
"Kenapa Bibi diam saja?" Gia kembali mencecar karena Bi Ani sejak tadi diam saja.
Wanita paruh baya dengan bobot tubuh gemuk itu menarik nafas panjang.
"Bibi hanya tidak ingin membuatmu repot Nak."
Gia menyipitkan mata mendengar alasan Bi Ani yang menurutnya tak masuk akal. Ia pun bangkit dan duduk di sebelah Bi Ani.
"Sekarang kita keluarga. Hanya Gia yang ada bersama Bibi. Apapun yang terjadi kita harus saling tahu. Hmm jangan-jangan Kak Ricky juga tidak tahu penyakit Bibi?" tebak Gia dengan yakin.
Bi Ani mengangguk sebagai jawabannya. Gia mendesah, mengusap wajahnya karena sedikit heran dengan wanita paruh baya di sebelahnya ini. Wanita yang sudah tulus menerima kehadirannya di rumah ini.
"Kenapa Bibi?" gumam Gia dengan mengigit bibir bawahnya.
Bi Ani meraih tangan Gia, lalu menjawab apa alasannya untuk menyembunyikan penyakitnya tersebut. "Bibi tidak ingin mereka khawatir Nak, mereka sudah tenang dengan kehidupannya di sana, hingga Bibi tidak ingin menjadi halangan untuk kebahagiaan mereka hanya karena penyakit Bibi ini. Bibi sudah tua jadi tidak ada yang perlu di takuti," ungkap Bibi dengan mata berkaca-kaca.
"Apa istri Kak Ricky orangnya tidka baik?" tanya Gia penasaran karena sepertinya Bi Ani begitu tidak ingin mengusik kehidupan anak dan menantunya.
Bi Ani menggeleng, seakan menolak tuduhan Gia. "Dia menantu idaman. Sangat baik dan peduli kepada Bibi," ucapnya sembari mengingat kebaikan sang menantu.
Gia mengangguk karena sudah paham apa yang menjadi dasar Bi Ani menyembunyikan penyakitnya tersebut hingga ia tak bertanya lagi.
Gia bangkit menuju dapur, mengambil air minum dan meraih potongan buah-buahan di atas meja. Ia kembali dengan kedua tangan masing-masing memegang sesuatu.
"Bibi minum obat dulu," ucap Gia sembari menyerahkan segelas air minum hangat kuku.
Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum Bi Ani kembali beristirahat di kamar.
Kini Gia duduk di atas ranjang dalam kamarnya. Ia termenung, tiba-tiba ingatannya kepada sang Papi. Rasa rindu itu kembali menjeratnya, tiba-tiba apa yang dialami Bi Ani membuatnya berpikir kepada sang Papi.
Gia menggeleng cepat, ia menepis pikiran konyol dan omong kosongnya tersebut karena ia tahu bahwa kesehatan Papinya baik-baik saja selama ini.
Karena kelelahan berpikir, Gia pada akhirnya terlelap. Melupakan sejenak skenario permasalahan yang sedang ia alami saat masa sulit ini.
Drrrtt
Ponsel Gia yang diletakkan di samping pembaringannya bergetar entah ke berapa kalinya hingga tidur nyenyak itu terusik. Hingga mau tidak mau ia mencoba membuka mata.
"Siapa yang menelpon ya?" gumamnya, perasaan hanya Putra dan Bi Ani yang tahu nomor barunya. Itu juga ponsel pemberian Putra sebelum ia terbang ke kota borneo tersebut.
Putra sudah banyak mengeluarkan uang untuk dirinya kabur dari kota kelahirannya. Untuk itu ia akan membalas suatu saat nanti ketika ia sudah berhasil mendapatkan pekerjaan. Putra tak mempermasalahkan itu semua karena Gia adalah atasannya, keluarga Bahtiar juga yang telah mengangkat martabatnya hingga ia bisa seperti sekarang.
__ADS_1
Gia beranjak bangun dengan mata berat. Lalu meraih ponsel tersebut.
"Nomor baru," gumam Gia seketika perasaannya menjadi was-was takut yang sedang menghubunginya adalah Papi dan Balin, bisa saja Putra memberitahu keberadaannya.
Dengan tatapan waspada Gia menatap ponsel yang masih berlangsung tersebut. Ia tak berani mengangkatnya.
TING
Notifikasi pesan masuk. Dengan dada gemuruh Gia meraih ponsel itu, bahkan tangannya gemetar saking takutnya.
Deg
Jantungnya berdebar ketika membaca pesan tersebut.
[Selamat sore! Kami dari pihak personalia dari perusahaan JAYA MAJU. Harap untuk untuk mengangkat panggilan kami! Terima kasih.]
Gia merasa lega karena yang ia takuti hanya perasaannya saja. Tidak mungkin Putra mengkhianati dirinya.
Drrrtt
Ponselnya kembali dihubungi.
"Halo selamat siang. Apa ini dengan Ibu Gia? kami dari pihak personalia perusahaan JAYA MAJU."
"Kami sudah memeriksa surat lamaran Bu Gia, untuk itu besok kami akan mengadakan interview. Harap Bu Gia datang tepat waktu. Terima kasih."
"Baik Pak, terima kasih."
"Selamat siang!"
Sambungan telepon pun berakhir. Gia sangat bersyukur karena dihubungi pihak perusahaan yang ia datangi kemarin.
"Semoga saja aku diterima," gumam Gia sembari memeluk ponselnya. Hatinya sedikit lega karena pihak perusahaan tersebut dengan cepat memberi interview.
***
Keesokan paginya
Gia sudah rapi dengan setelan rok hitam dan kemeja putih.
"Bibi sarapan dulu ya? biar segera minum obat," ucap Gia sembari meletakan napan di atas nakas.
__ADS_1
"Iya Nak. Kamu sudah siap? kamu sangat cantik. Bibi yakin kamu akan diterima, apa lagi kepandaian mu untuk masalah kantor," ucap dan puji Bi Ani sembari tersenyum. Ia bersyukur ada Gia bersamanya saat ini, andai saja Gia tidak ada siapa yang mengurus dirinya disaat sakit seperti ini. Sebenarnya ia merasa canggung karena Gia adalah anak orang kaya.
"Semoga saja Bi agar Bibi tidak perlu bekerja lagi," sahut Gia. Ya Bi Ani selama ini bekerja di kantin rumah sakit, hanya membantu saja.
Bi Ani tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Sungguh hati Gia begitu baik dan tulus, tapi kenapa ia mendapat cobaan sebesar ini. Dada Bi Ani sesak jika mengingat semua cerita Gia di masa lalu dan masa sekarang.
Ternyata bergelimang harta tidak menjamin kebahagiaan seperti yang ia pikirkan selama ini. Malah sebaliknya orang dengan kehidupan sederhana jauh dikatakan hidup bahagia.
"Kamu segeralah berangkat Nak. Maklum pagi begini sering macet. Gunakan sepeda motor, dari pada kamu jalan kaki atau naik angkot," ucap Bi Ani.
"Baik Bi. Ini obat yang harus Bibi minum pagi ini. Pulang dari interview, Gia akan ke rumah sakit untuk mengambil hasil laboratorium," ucapnya sembari meletakan obat yang harus di minum pagi ini.
"Hati-hati di jalan Nak," ucap Bi Ani sembari mengusap pundak Gia.
Gia mengangguk dan tersenyum.
Butuh waktu 20 menit jarak yang ia tempuh. Kebanyakan lampu merah dan juga sedikit kemacetan. Apa yang dikatakan Bi Ani itu benar.
Usai memikirkan sepeda motornya Gia merapikan dirinya sejenak. Apa lagi rambutnya sedikit berantakan karena mengenakan helm.
Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan, sebelum memasuki lobi.
"Selamat pagi Pak," sapa Gia dengan ramah.
Satpam yang kemarin menjawab tak kalah ramahnya. Bahkan ia tak sadar tersenyum lebar menyambut kedatangan Gia.
Gia mengangguk dan segera menemui pihak personalia. Ternyata di luar ruangan personalia ada beberapa orang yang juga akan di interview.
Gia sedikit berbincang-bincang dengan mereka. Dan pada akhirnya namanya di panggil.
"Selamat siang Pak!" Sapa Gia dengan ramah.
Sang personalia berjenis laki-laki itu terkesima dengan kedatangan Gia. Hingga untuk sesaat ia tak menggubris sapaan Gia.
Hmm
"Selamat siang. Silahkan duduk," titahnya dengan kikuk tapi berusaha tidka terjadi sesuatu. Hingga membuatnya sengaja berdehem, mengendalikan suasana hatinya yang tiba-tiba berdesir.
Bersambung....
🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi