
Selama tiga hari Balin keluar kota, meninjau cabang perusahaan yang sedang melakukan gedung perhotelan. Karena Gia banyak pekerjaan di kantor pusat hingga membuatnya terpaksa tinggal, padahal ia ingin sekali ikut serta.
Gia berangkat ke kantor sendirian selama tiga hari ini. Tiba di kantor ia merongoh tas jinjingnya untuk mengecek ponsel. Ternyata di dalam ponsel sudah ada tiga panggilan tak terjawab dari sang suami.
Senyuman mengembang di bibirnya melihat panggilan itu. Hatinya sangat bahagia, bahkan malam ini ia akan membuat surprise untuk menyambut kedatangan Balin.
Drrtt
Ponsel itu kembali bergetar. Panggilan Videocall, yang pastinya dari sang suami. Dengan duduk di kursi kebesarannya Gia tersenyum manis.
"Halo....." Sapa Gia.
"Hmm kok lambat sekali menerima telepon?" nada manja di seberang sana membuat Gia geli.
"Maaf aku baru saja tiba di kantor," terang Gia.
"Apa kamu sudah sarapan? hmm kamu sangat cantik pagi ini," puji Balin sembari tersenyum.
"Hmm jadi selama ini aku tak cantik?" bibir itu mengerucut.
"Aslinya lebih cantik. Hmm mana morning kiss nya?" godanya menahan tawa.
"Ngak mau. Habis kamu belum mandi," Gia mencebikkan bibirnya seraya membuang muka.
"Hmm percayalah suamimu ini wangi kok, walaupun tanpa mandi," godanya dengan senyuman.
"Itu menurut kamu. Sana mandi!" Pinta Gia.
"Oke, oke tapi jangan matiin dulu ya? temani aku mandi," Balin kembali menggoda disertai kedipan mata.
Mulut Gia menganga tak percaya dengan godaan itu. Ia langsung membuang muka, menyembunyikan rona merah di wajah itu. Ia paham itu hanya godaan semata tapi jujur saja membuat jantungnya berdegup.
Di seberang sana pria itu menunggu jawaban dari dirinya, menatap tanpa mengalihkan tatapannya kepada Gia.
"Sayang....." Panggil Balin dengan lembut bahkan dengan panggilan baru yang berhasil membuat jantung Gia berhenti berdetak untuk beberapa detik.
Gia menelan ludah, panggilan itu membuatnya bungkam.
"Sayang..... bagaimana? kamu mau kan temani aku mandi?" suara lembut itu menyadarkan Gia dari keterkejutannya.
"A-aku ada meeting sekarang. Nanti hubungi setelah selesai." Gia sengaja menghindar, padahal meeting tinggal beberapa menit lagi akan dimulai.
Balin kelihatan kecewa dari raut wajah itu, tapi dia akan tetap bersabar hingga mereka bertemu nanti malam.
"Baiklah. Nanti aku akan hubungi lagi. Tetap semangat sayang...."
Gia kelabakan mendengar panggilan itu kembali tapi jujur saja dalam hati ia sangat menyukainya.
"Jangan lewatkan makan siang, oke?"
Gia mengangguk dengan perasaan haru, perhatian itu membuatnya semakin tidak sabar untuk bertemu.
Usai mengakhiri sambungan videocall. Gia tersenyum seraya memandangi ponsel yang ia letakan di atas meja dihadapannya. Percakapan ia dan Balin barusan tadi membuatnya senyam-senyum sendiri.
Tidak lama ia menggelengkan kepala, bahwa ia sudah mulai tidak normal dengan apa yang menjadi lamunannya.
Tok tok
Ketukan pintu ruangan membuyarkan lamunannya.
"Masuk!"
KLEK
"Selamat pagi Bu, saatnya kita ke ruang meeting," ucap wanita tersebut, ia adalah asisten Gia.
__ADS_1
Gia mengangguk, lalu membawa beberapa map yang berisi berkas-berkas penting yang menjadi bahan pembahasan meeting dengan para kepala pimpinan bidang masing-masing dalam perusahaan tersebut.
Mereka berjalan menuju ruang meeting yang sudah di tempati noleh beberapa pimpinan.
***
Di kota x
Usai membersihkan diri Balin segera menghabiskan sarapan yang sudah di sediakan di meja sofa dalam kamar hotel miliknya.
Dengan bibir tersenyum ia mengusap bibirnya. Senyum karena mengingat perbincangan mereka beberapa menit yang lalu. Dimana ia sangat berani menggoda Gia.
"Hmm aku benar-benar sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Ada sesuatu yang ingin aku katakan langsung," gumam Balin seraya memandangi foto Gia yang sempat ia screnshoot diam-diam. Dimana itu menggambarkan Gia tersenyum manis dan tulus.
Sungguh dengan kegundahan hatinya ini membuatnya ingin segera kembali tapi sayangnya pekerjaan ini tidak bisa dilepaskan begitu saja, hingga ia akan terbang menjelang sore.
Sebelum beranjak dari tempat duduknya ia melirik sekilas jam di pergelangan tangannya. Mungkin mendekati jam pertemuan ia segera meraih tas dan keluar dari kamar hotel menuju tempat yang sudah menjadi janji jumpa dengan kepala bagian proyek.
*
*
Pukul 12:30
Jam makan siang telah tiba, hingga seluruh karyawan meninggalkan sejenak pekerjaan mereka, untuk mengisi kekosongan pada perut masing-masing.
Gia memesan makanan dari luar karena ia kebetulan malas keluar.
Drrtt
Ponsel yang diletakkan di atas meja sofa bergetar. Ia mendongak melihat siapa yang menghubunginya ternyata itu pria yang memporak-porandakan hatinya hingga hari ini tidak fokus pada pekerjaan.
Dengan hati berbunga-bunga ia meraih ponsel tersebut karena jujur saja sejak tadi ia menunggu dan akhirnya penantian itu berakhir dengan Balin melakukan panggilan videocall.
Keduanya saling terdiam, menatap satu sama lainnya ketika mereka bertatap muka.
"Ini mau makan," sahut Gia yang juga melakukan hal yang sama.
"Kamu makan di kantor?"
Gia mengangguk
"Baiklah jika begitu kita sama-sama makan."
Mereka makan saling berbincang, membahas pekerjaan hingga makanan itu habis di piring masing-masing.
"Sayang apa jadwal mu setelah ini?" tanya Balin.
"1 jam ke depan akan ada pertemuan dengan klien dari perusahaan GERHANA GRUP."
Balin mengangguk
"Jadwal ku terbang pukul 17:00 dan kemungkinan tiba 20:00."
"Hmm kamu jangan pulang ke rumah ya?"
Mendengar larangan itu dahi Balin mengerut.
"Aku menunggu mu di hotel," ucap Gia malu-malu.
"Hotel?" gumamnya dengan raut wajah heran.
"Ya kita bertemu di hotel."
"Ada acara?"
__ADS_1
Gia menggeleng
"Nanti juga kamu akan tahu."
"Hmm apa honeymoon?" godanya dengan salah satu alis terangkat.
"Rahasia!"
"Sayang jangan buat aku mati penasaran. Jika begitu aku ubah saja jam keberangkatan?"
"Mau di PHK oleh Papi?"
"Makanya kasi tahu biar suamimu ini tidak penasaran." Desak Balin, bahkan wajah itu memelas.
Gia kekeh tidak memberitahukan.
"Sayang......"
Gia semakin tersipu malu hingga rona wajah memerah itu dapat disadari oleh Balin.
"Oke, oke......! Awas saja nanti jika kita sudah ketemu. Akan aku kurung selama seminggu!" Ancam balin.
"Jangan asal bicara!" Gia segera memalingkan muka.
Hahaha....
Gelak tawa itu membuat Gia kembali menatap ke layar ponsel. Tawa pria itu membuat hatinya tenang. Akhirnya mereka sudahi perbincangan itu karena kembali ke pekerjaan masing-masing.
*
*
Malam menjelang
Tiba di rumah Gia buru-buru membersihkan diri. Bersiap-siap untuk segera meluncur ke hotel milik keluarga.
Hanya butuh waktu 20 menit ia sudah siap turun ke bawah, menemui kedua orang tuanya karena tadi siang ia sudah menghubungi sangat Papi membicarakan kejutan yang ingin ia persembahkan untuk menyambut kepulangan sangat suami.
"Lama sekali," belum juga sempat Gia menyapa, cecaran langsung menyambutnya.
"Mi!" Peringatan dari pria yang berada di sampingnya.
"Sudah siap Pi? jika begitu kita segera berangkat, kemungkinan Balin sudah tiba," ucap Gia tak menggubris ucapan Ibu sambungnya yang kelihatan tak semangat ikut serta.
"Baiklah sayang," sahut Papi.
"Hmm Rika tidak ikut?" tanya Gia sejenak.
"Dia ada janji dengan kekasihnya," sela Mami Maya seakan memamerkan jika putri kesayangannya itu sudah memiliki kekasih. Gia hanya manggut-manggut.
Mereka berangkat dengan mobil masing-masing. Sepanjang jalan bibir sensual itu tak lepas dari senyuman. Ada rasa degdegan dan juga tidak sabar.
Hanya butuh waktu beberapa menit mobil yang mereka kendarai, memasuki basemen hotel berbintang.
Gia turun dan diikuti oleh kedua orang tuanya, langsung menuju kamar milik keluarga yang berada di pantai paling atas.
Dengan rasa gugup Gia terdiam sejenak di depan pintu kamar. Ia menarik nafas panjang sebelum tangan itu menempelkan sidik jari ke akses pintu.
KLEK
DUARR!
BRAK!
Bersambung.....
__ADS_1
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi