
"Apa?" seru Putra tanpa sadar setelah mendengar penuturan Gia. Tubuhnya menegang dengan ritme jantung tak beraturan. Hal itu membuat Gia, Balik dan juga Papi memandang Putra dengan reaksi tak biasa.
"Apakah Rika sudah menikah? itu kabar yang baik bukan?" Papi menanggapi dengan raut wajah memancarkan ada rasa kebahagiaan.
Gia menggeleng berat. "Belum Pi, bahkan Rika belum bersedia mengungkapkan siapa Ayah dari anak yang dikandungnya," ungkap Gia dengan tatapan sendu.
Pernyataan Gia sekali lagi membuat Putra tersentak kaget. Dan ingatan dia bukan yang lalu membuatnya tidak tenang, bahkan banyak pertanyaan yang ada dalam benaknya.
Papi memijit ujung dahinya karena kabar tentang Rika membuatnya merasa bersalah. Andai saja ia tidak mengusir mereka maka kejadian yang tak diinginkannya itu tak pernah terjadi.
"Desak untuk dia mengatakan siapa Ayah dari bayi yang ada dalam kandungannya!"
"Gia akan coba lagi Pi. Rika sepertinya terpuruk, dia banyak diam tidak seperti biasanya, bahkan selama ini belum sama sekali memeriksakan kandungannya." Cerita Gia dengan iba.
"Sayang besok kita temui mereka. Hmm apa boleh Pi?" Balin minta persetujuan mertuanya, bagaimanapun mertuanya itu harus tahu.
Papi mengangguk sebagai jawaban persetujuannya. Sementara Putra sejak tadi bungkam, tenggorokannya seakan tercekat mendengar apa yang terjadi kepada Rika. Wanita yang pernah menghabiskan tidur dengan dirinya yang selama ini menghindar dan bahkan menghilang.
"Pak saya pamit pulang," ujar Putra dengan sikap seperti biasanya, ia tidak ingin atasannya tersebut mengetahui perubahan sikapnya sikapnya itu.
Hmm
Mereka semua mengangguk begitu saja karena masing-masing sibuk berpikir.
Sepeninggalan Putra mereka pun sepakat untuk beristirahat.
__ADS_1
Dilain tempat
Putra mondar-mandir di apartemen miliknya. Mendengar kabar Rika yang tengah hamil usia dua bulan membuatnya gusar. Ia yakin bahwa anak yang ada dalam kandungan Rika itu adalah hasil dari percintaan singkat mereka yang terjadi begitu saja dia bulan yang lalu.
Putra mengusap wajahnya dengan mata memerah. Selama ini diam-diam dia mencari keberadaan Rika, bahkan bertanya pada setiap perusahaan tapi tidak membuahkan hasil karena semuanya sudah di dusun apik oleh Rika, menyembunyikan identitasnya.
"Apa aku harus bertanya dengan Bu Gia?" gunanya Putra dengan gusar. "Tidak, ini belum saatnya karena aku ingin tahu yang sebenarnya," gumamnya kembali.
***
Di perusahaan
Pagi-pagi Putra menemui Balin di ruangannya. Ia minta izin untuk hari ini tidak kerja karena ada sesuatu yang ingin dikerjakan diluar sana.
Tanpa berpikir panjang Balin memberi izin kepada Putra. Walaupun ada sedikit pertanyaan besar kenapa Putra tiba-tiba minta izin tapi kembali lagi mungkin ada masalah pribadi hingga membuat Putra minta izin tidak masuk kerja.
Putra menyelusuri jalanan, ia akan mencari Rika di gang-gang sempit. Kebetulan tepat masuk gang ada sebuah gerobak yang menjual rujak. Melihat buah-buah yang terpajang membuat Putra menelan ludah hingga keinginan untuk membeli rujak begitu besar.
Putra turun dengan raut wajah datar, tidak lupa ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Lalu mendekati penjual rujak, kebetulan hanya dua orang pembeli.
"Mbak pesan satu," ujar Putra kepada sang penjual.
"Iya Mas. Mau porsi yang spesial atau biasa saja?"
"Hmm spesial saja," sahut Putra dengan asalan karena ia tidak tahu porsi spesial maupun sederhana itu seperti apa.
__ADS_1
"Baik Mas, harap tunggu sebentar!"
Putra mengangguk sembari duduk di kursi yang memang disediakan di sana.
Sembari menunggu pesanannya, Putra memainkan ponselnya. Mengecek beberapa email maupun pesan dari beberapa temannya.
"Mbak pesan seperti biasa," ucap seseorang yang berdiri membelakangi Putra.
"Eh Mbak Rika, tumben baru kemari? kemana saja beberapa hari ini?"
Mendengar nama Rika yang sangat terdengar jelas membuat Putra tersentak kaget, bahkan ponselnya hampir jatuh dari tangannya.
"Malas saja Mbak bawaannya," sahut wanita itu.
"Ya sudah harap tunggu dulu, lebih baik kamu duduk dulu," ucap sang penjual begitu sudah akrab.
Wanita itu mengangguk, membalikkan tubuh ingin berjalan ke arah kursi tetapi langkahnya diurungkannya ketika mendapati sosok yang tengah berdiri di hadapannya.
"Rika!"
"Putra!"
Bersambung....
🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi