
Keesokan harinya
"Ini saatnya kalian angkat kaki!" Suara tegas itu bagai petir menghantam bagi dia wanita beda usia tersebut.
Suara lantang yang baru pertama dilontarkan pria baik hati tersebut tentu saja membuat mereka tersentak kaget.
"Kemas semua apa yang kalian miliki selama ini!" Ujarnya tanpa ingin memberi kesempatan untuk mereka berbicara. Bahkan pria tersebut beranjak dari tempat duduknya, ingin meninggalkan istri serta anak sambungnya.
"Jangan bercanda Papi!" Pekik Mami Maya dengan raut wajah marah.
"Apa aku kelihatan sedang bercanda?"
"Papi memang tidak adil! Sungguh tidak adil!! Gia dan Gia!" Pekik Rika angkat bicara. Bahkan nada bicaranya itu tidak pantas untuk orang tua.
"Kalian sudah kelewatan batas! Sudah aku katakan jangan pernah beritahu siapapun tentang ini! Tapi dengan gamblangnya kamu memberitahukan putri kesayanganmu itu. Aku sudah sangat mempercayaimu, makanya bersedia menceritakan semuanya tapi____ sudahlah segera tinggalkan rumah ini!"
"Asal Papi tahu Mami tidak pernah menceritakan itu kepada Rika. Mami bisa bersumpah Pi," jelas Mami Maya sembari menarik lengan itu.
"Aku sadar, kamu bisa melakukan apapun. Apa kamu belum puas selama ini?" sekarang tidak ada lagi kelembutan, bahkan kata-kata yang dilontarkan begitu dingin.
"Jangan salahkan Mami. Aku sendiri yang mendengarkan ketika pada waktu itu Papi menceritakan masalah itu kepada Mami. Kebetulan pada waktu itu aku ingin ke kamar tapi tak sengaja mendengar," ungkap Rika dengan wajah muram karena ingin diusir dari rumah mewah tersebut.
Mendengar penuturan Rika membuat Papi kembali duduk. Tapi ia menepis lengan Mami Maya yang sejak tadi di genggam oleh wanita itu.
Tap tap
Derap sepatu membuat ketiganya menoleh ke arah suara. Ya itu adalah Balin.
__ADS_1
Balin berhenti ketika mendapati tiga orang yang sedang tidak baik-baik saja. Mereka duduk dalam diam, seperti sedang memikirkan banyak hal.
"Nak kamu mau kemana? bukankah hari ini libur?" ujar Papi dengan suara parau. Wajah itu begitu murung, sepertinya semalaman pria paruh baya tersebut terjaga sepanjang malam.
Balin ikut duduk tepat di sebelah mertuanya. "Aku ingin mencari Gia, Pi. "Ya Balin masih berusaha mencari sang istri.
" Mau mencari dimana Nak? Gia selama ini tak memiliki teman jadi sulit untuk mengetahui keberadaannya. Belum lagi ia tak membawa ponsel," lirih Papi dengan tatapan kosong.
Balin menghela nafas kasar. Pandangannya menghunus kepada Rika yang sedang menatapnya.
"Ini semua gara-gara ulah dia!" Ujar Balin kepada Rika. "Apa maksud perbuatan mu itu?" Balin benar-benar murka dan kecewa kepada Adik ipar tak tahu diri tersebut.
Rika menatap sinis ketika Balin menyalahkan dirinya. Bukankah dia sendiri yang tak tahu membedakan mana istri dan orang lain.
Rika mengumpat, sangat terlihat jelas dari sorot matanya mendengar tuduhan sang Kakak ipar yang menyalahkan dirinya.
"Kamu menyalahkan aku? begitu? apa aku yang meminta kamu memelukku?" ucap Rika sembari terkekeh, seakan menertawakan kebodohan pria tampan tapi dingin itu.
Balin memejamkan mata sesaat. Seketika bayangan wajah Gia pada saat mereka melakukan videocall. Dimana wanita itu menyuruh dirinya menemuinya di hotel karena ada sesuatu. Makanya ketika tiba di bandara ia langsung bergegas menuju hotel milik keluarga.
"Pada saat aku masih di kota x, Gia menghubungiku. Dan ketika tiba di sini disuruh menemuinya di hotel. Aku pun mengikuti perintahnya. Tiba di hotel aku masuk begitu saja, dan terdengar dari kamar bahwa Gia sedang berada di kamar mandi. Itulah yang aku pikir," cerita Balin dengan tatapan kosong ke depan.
Ia kembali menarik nafas kasar.
"Tidak ingin menganggu ritual mandinya, aku berjalan ke balkon sembari menunggu Gia. Hanya butuh waktu beberapa menit, pintu kamar mandi terdengar dibuka. Sebab itu aku kembali masuk dan langsung berdehem. Kulihat sosok Gia tengah berdiri membelakangi ku mengenakan bathrobe. Tanpa pikir panjang aku melepaskan baju ku dan segera memeluknya," pungkasnya kembali. Balin mendongak ke atas, memandangi langit-langit ruang keluarga. Ia tersenyum getir ketika mengingat pada kalimat I love you.... yang telah membawa kehancuran dalam hubungan mereka.
Papi mengusap wajahnya berkali-kali. Ia sudah yakin dari awal bahwa ini adalah kesalahpahaman.
__ADS_1
"Aku pikir Rika adalah Gia. Bagaimana bisa aku membedakannya karena bathrobe itu milik Gia serta handuk yang menjadi pembungkus rambutnya," sambungnya kembali dengan dada sesak.
Dari postur tubuh dan ketinggian memang sekilas mirip. Gia dan Rika memiliki ketinggian badan sama, tapi warna kulit mereka berbeda. Gia memiliki kulit lebih putih dibandingkan dengan Rika.
Jika saja rambut itu tidak terbungkus handuk, maka Balin dengan cepat membedakan mereka karena dari segi rambut mereka memiliki perbedaan lebih tinggi.
Papi melirik Rika yang sejak tadi menunduk. "Apa yang kamu lakukan di kamar hotel? apa rumah ini tidak cukup menjadi tempat istirahat mu?" pertanyaan itu membuat Rika mendongak.
"Pi jangan salahkan Rika. Dia mana tahu jika mereka akan berada di hotel. Bukankah selama ini mereka_____"
"Bela saja putrimu itu! Jelas-jelas dia sudah salah!" Papi langsung mencela.
Mami Maya maupun Rika tak bergeming. Pria yang selama ini diam sekarang menunjukan taring-taringnya. Nasib mereka hanya seutas kuku saja. Siap-siap menjadi gelandangan di luar sana akibat kecerobohan yang tak terduga.
"Pulang dari kantor Gia berseri-seri. Guratan bahagia sangat terpancar. Sebelum masuk ke kamar ia memberitahu kepada kami bahwa malam ini ada kejutan, kejutan untuk menyambut kedatangan mu. Karena penasaran Papi bertanya kepadanya, dan ia sedikit membuka kartu kejutan itu bahwa malam ini adalah anniversary pernikahan kalian yang berusia 1 tahun. Papi benar-benar melupakan momen tersebut tetapi tanpa kita duga Gia sangat mengingatnya. Papi berpikir ingin merayakan dengan mengundang beberapa tamu tapi Gia menolak karena ini adalah momen keluarga saja. Dan pada akhirnya semuanya kacau seperti ini, bahkan kita tidak tahu dimana keberadaan Gia. Papi sudah menghubungi orang suruhan tapi hasilnya nihil," ungkap Papi dengan wajah tanpa ekspresi.
"Jadi dia mengingat momen itu," gumam Balin sembari mengusap wajahnya dengan mata memerah. Ia tak pernah menyangka bahwa Gia mengingatnya, secara hubungan mereka tidaklah baik-baik saja selama ini.
"Bagaimana bisa dia hidup diluar sana? tidak memiliki apa pun," lirih Papi dengan mata berkaca-kaca, mengingat Gia tidak pernah mengalami kesulitan dari segi ekonomi.
Sungguh pria paruh baya tersebut menyesal karena membiarkan putrinya pergi meninggalkan rumah, karena pada dasarnya bahwa ini semua adalah ancaman dari Gia tapi nyatanya wanita itu nekat. Jika ada sesuatu yang terjadi makan sampai akhir hayat pun ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Tolong cari Gia, Nak. Papi tidak akan pernah bisa memaafkan diri Papi sendiri jika sesuatu yang tak kita kehendaki menimpa dirinya," mohon Papi sembari meneteskan air mata.
Balin mengangguk, tidak sanggup balik menatap sang mertua. Hatinya ikut terenyuh melihat raut kesedihan tersebut karena ia sendiri juga sangat takut sesuatu menimpa Gia. Wanita yang kini menempati hatinya.
Bersambung....
__ADS_1
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi