Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Tekad Shean


__ADS_3

Lira dan Shean masih mengguanakan mode diam saat mereka sedang berduaan saja. Sama seperti saat awal awal mereka menikah, tidak ikut campur urusan masing masing dan mengabaikan satu sama lain.


Sudah sekitar dua minggu Lira dan Shean saling berdiam diri karena masalah ciuman waktu itu. Mereka tidur seperti biasa lagi, terpisah antara tempat tidur dan sofa. Namun kali ini tidak ada pergantian setiap seminggu sekali, dalam dua minggu ini Lira yang selalu tidur di tempat tidur, sedangkan Shean di sofa.


Bukannya Lira tidak mau bergantian tempat tidur, namun Shean yang memang tidak ingin dan lebih memilih tidur diatas sofa yang sempit dan tidak nyaman. Tidur di sofa menurut Shean sangat tidak nyaman dan susah untuk bergerak karena tinggi badannya yang menjulang. Tapi dia rela tidur disana agar Lira merasa nyaman saat tidur dan tidak pegal pegal setelah bangun tidur.


Tuk


Lira menabrak dada seseorang ketika dia keluar dari kamar mandi dan tentu saja itu Shean yang baru pulang dari kantor, berniat untuk membersihkan diri.


Lira hanya mendongak sekilas dan tidak berniat untuk berkata apapun, begitu juga dengan Shean yang hanya menatapnya datar. Lira berjalan melewati Shean dan tidak peduli dengan raut sedih di wajah Shean.


Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam dan itu adalah waktu untuk makan malam. Lira keluar dari dalam kamar diikuti Shean dibelakang, namun hanya ada kecanggungan diantara mereka berdua.


Sesampainya dimeja makan sudah ada penghuni rumah yang lain menduduki kursi disana. Setelah menjawab sapaan dari yang ada disana Lira duduk disebelah Jeni dan bersebrangan dengan Diqi.


Makan malam berjalan khidmat dengan diselingi candaan candaan kecil, tapi orang yang sering membuat lelucon hanya diam saja menatap seseorang dikursi ujung.


Disela sela makannya Lira mendongak dan melirik orang didepannya yang sedang menatap kearah lain dan tidak pokus pada makanannya. Diqi mencuri pandang seseorang dikursi ujung yang ternyata adalah Dea.


"kenapa dengan anak ini?" tanya Lira dalam hati.


Lira mengikuti arah pandang Diqi yang ternyata adalah Dea. Lira tersenyum getir 'mendengar' apa yang sedang Diqi pikirkan.


"harus segera diselesaikan!" kata Lira sesekali melirik Diqi dan tidak sadar jika Shean selalu melihat gerak gerik Lira dari tadi.


☆☆☆


Setelah makan malam sekitar jam sembilanan, Lira sudah memejamkan matanya bersiap untuk tidur sebelum suara seseorang menyapa pendengarannya.


"ada apa?" tanya Lira.


"bisa kita bicara" kata Shean yang tengah berdiri disamping tempat tidur.


Lira berpikir sejenak dan memposisikan dirinya untuk duduk. Walaupun Lira tidak bisa 'mendengar' apa yang sedang Shean pikirkan, namun dari tebakan Lira, mungkin Shean akan membicarakan masalah waktu itu.


"tidak ada salahnya juga untuk mendengarkan penjelasannya" kata Lira dalam hati.


Shean duduk disamping tempat tidur, ada jarak diantara mereka. Dia melihat Lira dengan tatapan ragu dan terpaku untuk sesaat dengan ekspresi tenang yang Lira tunjukan.


"bicara lah" kata Lira.

__ADS_1


Shean tersadarkan dan sedang menata kata kata untuk dia katakan ke orang didepannya.


"masalah waktu itu..." Shean menjeda sejenak "aku hanya ingin meminta maaf" akhirnya hanya itu yang Shean katakan.


Lira menghela nafas singkat "aku sudah tidak mempermasalahkannya" kata Lira masing tetap tenang, namun sebenarnya dia ingin memberi tau Shean tentang pertemuannya dengan Selena namun dia mengurungkannya.


"kalau tidak ada lagi, aku mau tidur" kata Lira dan bersiap untuk berbaring.


"apa?" tanya Lira saat tangannya digenggam oleh Shean, jujur sebenarnya Lira sudah berdebar dari tadi ketika Shean memperlihatkan wajah menyesalnya. Diantara senang dan tidak tega, namun Lira masih sedikit kecewa.


"aku akan membatalkan perjanjian itu" kata Shean singkat dan tegas.


"jangan merasa bersalah dengan apa yang terjadi. aku tidak ingin jika kau terpaksa karena merasa tidak enak" kata Lira kemudian melepas genggaman Shean "She, aku tau kamu masih mencintai Selena, jadi tidak perlu dibatalkan" lanjutnya.


"kau bertemu Selena" entah itu pertanyaan atau bukan, tapi Lira hanya tersenyum tipis.


"lihat ini.." kata Shean dan menunjukan foto seorang pria yang terlihat mencium seorang wanita "dia mengirim ini padamu?" tanya Lira.


Lira tidak asing dengan foto itu, dia tau kalau Selena yang mengirimkannya. Dan itu adalah foto Shean dan Selena yang terlihat sedang berciuman.


"yah" jawab Lira.


"dia mengancammu waktu di kafe?"


"kak Key yang memberi tau"


"oh"


"ini diambil sudah lama (maksudnya foto itu), saat aku belum bertemu denganmu" kata Shean dan masih setia menatap Lira, walaupun Lira tidak menatapnya.


"mm" gumam Lira.


"aku sudah memutus hubungan dengan Selena" kata Shean setelah beberapa saat tidak ada pembicaraan.


Mendengar itu Lira mendongak dan menatap Shean tepat dimatanya. Ada sorot kebahagiaan dimata Lira, namun itu tidak bertahan lama, dia menundukan pandangannya.


"itu terserah kau" kata Lira dan kembali menatap lurus kedepan.


Shean yang sudah tidak tau lagi harus berkata apa, hanya bisa diam melihat ekspresi Lira. Sungguh dia lebih baik melihat Lira marah marah atau banyak bicara padanya.


Shean juga ingin Lira bisa tersenyum cerah saat bersamanya, seperti ketika Lira bersama saudara saudaranya yang Lain. Namun Shean hanya bisa berharap karena memang semua ini salahnya.

__ADS_1


"aku mau tidur" kata Lira dan menutup pembicaraannya dengan Shean.


☆☆☆


Sekitar jam tujuh pagi Shean sudah siap dengan pakaian kantornya, namun dia masih sibuk dengan panggilan diponsel pintarnya.


Lira keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lengkap, dia memakai T-shirt berwarna abu abu yang dimasukan kedalam rok pendek diatas lutut.


Shean yang baru saja selesai menerima telpon dibuat takjub karenanya. Lira terlihat berbeda dengan rok biru yang dikenakannya itu. Cantik dan manis itulah yang bisa Shean simpulkan.


"ada apa?" tanya Lira karena risih ditatap secara intens.


"tidak ada" jawab Shean "hanya kau terlihat manis" lanjut Shean dengan senyum tipis menghias bibirnya.


"apa yang kau bicarakan" Lira memalingkan wajahnya yang sudah sedikit memerah karena malu, dia berlalu meninggalkan Shean yang sedang menatapnya penuh arti.


"jika kata kataku tidak bisa kau percaya. maka aku akan membuktikannya Ra".


Tok tok tok


"Ra ada didalam?" tanya seseorang dibalik pintu.


"iya" jawab Lira dan bergegas membuka pintu "ada apa kak Key?" tanya Lira ketika melihat pelaku pengetukan.


"apa aku mengganggu?" tanya Key menatap orang dibelakang Lira yang adalah Shean.


"apa sih kak, gak ganggu kok. ada apa?" tanya Lira.


Key kembali menatap Lira "setelah sarapan aku ingin membicarakan sesuatu denganmu" kata Key.


"apa kak?" tanya Lira tidak sabar.


"nanti saja setelah sarapan, kalau sekarang masih ada pengganggu" kata Key tersenyum simpul ke Lira, namun melirik Shean dengan ekspresi tidak bersahabat.


"baiklah" kata Lira setuju.


"kalau begitu, aku turun duluan ra" Key langsung pergi dari hadapan Lira menuju lantai bawah.


"apa yang akan kak Key bicarakan, tapi aku tidak bisa menebaknya apa lagi 'mendengarnya', sebenarnya ada apa dengan 'pendengaranku' akhir akhir ini" kata Lira dalam hati.


Disaat Lira sedang bertanya tanya dalam hati.

__ADS_1


Shean menghela nafasnya dalam setelah Key pergi dari kamarnya. Shean paham dengan ekspresi yang ditunjukan Key padanya, itu sudah terjadi dari dua minggu yang lalu. Shean juga tau penyebab Key melihatnya seperti itu, dan kejadian yang membuatnya tidak bisa menemui Lira dirumah tuan Broto.


__ADS_2