
Balin maupun Gia saling mendongak tepat memandang arah depan.
DEG
Keduanya membeku. Bahkan kedua kaki Gia lemas tak sanggup menompangkan tubuhnya. Begitu juga dengan Balin ia luar biasa kaget dengan sosok yang ada di hadapannya sekarang.
Jantung mereka saling berdegup kenyang. Dada bergemuruh tak terkontrol lagi.
Ia bangkit dari kursi duduknya tanpa mengalihkan tatapannya. Ia mengusap matanya ingin menyakinkan jika ia salah melihat, tapi ini sangat jelas sosok itu adalah Gia istrinya. Belum lagi tadi mendengar bahwa nama sosok tersebut adalah Gia.
"Balin!" Gumam Gia tapi lidahnya selama keluh hingga seruan itu hanya terpendam.
"Gia!" Gumam Balin dengan lantang, bahkan membuat semua yang ada di sana memperhatikannya.
"Silahkan Bu Gia," suara bariton Kelvin menyadarkan keduanya dari keterkejutan.
"Tinggalkan kami berdua!" Seru Balin dengan tegas.
Mendengar perintah Balin membuat mereka tak paham.
"Maaf Pak Kelvin tolong tinggalkan kami berdua. Meeting gagal!" Sekali lagi Balin menekankan tapi tatapannya tak lepas kepada Gia. Sedangkan Gia seperti orang yang lagi lumpuh, tak tahu harus bagaimana.
Kelvin memberi kode ke seluruh karyawannya agar segera meninggalkan ruang meeting. Ia mengira bahwa Balin kurang puas dengan kinerja Gia karena sudah terlambat dalam hal meeting.
Sepeninggalan mereka Gia tersadar dengan kondisi sekarang. Ia pun segera keluar dari kursi.
"Gia!" Panggil Balin.
Gia mengepalkan kedua tangannya. "Maaf Pak anda salah orang!" Ucap Gia seakan ia tidak mengenali sosok pria itu.
Balin berjalan mendekati Gia, tapi sayangnya Gia lebih cepat menuju pintu keluar.
BUP
"Sayang.....akhirnya aku menemukanmu juga." Balin langsung memeluk erat tubuh itu dari arah belakang. Hingga membuat Gia tak bisa berkutik.
"Lepas! Anda salah orang!" Gia kekeh tidka mengenal Balin. Bahkan ia menahan air mata yang kini mengembun.
Balin tak peduli dengan penolakan Gia untuk di peluk, dan mengatakan bahwa salah orang. Ia bahkan semakin mengeratkan pelukan tersebut.
Mengecup berkali-kali kepala Gia dengan sayang, menumpahkan kerinduan yang selama ini.
"Aku bilang lepas ya lepas!" Lirih Gia seperti suara tangisan yang tertahan. Tapi Balin sama sekali tak bergeming. "Lepas Bal...." Lirihnya kembali dengan nada memohon, bahkan panggilan tersebut membuat Balin tercengang.
__ADS_1
Balin membalikkan tubuh Gia agar mereka berhadapan. Gia tidak bisa menolak tapi tatapannya di bawah karena wajahnya menunduk.
Balin memejamkan mata. Rasanya ini hanya sebuah mimpi, mimpi yang selalu menjadi bunga tidurnya selama kepergian Gia. Ya setiap tidur ia akan bermimpi bertemu Gia.
Dan sekarang ini bukanlah sebuah mimpi tapi kenyataan. Wanita yang sedang ia dekap ini adalah Gia istrinya.
Balin menangkup wajah Gia dengan kedua telapak tangannya hingga mau tak mau Gia mendongak. Tatapan mereka bertemu. Balin sangat kaget mendapat wajah Gia berlinang air mata.
Cup cup
Tanpa pikir panjang ia kecup dua mata tersebut. Menghapus dengan kecupan bibirnya. "Jangan pergi lagi!" Balin pun kembali memeluk Gia. Dekapan dua tangan itu membuat Gia sulit untuk bernafas. "Jangan tinggalkan aku lagi, aku sngat merindukanmu Gia! " Bisiknya dengan terisak.
"Ya Tuhan apa ini? kenapa Engkau mempertemukan kami kembali? di saat aku mulai bangkit dari keterpurukan!" Batin Gia. Ia tidak membalas pelukan tersebut.
"Aku minta maaf sayang. Tolong kembalilah," bisiknya kembali.
Gia menggeleng dalam pelukan tersebut. Sepatah katapun sulit baginya untuk berucap. Lidahnya keluh dengan apa yang terjadi. Syok hampir jantungan itulah yang ia rasakan. Tidak pernah menyangka bahwa hari ini mereka bertemu.
"Kamu baik-baik saja? ternyata selama ini kamu tinggal di sini. Pantas saja sangat sulit untuk mencari mu. Ikut aku pulang!"
Gia menggeleng menolak hingga membuat Balin menguraikan pelukannya. Ia kembali menatap wajah Gia yang hanya menunduk.
"Kamu masih marah kepada ku?"
Gia menggeleng
Hiks.... hiks....
Akhirnya Gia tak sanggup lagi menahan tangisnya, hingga tangisan itupun pecah seketika.
"Sayang jangan menangis. Aku minta maaf!" Balin berusaha menenangkan Gia dengan mengusap air mata itu tetapi dengan spontan di tepis oleh Gia. Bahkan ia memundurkan dirinya untuk menjauhi Balin.
Gia benar-benar belum siap untuk bertemu. Tapi tanpa disangka merek adi pertemukan dengan kehendak yang Maha kuasa dan juga melalui perantara Putra.
Gia menatap wajah Balin sejenak, tatapan mereka bertemu dalam diam. Gia kaget karena baru menyadari bahwa Balin juga ikut menangis. Sorot mata penuh rindu sangat terpancar jelas pada diri Balin.
"Aku juga sangat merindukanmu!" Ucapnya dalam hati.
KLEK
Gia membuka pintu ketika Balin lengah. Ia pun langsung keluar dengan berlari kencang, ia tidak ingin Balin menemukan dirinya lagi.
"Gia..... Gia!" Teriak Balin memanggil Gia dengan suara cukup lantang. Ia pun seger keluar mengejar Gia.
__ADS_1
Gia lari seperti di kejar setan, tanpa memperdulikan pandangan para karyawan. Ia berlari ke arah lobi, sepertinya ingin pulang.
Tiba di parkiran sepeda motor ia langsung tancap gas tanpa memikirkan bahaya yang mengintai di jalanan sana.
"Gia..... Gia...." Teriak Balin frustasi karena gagal mengejar Gia yang entah dimana.
Di lobi Balin mengusap wajahnya. Merasa frustasi karena gagal mencegah Gia. Hingga Kelvin menghampiri dirinya karena mendengar laporan dari salah satu karyawannya.
"Beri alamat Gia!" Ujar balin kepada Kelvin.
Kelvin mengerutkan dahi tidak paham. "Sebenarnya ad apa Pak?" tanya Kelvin sangat penasaran.
"Nanti saya akan ceritakan tapi minta alamat Gia."
Karena posisi terjepit dengan keterpaksaan Kelvin memberi alamat rumah Gia. Tanpa membuang waktu Balin berlalu, bahkan tidak sempat mengucapkan terima kasih.
"Pak ke alamat jalan xxx," ujar Balin kepada supir pribadinya. Karena ia tidak tahu seluk beluk kota tersebut makanya ia menggunakan supir.
***
Di rumah
Dengan derai air mata Gia melemparkan tubuhnya di atas ranjang. Ia kembali menangis, bahkan tangisnya begitu keras.
Ia tak pernah menyangka pada akhirnya bertemu dengan orang yang selama ini ia hindari. Begitu cerobohnya dia karena tidak terlebih mencari tahu siapa klien mereka, dan karena ketidaktahuan tersebut pada akhirnya menjadi begini.
"Kenapa kamu datang ketika aku mulai mengubur dalam-dalam?"
Masih terbayang jelas bagaimana reaksi Balin ketika bertatap muka dengan dirinya. Gia dapat menyimpulkan jika pria itu benar-benar kaget dengan pertemuan mereka, begitu juga yang dia rasakan.
Cara Balin memanggil dirinya dengan panggilan sayang. Aku merindukanmu, selama ini mencari mu, pulanglah bersamaku, aku minta maaf, jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku lagi! Membuat bumerang sendiri bagi Gia.
Aaahk....
Teriak Gia sembari menjambak rambutnya, ia tak ingin mempercayai semua kalimat yng dilontarkan Balin. Ia tidak ingin terjebak dan masuk kedalam relung sakit hati dan kebohongan lagi. Sudah cukup baginya kecewa dan sakit hati.
Satu tahun bukan hal yang mudah untuk dirinya melalui semua ini. Penuh dengan tetesan air mata dan perjuangan penuh untuk menghadapai rintangan demi rintangan.
Bersambung.....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi
__ADS_1