
"I love you....."
DUARR
BRAK
Kue berukuran kecil yang dihias seindah mungkin yang sejak tadi di tangan Gia berakhir di lantai. Tubuhnya membeku tak bergeming ketika pintu kamar hotel terbuka dengan perlahan karena tidak ingin menimbulkan bunyi, karena maksudnya adalah kejutan.
Bukan hanya Gia saja yang kaget bagai disambar petir tapi kedua orang tua bahkan dua sosok yang sedang berpelukan didalam sana juga ikut kaget.
"Gia....." sentak Balin begitu kaget luar biasa hingga kedua tangan yang sejak tadi memeluk sosok dari arah belakang itu terlepas. Ia membulatkan mata tak percaya jika wanita yang sejak beberapa menit tadi ia peluk rupanya bukan Gia, tapi Rika.
"Kamu jahat....." Lirih Gia, menangis tak tertahankan lagi. Siap mengatakan itu ia berlari meninggalkan tempat itu dengan hati hancur. Walau kedua kakinya sangat sulit di gerakan tapi ia berusaha karena hatinya begitu hancur.
"Gia tunggu! Ini tidak seperti yang kamu lihat," ujar Balin dengan nada meninggi, tapi sayangnya Gia sama sekali tidak menggubris.
Papi Bahtiar memegang dadanya, dada yang ingin meledak dengan apa yang ia dapat. Peristiwa yang tak pernah ia duga tapi kini nyata dihadapannya. Dimana menantunya sedang berduaan, bahkan melakukan hal yang tak lazim kepada putri keduanya.
Ekspresi Gia yang begitu kaget tadi masih melekat dalam bayangannya. Dimana wanita cantik itu menangis dalam diam. Cucuran air mata itu membuat hatinya begitu sakit.
"Apa yang kalian lakukan?" ucap pria paruh baya itu berusaha tetap tenang, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa yang kamu lakukan Rika? bisa-bisanya kamu bermain dengan Kakak iparmu sendiri! Seperti tidak ada laki-laki lain saja!" Cecar Mami Maya dengan tatapan tajam. "Atau kamu yang sengaja merayu Rika?" imbuhnya seolah itu adalah kesalahan Balin.
"Mi...." Peringatan dari Papi.
"Ini semua tidak seperti yang kalian lihat. Pi aku harus mengejar Gia, nanti akan aku jelaskan," ujar Balin seraya memakai bajunya kembali.
Tanpa menunggu jawaban dari sang mertua Balin melangkah ingin keluar, tapi pandangannya tertuju di lantai. Dengan tangan bergetar ia membungkuk meraih kartu yang tertulis di sana. ANNIVERSARY KE 1 TH.
Dengan mata terpejam Balin meremas sebuah kartu tersebut. Lalu berlari sekencang mungkin untuk mengejar Gia yang entah sudah berada dimana.
Sedangkan kedua mertuanya dan juga Rika saling diam.
"Rapikan penampilanmu!" Titah Papi tanpa memandang ke arah Rika sejak tadi.
Rika bergegas masuk ke kamar mandi seraya membawa pakaiannya.
***
Di rumah
__ADS_1
Didalam kamarnya Gia terduduk terdiam di atas ranjang. Mengusap air mata yang tak kunjung berhenti.
Awalnya ia berencana mempersembahkan surprise kepada suaminya tapi ternyata suaminya dan Rika lah yang memberi surprise.
Surprise yang tak pernah ia lupakan seumur hidup. Pengkhianatan itu kembali ia rasakan setelah sekian lama ia kubur.
"Ternyata lelaki itu tidak ada bedanya. Aku sangat bodoh selama ini. Aku mulai membuka hati tapi apa yang aku dapatkan sekarang? sakit, kecewa dan pengkhianatan!" Gumam Gia dengan hati perih.
Angan-angan yang sudah ia nantikan untuk mengatakan sesuatu dan membuka hati tulus untuk pria yang sudah hidup selama 1 tahun dengannya kini lenyap untuk beberapa menit yang lalu.
Hiks.... hiks....
Tangisan pilu itu tak dapat ia bendung, biarlah ia menangis sepuasnya dulu karena ke depannya, hal ini tak akan pernah terjadi lagi.
KLEK
Pintu kamar terbuka dengan kasar hingga membuat Gia mendongak ke arah pintu, tapi secepat mungkin ia mengalihkan tatapan sendu itu.
Balin berdiri sesaat di ambang pintu, mendapati keadaan Gia yang cukup membuat hatinya sakit. Dimana wanita itu menagis dengan diam sembari memegang dadanya.
"Sayang....." Lirih Balin dengan menggelengkan kepala. Spontan saja ia berjalan langsung berlutut di kedua kaki Gia.
Gia sempat kaget dengan apa yang dilakukan Balin tapi itu hanya sesaat karena aluka yang ia berikan tak sepadan.
"Jangan sentuh aku. Pergi!" Teriak Gia seraya beringsut ingin lepas dari pegangan Balin kepada kedua lututnya.
"Kamu salah paham. Itu tak seperti yang kamu lihat," Balin berusaha menyakinkan Gia tapi Gia seakan menutup telinga.
"Pergi! Aku tidak butuh penjelasan apapun karena semuanya sudah jelas. Kamu mencintai Rika jadi____"
"Kamu salah paham!" Bentak Balin tanpa sadar karena ucapan Gia memperngaruhi amarahnya.
"Jangan berani membentakku!" Teriak Gia tak mau kalah seraya bangkit.
"Dasar pengkhianat! Kamu jahat sungguh jahat. Aku menyesal mengenal dirimu, aku menyesal.....hiks.... hiks...." Tangisan pilu itu kembali mengema. Gia merosot ke lantai dengan tangan membekap dadanya yang sangat terasa sesak untuk sekedar mengambil nafas.
Hati? jangan ditanyakan lagi bagimana kabar hatinya sekarang. Kejadian beberapa menit yang lalu menghancurkan segalanya. Kepercayaan dan sosok pria kini tak ada lagi dalam kamus Gia. Semuanya sirna akibat kejadian ini, kejadian yang kembali ia rasakan.
"Kamu salah paham," lirih Balin ikut merosot ke lantai. Ia tak dapat membendung air matanya lagi. Sungguh melihat kerapuhan wanita yang ia cintai hatinya sangat sakit.
Gia tak percaya dengan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut pria itu. Ia tidak ingin terkecoh kembali.
__ADS_1
"Aku bilang jangan sentuh aku!" Sentak Gia seraya menepis tangan itu yang berusaha mengenggam tangannya.
"Dasar pengkhianat!" Sentaknya kembali dengan tatapan murka.
"Dengar aku baik-baik. Aku____"
"Cukup! Apapun yang kamu katakan itu tak mengubah berapa sakitnya hatiku ini Balin. Dasar pengkhianat! Pergi dari hadapanki, pergi!" Teriak Gia seraya menutup kedua telinganya dengan tangan, begitu juga air mata itu tak berhenti keluar. Seakan mengawali betapa sakitnya dia.
Balin sesak karena Gia tak memberi kesempatan untuknya menjelaskan, bahkan wanita itu selalu memotong ucapannya.
Keduanya terdiam dengan berlinang air mata. Balin menatap wajah itu sedangkan yang ditatap hanya menunduk.
Hmm
Deheman di ambang pintu mengubah suasana yang hening, hanya terdengar halus sisa tangisan dari Gia.
Gia tak peduli karena ini adalah terakhir kali ia mengeluarkan air mata. Biarlah semua orang menganggapnya lemah dan tersakiti karena itulah kenyataannya.
"Gia dengarkan penjelasan suamimu baru menyimpulkan," papar Papi.
"Tidak perlu untuk dijelaskan karena memang tidak ada yang perlu dijelaskan," sahut Gia dengan bibir mencabik.
"Jangan keras kepala," sela Mami Maya hingga berhasil membuat Gia mendongkak, lalu bangkit dari duduknya.
"Tahu apa anda? buah jatuh tidak jauh dari pohonnya! Sindir Gia dengan tawa halus seraya melirik Rika sekilas.
"Jangan terlalu percaya diri Gia. Jangan merasa wanita paling sempurna," tutur Rika dengan sengit.
"Apa kau sudah puas? apa kau sudah puas menjadi perusak rumah tangga orang? Ibu dan anak tidak ada bedanya," sindir Gia dengan setenang mungkin.
"Puas katamu? tentu saja tidak! Bukan aku yang merayu tapi tanyakan langsung kepada suamimu itu!" Pungkas Rika dengan wajah masam seraya melirik Balin sekilas, dan tatapan Balin menghujam pada dirinya.
Gia terpancing dengan apa yang dikatakan Rika. Kini kebencian kepada Balin semakin besar.
"Jangan percaya diri jika pria yang menikahimu itu benar-benar mencintaimu tapi dia hanya mencintai salah satu organ dalam tubuhmu! Apa kamu lupa dengan transplantasi jantung?"
DEG
Bersambung....
🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi