
Gia duduk sepertinya di mintai oleh sang personalia.
"Perkenalkan nama saya Haikal," ujar pria itu memperkenalkan dirinya.
Gia mengangguk sebagai jawaban.
Mereka saling tanya jawab selama hampir 20 menit. Banyak pertanyaan yang perlu dijawab waspada oleh Gia karena ia menyembunyikan identitas aslinya. Gia hanya mencantumkan nama Gia saja, tidak ada Bahtiar di namanya.
"Baiklah Bu Gia. Tunggu informasi dari pihak kami. Bu Gia cukup berpengalaman, hmm wajah Bu Gia tidak asing," ujar Haikal.
Gia menelan ludah, tadinya tersenyum kini terkatup diam. Rasa takut kini meliputi dirinya, ia tidak ingin identitasnya diketahui sekarang juga.
"Hmm mungkin saya salah," imbuh Haikal kembali hingga berhasil membuat Gia bernafas lega.
"Iya Pak." Hanya itu yang dapat dijawab oleh Gia berusaha melengkungkan bibirnya agar pria itu tak menyadari perubahan pada dirinya.
Mereka pun mengakhiri. Gia keluar masih dengan dada bergemuruh. Hampir saja identitasnya terbongkar.
Perusahaan ini masih baru berdiri, bahkan ia baru mengetahui perusahaan ini. Jadi ini kelegaan bagi Gia karena orang tua dan mantan suaminya tidak akan tahu keberadaannya.
Gia mengendarai sepeda motornya menuju rumah sakit. Rumah sakit yang mereka datangi kemarin, ingin mengambil hasil laboratorium pemeriksaan Bi Ani.
Dengan perasaan was-was Gia masuk kedalam rumah sakit. Ia tidak ingin Bi Ani memiliki penyakit yang mematikan.
Nama Bi Ani pun di panggil. Gia masuk kedalam ruangan dokter.
"Keluarga Nyonya Ani Hidayat?" ujar dokter.
"Iya dok," jawab Gia.
Dokter membuka hasil pemeriksaan Bi Ani, lalu menjelaskan sedetail-detailnya, penyakit yang diderita.
"Apa?" lirih Gia tersentak kaget mendengar Bi Ani di vonis tumor hati.
Gia mengusap wajahnya yang mungkin saat ini memucat. Apa yang sejak kemarin ia takuti terbukti sudah bahwa penyakit Bi Ani sangat berbahaya.
Dengan langkah gontai Gia keluar dari ruang dokter. Ia memeluk hasil pemeriksaan Bi Ani menuju area parkiran.
Hanya butuh waktu 15 menit ia tiba di rumah sederhana, tapi asri tersebut. Gia langsung memasukan sepeda motor kedalam rumah.
Dengan wajah sendu Gia berjalan menuju dapur. Ia ingin makan dulu baru menemui Bi Ani yang berada didalam kamarnya.
Gia makan dalam diam. Makan seadanya saja yang penting dapat mengganjal perut. Jauh berbeda dengan menu makanannya sehari-hari sewaktu di Jakarta.
__ADS_1
Usai makan Gia diam sejenak. Menata hatinya sebaik mungkin. Ia tidak ingin terlihat terpuruk dihadapan Bi Ani karena wanita baik hati tersebut tidak boleh banyak berpikir. Cukup fokus pada kesehatannya.
KLEK
Gia membuka pintu kamar dengan pelan, tidak ingin Bi Ani terbangun jika ia sedang tidur. Tapi rupanya Bi Ani terjaga, ia duduk bersandar di atas ranjang.
"Bi," sapa Gia.
"Kamu sudah pulang Nak?"
Gia beringsut duduk di tepi ranjang. Memastikan keadaan Bi Ani sebelum menjelaskan hasil pemeriksaan.
"Bagaimana Bi, apa sudah mendingan?" tanya Gia basa basi.
Bi Ani hanya bisa tersenyum tanpa ingin menjawab pertanyaan itu karena sebenarnya ia sangat menderita akibat penyakit tersebut tapi biarlah dia sendiri yang merasakannya. Lagi pula tidak ada uang untuk berobat terus menerus.
"Ini hasil pemeriksaan Bibi." Gia menyerahkan sebuah amplop putih dengan stempel rumah sakit. Bi Ani terdiam, tidak berbuat untuk membuka amplop tersebut.
"Jelaskan saja Nak," ucap Bi Ani.
Gia menghela nafas berat. Tatapan mata Bi Ani yang tenang membuatnya sedikit lega karena wanita ini sudah siap mendengar kabar baik maupun buruk.
"Sesuai hasil laboratorium Bibi di vonis tumor hati," lirih Gia dengan lidah keluh untuk melontarkan kalimat tersebut.
"Bibi tenang saja, ada Gia yang selalu bersama Bibi," ucap Gia, langsung memeluk Bi Ani. Memberi kekuatan agar selalu semangat menjalani hari-harinya.
***
Usai 2 hari dari interview Gia dihubungi dan diterima kerja. Ia sangat bahagia karena pada akhirnya dapat pekerjaan.
Kini ia sudah bersiap-siap ingin pergi ke kantor. Tapi sebelumnya ia membereskan urusan rumah dan memastikan keadaan Bi Ani.
Usai berpamitan dengan Bi Ani. Gia bergegas berangkat, untuk pertama kalinya ia tidak ingin datang terlambat, bisa-bisa kinerja atau kedisiplinan waktu mempengaruhi.
Gia kembali menyapa Sang satpam dengan ramah. Sama halnya ia juga di sambut dengan ramah.
Tiba-tiba seseorang menyapanya, ternyata orang itu adalah wanita yang pada waktu itu ikut interview.
"Hai kamu diterima?" tanyanya dengan ramah.
"Iya. Hmm apa kamu juga diterima?" Gia balik bertanya.
Wanita itu mengangguk. Mereka pun saling berkenalan. Hingga sama-sama berjalan menuju resepsionis, untuk menanyakan mereka harus ke ruangan mana terlebih dahulu.
__ADS_1
Mereka di arahkan ke ruangan kepala bagian pemasaran. Di sana mereka ditempatkan di ruangan bagian pemasaran. Gia dan Nia merasa senang karena mereka ditempatkan satu ruangan. Anggap saja mereka sudah memiliki teman jadi untuk memudahkan dalam masalah pekerjaan.
"Syukurlah kita ditempatkan dalam satu ruangan," ucap Nia, wanita cantik bermata sipit. Khas penduduk asli kota borneo. Ia masih muda dari Gia tapi secara wajah Gia lebih unggul.
Gia mengangguk dan tersenyum.
Mereka langsung bekerja hari itu juga, bahkan sudah banyak pekerjaan yang diberikan. Tidak sulit bagi Gia untuk menyelesaikan setiap pekerjaan itu. Lain halnya dengan Nia karena ini pengalaman baru baginya.
Tiba waktunya makan siang. Gia maupun Nia beranjak dari ruangan mereka. Ke kantin untuk makan siang, kebetulan Gia tidka membawa bekal. Tapi untuk ke depannya ia akan membawa bekal agar sedikit irit.
"Kamu mau makan apa?" tanya Nia.
"Nasi goreng dan es lemon saja," sahut Gia.
Nia pun berjalan menuju pelayan kantin. Memesan makanan mereka.
"Siapa itu?" bisik-bisik kaum adam ketikan menyadari sosok Gia yang tengah duduk sendirian di pojokan sana.
"Cantik sekali. Sepertinya karyawan baru," sambung yang lainnya.
"Jika begini bikin semangat kerja saja," timpal lainnya lagi.
"Seperti bidadari dari surga," imbuhnya.
Nia yang mendengar kekaguman demi kekaguman dari para pria itu menghela nafas. Benar saja Gia memanglah sangat cantik.
Siap memesan makanan Nia kembali ke meja yang mana ditempati Gia. Gia tersentak kaget karena sejak tadi ia hanya melamun, bahkan tak menyadari jika para pria di sana sedang memperhatikannya.
"Melamun saja, ingat loh ayam tetanggaku sejak kemarin melamun dan tadi pagi merenggang nyawa," cicit Nia bercanda.
"Kamu bisa saja." Gia terkekeh kecil, menampakkan gigi putihnya hingga membuat para kaum adam klepek-klepek di ujung sana.
"Hmm perhatikan sekelilingmu, banyak mata kagum memperhatikanmu," bisik Nia sembari memberi kode. "Sepertinya kamu menjadi primadona kantor!" Celetuk Nia.
Dahi Gia mengerut mendengar apa yang dikatakan teman barunya tersebut. Karena penasaran ia lalu memandang kiri kanan depan.
JLEP
Seketika Gia menelan ludah karena apa yang dikatakan Nia itu benar. Raut wajah Gia seketika berubah, ia benar-benar tidak suka dengan tatapan beberapa orang tersebut. Dadanya menjadi sesak karena masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam kembali terbayang.
Bersambung....
🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi