sengaja menyentuh kepala Lira dengan kepalanya. Mereka sama sama menoleh dan pandangan mereka kembali bertemu.
Lira yang biasanya hanya akan biasa saja dengan apa yang terjadi sekarang, namun saat ini detak jantungnya benar benar tidak bisa dikontrol. Lira melihat mata Shean yang indah dan tajam itu, membuatnya deg degan sendiri.
__ADS_1
Shean? jangan tanya dia sudah membeku saat pandangan mereka bertemu. Shean melihat wajah Lira dengan jaraknya yang cukup dekat itu, bulu mata lentik, mata yang indah dan hidungnya yang mancung. Namun pandangannya terkunci pada bibir Lira yang mungil dan merah muda alami.
Tanpa sadar Shean mendekatkan wajahnya ke Lira sampai jarak mereka sangat dekat dan...