Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 58. Kenyataannya


__ADS_3

6 bulan kemudian


Hari ini Gia dan beberapa rekan kerja di tugaskan ke kota Bandung untuk mengiklankan dan mempromosikan perusahaan yang dipercayakan oleh Gia. Pemilik perusahaan sangat puas dengan kinerja Gia hingga ia diperlakukan dengan baik.


Butuh waktu 8 jam 45 menit rombongan tiba. Kini mereka menginap di sebuah hotel yang sudah di boking terlebih dahulu. Menempati kamar masing-masing.


Usai makan siang mereka lanjut bertemu dengan klien beberapa pihak dari perusahaan yang berbeda di sebuah pusat pembelanjaan terbesar di kota tersebut.


Sebagai ketua bagian periklanan, Gia ditunjukan untuk menjelaskan. Dengan profesional ia menjelaskan dan membuat para klien terkesima atas penjelasan yang begitu sedetail-detailnya.


Mereka bisa bernafas lega karena berjalan dengan lancar dan sesuai harapan, hingga mereka berempat memutuskan cuci mata sejenak.


"Pak Rio, Pak Ilham kita berpencar saja ya? biasalah urusan wanita," ucap Nia kepada kedua tekan kerjanya.


"Baiklah," sahut Rio.


Nia menarik lengan Gia, membawanya mengelilingi mall. Tiba di tokoh baju Nia mengajak Gia untuk melihat-lihat, mungkin saja ada yang cocok di hati. Dengan sabar Gia mengikuti Nia.


"Gia ini cocok tidak di badanku?" tanya Nia, ingin mendapat komentar dari Gia.


Dahi Gia mengerut karena warna itu tidak cocok pada usia Nia. "Modelnya sih bagus, simpel tapi kayaknya warna yang ini saja deh sangat cocok dengan warna kulitmu," ucap Gia seraya mengambil warna krim.


"Benar saja ini sangat cocok," ucap Nia ketika baju dress tersebut di cobanya.


Gia tersenyum


"Hmm harganya cukup mengempeskan isi dompet," celetuk Nia setelah melihat label harga.


Gia tertegun melihat harga yang tertera. Itu tidaklah mahal baginya ketika masih memiliki bergelimang harta, bahkan baju yang ingin di beli Nia adalah bahan berkualitas menengah, sedangkan barang miliknya kebanyakan merek ternama. Tapi kali ini baginya harga baju dress tersebut sangatlah mahal.


"Andai saja aku punya uang seperti dulu makan apa pun yang ingin kamu beli bisa aku beli Nia," keluh kesah Gia dalam hati. Ada rasa kasian melihat Nia yang ingin membeli tapi punya uang pas-pasan.


"Gia ayo," ajak Nia dengan wajah menjadi sedih.


"Kamu tidak jadi beli?" tanya Gia padahal sudah tahu jawabannya.


Nia menggeleng pelan. "Lain kali saja," lirihnya seakan kecewa.


Gia menghela nafas berat. "Kamu sangat menyukai baju tersebut?" Nia mengangguk sebagai jawabannya.


"Tunggu sebentar," Gia melepaskan pegangan tangan Nia pada tangannya. Lalu mengambil baju yang membuat Nia jatuh cinta tersebut. Membawanya ke meja kasir. Nia tercengang tak percaya dengan apa yang dilihatnya, dengan segera ia mencegah Gia.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?"


"Kamu suka bukan? tenang saja aku punya uang lebih. Kita besok telah kembali lagi jadi belum tentu di tempat kita tinggal menemukan baju ini," ucap Gia dengan senyuman.


"Tidak perlu Gia, kamu juga memerlukan uang. Belum lagi untuk perawatan Bibi," tolak Nia dengan tidak enak hati.


"Sudah jangan pikirkan. Ini Mbak segera di bungkus," ucap Gia kepada kasir.


Keluar dari toko Nia sangat berterima kasih kepada Gia karena sudah membelikan baju dress yang memikat hatinya. Untung saja sebuah baju, tapi jika pria tentu saja Gia tak bisa membantu untuk memenuhi ketertarikan Nia.


"Nia aku ke toilet sebentar ya? atau kamu juga ingin ke toilet?"


Nia menggeleng. "Aku tunggu di sini saja ya?" ucapnya.


"Oke! Jangan kemana-mana," ucap gia.


Nia mengedipkan mata.


Dengan langkah buru-buru Gia bergegas masuk ke toilet wanita. Untung saja tidak antri hingga ia langsung masuk.


Sebelum keluar ia merapikan penampilannya, membuka masker dengan menghadap kaca besar sembari mencuci tangannya.


"Gia.....!"


Deg


"Ri-Rika....." Gumam Gia begitu kaget.


Rika langsung memegang pundak Gia karena wanita itu ingin lari.


"Lepas Rika!" Pekik Gia karena tidak bisa lari.


"Kemana saja kamu selama ini?" tanya Rika sembari memperhatikan penampilan Gia yang berubah drastis dari biasanya.


"Bukan urusanmu! Bukankah ini yang kalian inginkan sejak awal masuk dalam keluarga besar ku?" sahut Gia dengan bibir tersenyum kecut.


Rika mendesah tanpa melepaskan cengkraman itu karena tidak ingin Gia lari.


"Pulanglah kasian P___"


"Cukup! aku tidak ingin mendengarkan apapun! Jangan sok dekat dan peduli. Kamu sangat senang bukan melihat penderitaan ku selama ini?" sentak Gia dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Pelan kan nada suaramu, banyak orang!" Bisik Rika karena dalam toilet lalu lalang.


"Lepaskan aku. Kita tidak ada hubungan lagi!"


"Oke, Oke.... tapi dengarkan aku." Rika menghela nafas kasar. "Aku sama sekali tidak melakukan apapun dengan suamimu," papar Rika.


"Suami? mantan suami kali!"


"Oke,,,Oke apa pun itu terserah kamu!" Ucap Rika, saat ini biarlah ia mengalah dulu.


Gia membuang muka


"Kamu hanya salah paham. Pada saat itu aku tidak tahu jika kalian punya janji di hotel, makanya aku memutuskan ingin menginap di sana. Aku datang lebih dulu dari Kak Balin, bahkan aku tak menyadari kedatangannya karena pada saat itu aku berada di kamar mandi." Jelas Rika.


Gia menatap sinis karena semua itu tidaklah benar menurutnya, ia sangat hafal dengan tingkah Rika dan juga orang tua sambungnya tersebut.


"Siapapun tidak akan percaya, menyaksikan sendiri bagaimana keadaan kalian. Belum lagi pernyataan yang terlontar dari mulutnya itu," lirih Gia dengan tatapan nanar.


Rika tersenyum mengingat kejadian waktu itu. "Sudah ku katakan jika semua ini kesalahpahaman. Kak Balin memelukku seperti itu karena mengira aku adalah kamu. Dan bahkan dia menyatakan perasaannya itu karena berpikir yang dia peluk adalah kamu Gia!" Ungkap Rika dengan tegas.


Deg


Gia tersentak kaget. Bungkam tak bisa berkata apapun.


"Apa kamu lupa pada saat itu aku memakai batrobe dan handuk milikmu, secara Kak Balin sulit untuk membedakan kita dari arah belakang," imbuhnya.


Gia segera menggeleng. Apa yang di katakan Rika ada benarnya tapi sangat sulit untuk dipercaya.


"Jika kamu sulit percaya, kamu bisa saja membuktikannya dari rekaman CCTV. Pulanglah, kasian Papi," ucap Rika dengan raut wajah sesal. "Kak Balin mencintaimu....."


Gia mengepalkan kedua tangannya. Ia berusaha menahan sesuatu dari pelupuk matanya.


"Aku minta maaf Gia. Pulanglah!" Gumam Rika dengan nada hampir tak terdengar. Cengkraman yang tadinya erat kini terlepas begitu saja.


Prok prok


"Sandiwara mu sangat keren! Tapi sayangnya aku tak berminat!" Usai mengatakan itu Gia bergegas lari sekencang-kencangnya meninggalkan Rika yang diam mematung.


"Gia......!" Teriak Rika sadar bahwa Gia sudah tidak berada di hadapannya. Ia pun berlari keluar, berharap di sana bisa bertemu kembali.


Bersambung.....

__ADS_1


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2