Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 70. Kasi Pelajaran


__ADS_3

"Sayang....." Balin menarik tubuh Gia, membawa kedalam pelukannya. Mengusap punggungnya yang gemetar akibat menangis. "Papi akan sehat kembali andai kamu kembali," bisik Balin ikut terharu karena selama ini dialah menjadi teman curahan hati mertuanya itu.


"Bawak aku untuk bertemu Papi hiks.... hiks...."


Mata Balin membulat mendengar permintaan Gia yang tak terduga. Seketika senyuman bahagia melengkung di bibirnya.


"Tentu saja," sahutnya dengan senang hati.


Keduanya melepaskan pelukan mereka. Tatapan keduanya begitu intens. Dua Ibu jari Balin menghapus jejak air mata Gia.


"Cukup, jangan menangis lagi. Lihat mata mu sampai bengkak." Balin merasa kasian, hingga membuatnya kembali menarik tubuh Gia.


"Lepaskan aku, tidak baik begini!" Lirih Gia dengan posisi mereka saat ini.


"Apanya tidak baik. Bukankah ini momen romantis kebanyakan pasangan suami istri?" sahut Balin dengan kocak, ia masih belum paham mencerna kalimat Gia.


"Status kita sudah beda!"


Balin membeku, tiba-tiba pikiran negatifnya penuh di benaknya. "Jangan katakan kamu sudah menikah lagi?" ujar Balin dengan suara menunggu, bahkan spontan melepaskan dekapannya.


Gia sedikit kaget dengan nada suara tersebut. Dan ide licik ada di benaknya.


"Iya kamu benar," aku Gia dengan bibir gemetar untuk menyakinkan Balin.


"Bohong! Jangan bercanda!!!" Balin mengguncang kedua bahu Gia dengan raut wajah murka.


"Apakah aku kelihatan sedang berbohong?"


DEG


Jantung itu ingin meledak mendengar pengakuan yang tak ingin ia dengar. Darah seakan berhenti mengalir, tenggorokannya seakan tercekat oleh kalimat singkat tersebut.


Tubuh Balin merosot ke bawah. Matanya memerah dengan pandangan kosong. Ia mengusap wajahnya berkali-kali.


"Semudah itu kamu mengakhiri!" Lirihnya seperti sebuah isak dengan tangan menutup matanya.


Balin tersenyum getir, menertawakan dirinya sendiri atas kebodohannya selama ini yang masih mengharapkan. Bahkan status mereka masih sah sebagai pasangan suami istri, tapi dengan mudahnya Gia menikah lagi.


Gia tertegun melihat betapa kecewanya Balin atas kebohongannya.


"Asal kamu tahu bahwa aku tidak pernah mendatangani akte perceraian itu, bahkan akte itu aku sobek. Itu karena aku tidak ingin terjadinya perpisahan ini. Hari demi hari waktuku hanya ingin mencari keberadaan mu tapi keberuntungan tak berpihak padaku. Dan hari yang ditunggu-tunggu terjawab sudah, hari ini kita bertemu tanpa di duga. Pertemuan yang tak pernah aku inginkan, lebih baik kita tidak bertemu dari pada harus menerima kenyataan ini," ungkap Balin panjang lebar, mencurahkan isi hatinya.


Gia tersentak kaget dengan pengakuan Balin bahwa tidak ada terjadi perceraian itu. Dalam lubuk hati ada rasa bahagia.


"Maaf karena sudah bertindak tidak menyenangkan untukmu," ujarnya berusaha kuat. Seketika bayangan dimana Gia milik pria lain seutuhnya. Tentu saja rasanya sangat sakit.

__ADS_1


Balin berusaha bangkit, ia tidak ingin berlama-lama di rumah itu karena tidak ingin menghancurkan rumah tangga baru wanita yang sangat ia cintai. Demi kebahagiaan Gia ia rela sakit hati.


"Pulanglah, temui Papi. Aku tidak bisa lagi menjaga beliau dan juga perusahaan. Alangkah baiknya itu kamu dan suami mu yang handle."


Gia tertegun, ada rasa bersalah karena sudah menyusun rencana yang membuat pria ini benar-benar kecewa. Tapi ia tahan dulu karena belum puas.


"Demi hidup dengannya kamu rela tinggal di sini, jauh dikatakan mewah. Sungguh aku iri dengannya karena berhasil mengubah dirimu dengan kehidupan sederhana," ujar Balin dengan senyuman getir. Bahkan pelupuk mata itu tak sanggup menampung air matanya.


Ia kembali tersenyum simpul, mengusap matanya tanpa ingin menatap Gia yang sejak awal menatapnya dengan penuh haru.


"Gia," gumam Balin dengan bibir bergetar. Ia menatap Gia dengan senyuman terpaksa, padahal hatinya terluka. Tangannya terulur, mengusap pucuk kepala Gia.


Ia pun meraih baju kemeja, lalu segera memakaikan secara asal-asalan.


"Tutup dan kunci pintunya," ujar Balin sembari berjalan keluar kamar.


Mata Gia membulat melihat apa yang dilakukan Balin. Tidak ingin Balin pergi ia pun segera bangkit, menyusul.


"Mau kemana? ini mau hujan," lirih Gia hingga membuat langkah Balin terhenti tepat di ambang pintu.


"Tidak masalah. Tidak baik bertamu di saat suami tidak di rumah!" Sahut Balin dengan lidah keluh mengucapkan kalimat tersebut. Ia pun membuka pintu, benar saja hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Tapi tak menghentikan langkah Balin untuk pergi dari rumah tersebut.


Dentuman daun pintu membuat Gia tersadar bahwa Balin sudah pergi. Ia pun segera membuka pintu dan mendapati sosok tersebut berlutut di derasnya hujan tepat menghadap pagar rumah.


"Cobaan apa ini Tuhan? Engkau mengabulkan doa-doa ku selama ini tapi semuanya sudah berubah." Teriak Balin sembari meninju punggung tangannya di rerumputan. Ia menjerit histeris, mencurahkan kehancurannya.


"Aku sangat mencintainya..... aku sangat mencintaimu Gia!!!"


"Aku juga mencintaimu Balin. Sangat mencintaimu...."


Pelukan seseorang dari belakang, dan bisikan jelas di telinganya membuat tubuh Balin menegang.


"Aku mencintaimu suamiku!" Gia semakin mengeratkan pelukannya.


"Gia!" Sentak nya tak percaya.


Gia tak beranjak dari pelukan itu. Hal itu menjadi Balin bahagia campur takut karena suatu hal. Dengan senang hati ia membiarkan Gia memeluknya karena itulah yang diinginkannya.


"Gendong," bisik Gia karena ia sudah mulai kedinginan di guyur hujan. "Gedong, aku sudah kedinginan," bisiknya kembali karena tidak ada pergerakan dari Balin.


"Kamu dingin?"


"Iya!" Dan Balin dapat merasakan tubuh Gia gemetar. Tanpa berpikir panjang dan memikirkan hal lain lagi ia langsung mengembangkan Gia layaknya anak kecil, dengan posisi gendong belakang.


Masuk kedalam rumah. "Kunci pintunya," pinta Gia.

__ADS_1


"Tapi!"


"Kunci saja!"


Balin membawa Gia menuju kamar mandi. Ia belum tahu seluk beluk dalam rumah tersebut. Kini ia menurunkan Gia tepat di depan pintu kamar mandi dengan urusan kecil.


Balin menelan ludah mendapati lekukan tubuh Gia yang sangat terlihat jelas karena seluruh pakaian itu basah kuyup.


Keduanya terdiam dalam tatapan.


"Aku minta maaf karena sudah membohongimu. Aku, aku hmm aku hanya membohongimu tentang pernikahan itu!" Ucap Gia dengan gugup.


"Apa?" tentu saja Balin tersentak kaget.


"Iya, aku hanya bermaksud ingin memberi pelajaran untukmu!"


"Gia! Tidak lucu! Apa kamu tahu jantung ku ingin meledak?"


"Maaf....."


Balin mendekatkan wajahnya hingga tidak ada jarak diantara mereka. "Sekarang giliran ku untuk memberi pelajaran untuk mu!"


Cup


Dengan rakus bibir pucat akibat kedinginan itu disambar oleh Balin. Menye sapp hingga tertarik. Gia tidak tinggal diam, ia melakukan hal yang sama.


Mereka kembali terbuai dalam lautan kenikmatan. Kenikmatan cinta yang sudah lama terpendam. Satu-persatu mereka saling menanggalkan pakaian, hingga kini dengan keadaan polos tak tertutupi.


Rasa amat dingin semakin menjebak perasaan mereka untuk lebih dalam lagi. Hingga Balin membawa Gia kembali ke dalam kamar.


Uumph....


Lenguhan manis itu membuat puncak gai rahh Balin semakin besar. Sudah tidak sabar untuk memasuki milikk Gia.


"Sayang....." Bisik Balin seperti minta persetujuan.


Gia mengangguk pasrah, padahal rasa amat takut ada dalam benak hatinya. Tapi karena sudah tersulut api asmara rasa takut tersebut lebih kecil.


Balin langsung mengambil posisi nyaman.


"Sakit......!" Pekik Gia.


Bersambung......


🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2