
Lira mengerjap ngerjapkan matanya yang masih lengket, dia memposisikan dirinya untuk duduk. Lira berusaha mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya sebelum dia melakukan rutinitas dipagi hari.
Yang Lira lakukan dipagi hari bukanlah mandi, melainkan membuka laptop dan mengecek pekerjaannya. Dia tidak seperti menantu tuan pratama yang lain yang tidak bekerja. Walaupun Lira hanya bekerja lewat internet tetap saja dia bekerja.
Setelah lima belas menit dia melihat layar laptopnya dia kemudian beranjak menuju kamar mandi. Lira tidak memerlukan waktu banyak untuk mengecek pekerjaannya, kecuali ada masalah yang berarti.
Lira keluar dari kamar mandi setelah menyegarkan dirinya. Dia sekarang memakai T-shirt berwarna biru muda yang sedikit longgar dan celana pendek diatas lutut yang menampilkan kulit putih mulus miliknya.
Seperti biasa Lira hanya memakai riasan yang sederhana diwajahnya, namun itu masih membuatnya sangat mempesona. Rambutnya digelung menggunakan tusuk rambut, dan menampilkan leher jenjangnya yang putih.
Setelah dirasanya cukup rapih, Lira kembali duduk diatas sofa, dan mulai memainkan ponselnya.
Shean baru saja bangun ketika melihat Lira yang sudah segar dipagi hari (emang buah, segar). Tanpa sadar Shean mulai berjalan mendekati Lira, dan berhenti tepat didepannya.
"apa?" tanya Lira yang sadar akan keberadaan Shean. Dia mendongak dan menatap tepat dibola mata Shean.
Shean baru sadar akan apa yang dia lakukan dan itu membuatnya salah tingkah.
"itu..." Shean yang biasanya tidak pernah ragu untuk mengatakan sesuatu jadi malah kikuk dihadapan Lira "coklat- ya coklat. kau tidak memakannya?" akhirnya kata itulah yang keluar dari mulut Shean.
"oh itu. pagi pagi tidak mungkin makan coklat" kata Lira cuek.
Lira sebenarnya tidak pernah membenci Shean, apalagi saat Shean memberikan sebuah perjanjian pernikahan. Lira merasa bahwa Shean juga keberatan dengan pernikahan itu, selama ini mereka menjalaninya dengan biasa saja. Lira yang berusaha tidak peduli dengan Shean, begitu juga dengan Shean.
Namun sekarang Lira mulai merasa bahwa Shean agak berbeda terhadapnya. Shean jadi sering berbicara kepadanya, walau kata sering itu tidak benar benar maknanya, karena Shean memang irit bicara. mungkin lebih tepatnya Shean sering berinteraksi dengan Lira.
Bukan Lira mulai mempunyai perasaan ke Shean, tidak. Dia bahkan lebih suka jika Shean tidak menganggapnya ada atau mengabaikan keberadaannya seperti biasa.
☆☆☆
Didalam sebuah kafe yang lumayan ramai di siang hari. Empat pengusaha muda sedang mengadakan meating. Contohnya Shean dan Dion yang memang menjalin kerja sama.
Dion jelas bukan dengan senang hati untuk menjalin kerjasama dengan Shean, dia dipaksa oleh dady nya. Awalnya dia memang tidak mau, namun setelah dipikir pikir ada bagusnya juga untuk mempermudahnya.
Sejak meating dimulai, Dion selalu menatap Shean sinis. Namun Shean tidak ambil pusing untuk itu, dia lebih memilih untuk pokus dengan dua pengusaha yang lain.
"saya rasa kita sudah sepakat ya tuan Shean?" kata pengusaha disamping Dion.
Shean menerima uluran tangan dari pengusaha itu kemudian dilanjutkan dengan yang lainnya juga termasuk Dion. Ketika Shean dan Dion bersalaman, Dion menggenggam tangan Shean dengan erat, sehingga membuat tangannya sedikit sakit namun Shean masih bisa mengatur ekspresinya.
"tuan Dion. kami duluan" kata dua pengusaha itu berpamitan.
"ya sampai bertemu di meating selanjutnya" kata Dion.
Dua pengusaha itu pergi dari kafe tersebut meninggalkan Shean dan Dion yang sedang perang dingin. Baru saja Shean akan beranjak dari sana, Dion mulai berkata yang membuat Shean harus menghentikan langkahnya.
"seharusnya kau tidak melakukan itu ke Lira" kata Dion datar.
Shean menatap kakak iparnya itu dengan tatapan dingin penuh tanya.
__ADS_1
Dion mengeluarkan smirknya dan berkata "semua orang bisa kau bohongi.. tapi tidak denganku" kata Dion.
Shean sudah merasa kalau Dion mengetahui tentang perjanjian pernikahan itu.
"kau berselingkuh dari Lira" kata Dion tepat sasaran.
Diantara lega dan juga sedikit bersalah, Shean menghela nafasnya dalam.
"saya tidak pernah menyelingkuhi Lira" kata Shean datar.
"yahh saya harap begitu. tapi jika Lira tau dan dia sakit hati karenanya, jangan harap perusahaanmu baik baik saja tuan Shean Pratama" kata Dion penuh penekanan dan ancaman "oh ya, jika sudah begitu kau tidak akan bisa mendapatkan cintanya lagi sekalipun kau berusaha" lanjutnya dan bergegas meninggalkan Shean yang masih berdiri mematung.
Bukan tanpa alasan Dion mengatakan itu, dia pernah melihat Shean berada disebuah kafe bersama dengan wanita sexy yaitu Selena. Ketika Dion baru pulang dari rumah sakit bersama Lira. Dia benar benar kesal karena seharusnya Shean bisa berada disamping Lira ketika Lira sakit, malah dia bertemu dengan wanita Lain dan berpelukan dengannya.
Shean mengepalkan tangannya erat kemudian dia juga berlalu dari sana.
☆☆☆
Mia sedang duduk sendirian diruang keluarga dan sedang menonton tv.
Lira yang baru saja turun dari lantai dua melihatnya dan berpikir apakah dia harus mulai membahas tentang masalah itu.
Lira memantapkan dirinya dan berjalan ke ruang keluarga dengan langkah pasti.
"kak" kata Lira.
Mia tidak menjawab dan hanya melihat Lira sekilas kemudian kembali menonton tv.
"kak Mia. Lira mau bicara" kata Lira masih berdiri disamping Mia.
"apa?" kata Mia sinis.
"Lira mau membahas tentang kejadian didapur waktu itu" kata Lira.
Mia mulai mengalihkan atensinya ke Lira dan menatap Lira tak bersahabat.
"kenapa? kau mau membela Dea?" tanya Mia.
"apa benar Dea yang menumpahkan minyak panas ketangan kakak?" tanya Lira.
"jadi kau pikir aku yang menyalahkan Dea tanpa alasan begitu?" Mia mulai tersulut emosi.
Lira hanya memasang wajah cuek dan menyilangkan kedua tangannya didada.
"jika kak Mia tidak bersalah, kenapa harus marah" Lira tersenyum miring kearah Mia dan itu membuat siempunya benar benar marah.
"KAU-" Mia menghentakan kakinya kemudian bergegas meninggalkan Lira.
"memangnya aku tidak berani padamu" monolog Lira kemudian tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Lira mendudukan dirinya diatas sofa diruang keluarga itu. Dia memainkan ponselnya tanpa ingin melihat tv yang dari tadi sudah menyala.
Namun kemudian Lira menyimpan ponselnya disampingnya, dan mulai berpikir lagi.
Mia sudah menjadi masalah bagi keluarga Shean selama ini, dan entah mereka tidak tau atau menutup mata dengan semua itu. Tapi kali ini Lira tidak akan membiarkannya.
Kenapa dia jadi sangat peduli dengan keluarga Shean, dia juga tidak tau. Yang pasti Lira hanya merasa dia mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah itu.
☆☆☆
Lira sedang berada didalam kamarnya dan sedang memakan coklat pemberian Shean waktu itu. Shean sedang berada dikamar mandi dan sedang membersihkan diri setelah pulang dari kantor. Waktu sudah menunjukan pukul Lima sore dan Lira sudah mandi duluan sebelum Shean.
Sedang enak enaknya memakan coklat yang manis, ada saja yang mengganggunya. Lira melangkahkan kakinya menuju pintu kamar dan membukanya.
"eh kak Min ada apa?" tanya Lira ramah.
Ekspresi Min saat ini sedang tidak bersahabat.
"apa yang kau bicarakan dengan Mia?" tanya Min datar.
"aku sudah menduganya. pasti wanita itu biacara yang tidak tidak ke kak Min" batin Lira.
Lira hanya tersenyum kecil "biasa kak masalah perempuan" kata Lira enteng.
"kuharap begitu. aku tidak ingin kau mencari masalah dengannya, karena aku sudah bersikap baik padamu dan menghargaimu sebagai adik iparku" kata Min kemudian pergi begitu saja.
"dia kesini hanya untuk bilang seperti itu? kak Min yang ramah dan baik hati bisa berubah drastis karena rubah licik itu. oh ya ampun, makin susah saja" monolog Lira.
Lira menutup pintunya sedikit keras dan berbalik untuk kembali memakan coklatnya.
"YAK. bisa tidak bersuara kalau berada didekatku, bikin kaget saja" Lira yang memang lagi kesal makin kesal saja karena perilaku Shean.
Lira berjalan melewati Shean dengan menghentakan kakinya dan menghempaskan dirinya diatas sofa dengan keras.
Baru saja Shean akan bertanya kenapa Lira seperti itu, Lira sudah mengomel duluan.
"Apa kau dan saudaramu memang seperti itu. menutup mata untuk kesalan orang tercinta, bukankah itu sangat menyebalkan dan tidak adil bagi pihak lain?" kata Lira dengan menggebu gebu. Dia sudah tidak bisa menahannnya lagi.
Melihat Lira yang sedang kesal membuat Shean tersenyum kecil, karena saat ini Lira sangat lucu dimata Shean. Lira yang lagi emosi sambil memakan coklatnya asal, membuat Shean gemas sendiri.
Shean berjalan mendekati Lira dan tanpa sadar mencondongkan dirinya untuk mengusak rambut Lira lembut.
Lira yang mendapat perlakuan itu dari Shean kaget dan mendongak melihat Shean tepat diwajahnya. Pandangan mereka kembali bertemu, Shean yang sedang tersenyum kearah Lira malah membuat Lira merinding sendiri. Tiba tiba tangan Shean menyentuh bibir mungil Lira dan mengusapnya lembut, dia bermaksud menyeka coklat yang belepotan di bibir Lira.
"apa yang kau lakukan?" Lira menepis tangan Shean kasar.
Shean yang merasa disadarkan mulai kembali memasang wajah datarnya.
"memangnya apa yang aku lakukan" kata Shean dan berlalu menuju tempat tidur.
__ADS_1
"dasar aneh.." gerutu Lira dan kembali memakan coklatnya.
Shean sudah memegang dadanya untuk menetralisir derak jantungnya. Tindakan yang dilakukannya ke Lira membuatnya kikuk sendiri.