Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Papa Marah


__ADS_3

Disaat semua orang sibuk mengobrol dan berbincang masalah bisnis, Shean ditarik menjauh dari aula pertemuan oleh seseorang yang merupakan kakak iparnya, Dion.


Shean diseret ketempat yang lumayan sepi dan jauh dari aula, bingung dengan sikap kakak iparnya Shean pun bertanya


"kenapa?" tanya nya datar.


Sorot mata Dion menunjukan amarah yang menggebu gebu, matanya memerah menahan marah. Untuk sesaat Dion hanya melihat Shean dengan tatapan tajamnya, kedua tangannya mengepal dan terlihat buku buku jari yang mengencang.


Shean menyadari itu namun hanya bersikap biasa saja, menatap tanpa ekspresi dan minat untuk bertanya lagi.


"sudah kubilang UNTUK TIDAK MENYAKITI ADIKKU" Dion berkata penuh penekanan.


"..."


"ancamanku bukan sekedar isapan jempol semata" lanjut Dion.


"..."


"jangan diam saja! katakan apa maksudnya ini" Dion melempar sebuah foto kedada Shean, dan langsung ditangkap olehnya.


Foto Shean dan Selena.


Shean bungkam menatap foto itu tanpa ekspresi.


"Baiklah jika kau tidak mau menjawab. Dan saya tidak peduli, jangan sampai Lira menangis. Kau akan tau akibatnya" Dion menabrak bahu Shean dengan sengaja dan pergi meninggalkannya.


Shean menghela nafas dalam mengingat kejadian semalam saat tiba tiba kakak iparnya menyeretnya dengan amarah. Dia memijat keningnya yang sedikit pusing, berkas berkas didepannya tidak bisa membuat dia melupakan sejenak masalahnya.


Hubungannya dengan Lira sudah mulai ada perkembangan, namun masalah lain masih belum selesai. Apalagi harus menghadapi Dion yang dari awal tidak menyukainya, mempersulit dia untuk membangun hubungan baik dengan kakak iparnya itu.


Shean terus memijat keningnya sampai mendengar suara pintu dibanting dengan keras, situasi ini sepertinya pernah dia alami.


Disana, diambang pintu terlihat seorang pria dengan tinggi yang hampir sama dengan Shean tengah berdiri tegap, meremas sebuah berkas ditangan kanannya. Bukan Key atau saudaranya yang lain, melainkan pria paruh baya yang memiliki wajah yang mirip dengan Shean.


Papa.


Shean berdiri mendapati ayahnya sudah berdiri didepannya, dengan tatapan dingin yang kentara. Tatapan itu sama dengannya ketika marah, Shean sedikit bergeming.


"Pa-"


PLAK


Suara tamparan yang cukup nyaring membuat orang yang berada diluar ruangan menjadi khawatir dan masuk secara tiba tiba.


"Papa" itu Key.

__ADS_1


Tuan Pratama tidak menjawab panggilan Key, dia bersiap menampar Shean untuk kedua kalinya, namun tangannya di cekal oleh Key.


"lepas Key" titah tuan Pratama.


"tidak pa, kenapa papa menampar Shean?"


"kau tidak tau kelakuan adikmu, berani beraninya dia mempermainkan pernikahan dan bermain dengan wanita lain setelah menikah" tuan Pratama emosi, suaranya cukup keras. untungnya pintu ruangan dikunci Key setelah dia masuk.


Shean diam membisu, Key terpaku ditempat. Ayahnya tau tentang masalah itu, dan bagaimana bisa tau?


"bagaimana papa tau?" tanya Key.


"papa tau dari pengacara- tunggu, kau sudah tau Key?" tuan Pratama menebak.


Key diam, bingung harus menjawab apa. Begitu pun Shean hanya bisa menatap ayah nya yang sedang marah, menerima semua kesalahan.


☆☆☆


"papa tidak habis pikir..." setelah tuan Pratama marah besar, dan setelah penjelasan Key. Dia hanya bisa memijit keningnya pusing. Kecewa? jelas, dia tidak pernah menyangka anak kandungnya sendiri akan melakukan itu.


Bahkan walaupun saudara Shean yang lain, ada beberapa yang dijodohkan. Tidak satu pun dari mereka punya pemikiran untuk melakukan sesuatu seperti apa yang Shean lakukan.


Marah, kecewa, bercampur malu. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jika besan sekaligus sahabatnya itu tau, mau ditaruh dimana mukanya. Dan bagaimana jika setelah keluarga Lira tau kebenarannya, bisa saja masalah yang lebih besar akan muncul.


Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Shean, sedangkan yang menjelaskan semuanya adalah Key. Bukan Shean tidak mau menjelaskan, namun jika dipikir lagi, sesuatu yang ayahnya bawa sudah menjelaskan segalanya.


Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan didalam rungan itu. Tidak ada yang membuka suara, mereka sedang bergelut dengan pemikiran masing masing.


Bukannya tuan Pratama memaafkan Shean begitu saja, bahkan Key saja belum bisa memaafkan tindakan Shean. Apalagi untuk tuan Pratama yang baru saja mengetahuinya tadi pagi, ketika dia tidak sengaja melihat salinan surat 'perjanjian' dikediaman pengacara pribadinya.


Setelah tua Pratama memarahi pengacaranya dengan membabi buta karena dia benar benar marah, untung tidak sampai memukul. Tuan Pratama langsung tancap gas menuju kantor Shean dan terjadilah tamparan keras itu.


Huh


Tuan Pratama menghembuskan nafas kasar, melihat kedua anaknya secara bergantian. Sedangkan Key hanya menunduk, dan Shean hanya menatap tanpa ekspresi. Bahkan dengan situasi seperti ini, ekspresinya tidak berubah secara signipikan. Namun ketika bersama Lira, Shean bahkan bisa tersenyum hangat.


"papa kecewa Shean..." jeda tuan Pratama "tapi kamu tetap anak papa. Masalah ini papa harap tidak diketahui orang lain, apa hubunganmu dengan Lira baik baik saja?"


"ya pa" jawab Shean singkat.


"bagus, kau tau kenapa papa menjodohkanmu dengannya?" nada bicaranya mulai menurun.


"..."


"Lira gadis yang baik, berpendidikan, berasal dari keluarga yang baik baik dan sekaligus anak sahabat papa. Perjodohan mu dan Lira, sebenarnya sudah kami rencanakan ketika kamu masih kuliah. Namun waktu itu kamu sudah punya pacar, papa tidak mau memaksakan perasaanmu..." jeda sejenak "tapi pacarmu berkhianat dan membuatmu sampai terpuruk, bahkan lebih dari terpuruk. Makanya setelah keadaanmu sudah membaik, papa kembali ingin menjodohkanmu dan Lira. Dia gadis yang baik, dan selalu peduli terhadap orang lain. Bahkan dia juga yang membantu menyelesaikan masalah saudara saudaramu waktu itu bukan?" tuan Pratama berkata panjang lebar.

__ADS_1


"papa tau?"


"HUH, ya. papa tidak menyangka akan ada masalah seperti itu di keluarga papa, dan sekarang ditambah dengan kamu Shean" tuan Pratama hanya bisa menghela nafas pasrah.


"Maaf pa"


☆☆☆


"APA?" Lira panik "bagaimana bisa papamu tau?" tanya nya.


"dia tidak sengaja melihat salinannya dipengacaraku" jawab Shean.


"kau bilang, itu disimpan ditempat tersembunyi. tapi bagaimana- Ah..." Lira prustasi.


Namun sebelum kecemasan Lira mulai memuncak, tiba tiba Shean menggenggam kedua tangannya. Sebenarnya Shean dan Lira sudah duduk ditepi ranjang.


Sepuluh menit yang lalu, Shean baru saja pulang dari kantor dan dia memutuskan untuk menceritakan semuanya ke Lira. Shean tidak ingin menyembunyikan terlalu banyak kebenaran dari istrinya.


"bagaimana aku tidak khawatir?" suara Lira mulai lirih "papamu mungkin bisa memakluminya karena kamu anaknya. tapi bagaimana dengan Dady dan terlebih kak Dion, yang selalu tidak menyukaimu" Lira memeluk Shean erat, Shean hanya mengelus punggungnya lembut.


"aku tidak ingin ada masalah dipernikahan kita" Lira mulai terisak.


"aku tau, dan tidak akan terjadi apa apa" kata Shean.


Lira mengubur wajahnya dipundak Shean, air mata terus mengalir. Entah kenapa perasaan Lira jadi tidak terkontrol, atau mungkin karena dia sedang kedatangan tamu bulanan. Dia lebih sensitif, karena biasanya dia tidak se Melow itu.


Shean terus memeluk Lira dan mengelus punggung dan rambutnya sesekali, terus seperti itu sampai Lira melepaskan pelukannya.


"She.." Lira menatap Shean serius, terlihat jejak air mata dipipi putihnya.


"ya"


"apa kau mencintaiku?" tanya Lira.


"ya?"


"apa kau mencintaiku atau kau hanya berperilaku baik padaku karena merasa bersalah?"


"..."


Shean melihat kedalam mata Lira, ada kecemasan yang tidak terlihat didalamnya.


"kalau saja aku bisa membaca isi hatinya" batin Lira.


"aku merasa bersalah"

__ADS_1


__ADS_2