Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Dilema


__ADS_3

satu jam kemudian Aidan sudah tersadar dan ia melihat kakek nenek istrinya sedang berbincang di sofa


"mas kau sudah siuman, apa yang kau rasakan???? bagaimana kondisimu????" tanya Sandra beruntun dengan mata berkaca-kaca


"Maafkan aku membuatmu khawatir" ucap Aidna menghapus air mata yang menetes di pipi Sandra


"Bocah tengil mengapa kau lemah sekali keluar masuk rumah sakit terus" maki Jaret berusaha tegar


"Kakek, nenek"


"Apa kau masih merasa sakit kepala??" tanya Margareth lembut mengusap kepala cucunya.


Ia selalu melakukan itu sejak Aidna kecil mana kala sakit kepala Aidan kambuh


"Aku baik-baik saja nek, kek.


maaf membuat kalian khawatir"ucap Aidan lirih.


Margareth tersenyum kecil


"Tentu saja kamu khawatir sebab kau cucu pertama keluarga kita, di bahunya kamu menaruh harapan" ucap Jaret membuat Margareth melotot marah, suaminya itu malah mengingatkan beban di bahu Aidan


"Aku mengatakan yang sebenarnya" ucap Jaret tak mau di salahkan


"Jangan dengarkan kakek tua itu yang terpenting bagi nenek adalah kesehatanmu.


kau harus banyak istirahat agar kesehatanmu kembali pulih.


lihat kasihan Sandra sedang hamil harus merawat mu di rumah sakit"


"Iya nek, aku akan lekas sembuh dan kembali ke rumah"

__ADS_1


kalau begitu kamu pamit, Sandra kau juga sebaiknya istirahat. Biarkan Sam yang menemani Aidna di rumah sakit" ucap Margareth perhatian


"Aku... Aku ingin disini sebentar lagi nek"


"Baiklah kalau begitu kamu pamit" ucap Margareth mengelus puncak kepala. Sandra.


setelah mengenal Sandra Margaret menemukan bahwa Sandra adalah gadis yang baik.


iya tidak seburuk yang selama ini Margaret pikirkan.


bahkan dari cara dia menjawab dan bertutur kata terlihat sekali Jika Sandra memiliki pendidikan yang baik. ditambah sikapnya yang lembut dan sop penuh sopan santun membuat Margaret menyukai cucu menantunya itu.


Sandra mengantar mereka berdua sampai depan pintu kamar ruang perawatan edan setelah itu ia kembali masuk ke dalam ruang perawatan.


"sayang sini...." ucap Aidan manja.


Sandra hanya bisa menurut mendekati suaminya. Aidan lalu memeluk Sandra, menyembunyikan kepalanya di leher Sandra


"Jangan berpikiran aneh, ini rumah sakit" bentak Sandra kesal tahu pikiran Yang ada di otak Aidan


"Katanya bisa menyembuhkan sakit kepala dan stress loe yank, ayolah" ucap Aidan seperti anak kecil meminta permen.


wajah Sandra merona merah, ia tak pernah berfikiran bahwa Aidan akan semesum ini.


Namun mendengar bisa menyembuhkan Aidan, Sandra mau tak mau tergerak hatinya, ia mengunci pintu ruang perawatan dan akhirnya mereka melakukanya dengan cepat


Sandra memaki dalam hati, bagaimana ia bisa sama.gilanya dengan Aidan, beruntung Tak ada yang datang hingga mereka selesai.


Aidan terus tersenyum penuh arti membuat Sandra melempar bantal sofa kearahnya


"Seru ya??"

__ADS_1


"Jangan gila, cukup sekali aku mengikuti kegilaan mu" sungut Sandra kesal. Aidan tertawa kecil


ia memang merasa sedikit relax seolah penat di kepalanya hilang, namun sakit itu masih juga terasa, Aidan menahannya karena tak ingin Sandra khawatir.


Sore itu Sandra pamit, ia harus berganti pakaian, namun Aidna meminta Sandra beristirahat di rumah karena melihat istrinya kelelahan.


Selain itu Aidan sudah tak bisa menahan sakit kepalanya lagi, jika Sandra terus disini ia bisa makin tersiksa.


Samuel segera memanggil Kendrick, telihat Aidan meringkuk sambil memegangi kepalanya


"****... ****" maki Kendrick"


"Dokter Kendrick kau bisa memaki"


"Sam, gue beneran frustasi, obat itu sudah tak berfungsi"


"Kasih obat nya sekarang Ken, gue rasanya mau mati, kepala gue mau pecah" teriak Aidan dengan mata memerah menahan sakit


" Asisten Kendrick.memepriskaoak obat Aidan, mereka menyuntikkannya melalui selang, tak lama kemudian Aidan tertidur.


"Kita enggak bisa terus seperti ini"


"Gue tahu, tapi..."


"Apa loe tahun sesuatu???" tanya Samuel melihat wajah ragu Kendrick


Kendrick lalu menceritakan semua percakapannya dengan Jaret, kakek Aidan, ia juga secara pribadi menyatakan keberatan nya, namun kondisi Aidan makin hari makin parah


"Gue gak tahu harus bagaiman, tapi jika itu option terakhir mungkin kita bisa mencobanya"


"Loe gila Sam??????"

__ADS_1


"Gue akan selalu berada di dekat Aidan saat wanita ular itu melakukan sesi terapi ya" ucap Samuel yang sebenarnya juga tak setuju, tapi juga tak tega melihat keadaan Aidan.


__ADS_2