Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 43. Dikelon


__ADS_3

Makan malam kali ini sedikit berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ada kehangatan diantara pasangan suami istri yang sudah lama mengarungi bahtera rumah tangga.


Gia mengambil nasi dan lauk pauk untuk Balin. Papi, Mami dan juga Rika tercengang melihat ada yang dilakukan Gia. Beda halnya dengan Balin, ia hanya melemparkan senyum bahagia melihat perlakuan sang istri.


"Sepertinya di rumah ini ada perubahan," sindir halus Mami Maya.


Gia maupun Balin tetap mengunyah tanpa ingin menjawab sindiran itu. Gia tidak ingin makan malam ini menjadi kacau jika ia sedikit terbawa emosi.


Papi menghela nafas seraya menggelengkan kepala, memberi peringatan kepada Mami Maya agar tidak melanjutkan ucapan demi ucapannya. Jujur saja pria paruh baya tersebut ikut bahagia melihat ada perubahan antara Gia dan Balin.


"Sayang kenapa tidak dihabiskan makananmu?" ucap Mami Maya kepada Rika. Rika beranjak bangkit dengan raut wajah masam, entah apa yang membuatnya kesal di meja makan, padahal malam ini Gia tak menggubris sindiran yang dilontarkan oleh sang Mami.


Gia maupun Balin mendongak, memincingkan mata ke arah Rika. Benar saja makanan dalam piring wanita itu hanya habis setengahnya saja.


"Rika sudah kenyang," usai mengatakan itu ia langsung berjalan meninggalkan meja makan dengan raut wajah semakin kesal.


"Sungguh tak bersyukur," gumam Gia karena tak tahan melihat sikap Adik tirinya sesuka hati. Segampang itukah dia membuang makanan, sedangkan diluar sana masih banyak orang yang kekurangan.


Sungguh Gia ingin sekali memberi nasehat tetapi ya sudahlah wanita itu sangat sulit di beri tahu.


"Lihatlah anak kesayanganmu itu!" Ujar Papi dengan raut wajah tidak suka melihat sikap Rika yang seenaknya.


"Papi!" Pekik Mami Maya tidak suka.


Gia menggelengkan kepala, sungguh keluarganya ini tidak ada henti-hentinya dapat masalah. Ia lebih suka hanya tinggal berdua dengan Balin. Selama kepergian mereka ia merasakan ketenangan abadi tanpa harus berdebat dan berdebat yang tak berujung usai.


***


Setelah makan malam


Gia kini berada di balkon kamar miliknya, sedangkan Balin di mintai Papi untuk ke ruang kerja. Entah apa yang mereka bicarakan di sana.


"Apa yang ingin Papi bicarakan hingga tidak membolehkan Gia?" gumam Gia sembari menikmati angin sepoi-sepoi di malam itu.


Gia masih betah berdiri di sana tanpa ingin masuk kedalam kamar. Ia masih menunggu Balin di sana.

__ADS_1


Di ruang kerja


Dua pria tampan beda usia itu duduk saling berhadapan dengan pintu tertutup rapat. Sepertinya ini pembicaraan tertutup.


"Papi ikut bahagia melihat titik terang dalam hubungan kalian. Papi bisa melihat kebahagiaan di wajah Gia, dia tak pernah seperti itu." Papi memulai buka pembicaraan.


Balin menegakkan tubuhnya, dengan bibir melengkung.


"Kami sudah berkomitmen Pi, bahkan aku sudah menceritakan masa lalu ku," ujar Balin dengan tangan di lipat ke depan.


"Apa?" seru Papi mendengar pernyataan itu.


"Tenang Pi, soal masalah yang satu itu aku belum menceritakannya," potong Balin dengan cepat hingga membuat pria paruh baya tersebut mengusap dada merasa lega.


"Syukurlah," ujarnya dengan raut wajah sedikit pucat karena masalah tersebut.


"Bukankah saatnya kita beritahukan itu Pi, bagaimanapun Gia harus tahu. Aku tidak ingin dia tahu dari orang lain, aku tidak ingin dia memikirkan hal yang lain," pungkas Balin.


Papi menggelengkan kepala, tidak setuju dengan permintaan Balin. Untuk saat ini ia belum siap jika Gia mengetahuinya. Apa lagi saat ini Gia mulai memupuk hubungan mereka.


"Nanti Papi sendiri yang jadi tahu. Kamu tenang saja. Jika begitu kembalilah ke kamar, mungkin istrimu lagi menunggu. Hmm semoga sukses, cepat beri cucu untuk Papi," goda Papi dengan senyuman.


Balin tersipu malu mendengar godaan mertuanya itu. Bagaimana mereka akan memberikan cucu sedangkan hubungan mereka baru saja terbit.


"Apa kamu sudah mencintai putri Papi?" pertanyaan itu membuat Balin tertegun. Ia tidak tahu dengan perasaannya ini. Tapi jika di dekat Gia ia sangat nyaman, jika terpisah berapa menit saja ia merasa kehilangan seperti bertahun-tahun.


"Sepertinya Pi," jawab Balin seraya beranjak dari tempat duduknya. Lalu berjalan keluar dengan bibir melengkung lepas.


Papi menghela nafas panjang. Berdoa agar semuanya sesuai yang direncanakan.


Di balkon


Hah.....


Gia tersentak kaget merasakan dua lengan kekar itu melingkar erat di perutnya. Ia sudah tahu lengan siapa itu, hingga tanpa sadar senyuman manis terukir indah di bibir ranum tersebut.

__ADS_1


"Apa kamu tidak kedinginan? angin malam ini cukup kencang," bisik Balin seraya meresap aroma wangi rambut Gia.


"Tentu saja kedinginan tapi sekarang sudah mendingan," sahut Gia dengan wajah bersemu merah.


Alis sebelah milik Balin terangkat karena belum memahami kalimat yang dilontarkan Gia.


"Pelukanmu mengurangi rasa dingin ini," sambung Gia sembari memejamkan mata dengan tangan memegang tangan yang melingkar di perutnya.


Seketika Balin sadar dengan kalimat itu hingga ia tersenyum bangga dan semakin mengeratkan pelukan tersebut, bahkan mengecup pucuk kepala itu bertubi-tubi.


"Apa yang Papi bicarakan?" tanya Gia karena penasaran dengan apa yang mereka obrolan di ruang kerja.


"Hanya sebatas pekerjaan," papar Balin terpaksa berbohong karena itu permintaan mertuanya.


Gia manggut-manggut seakan paham dan sedikitpun tak curiga.


"Sebaiknya kita segera masuk, tidak baik terkena angin malam. Balin melepaskan pelukan itu, lalu menggenggam tangan Gia, membawanya masuk kedalam.


Mereka rebahan di atas ranjang. Tentunya masih dengan perasaan canggung.


"Sini," ucap Balin seraya menepuk tempat untuk Gia, yang dimana Balin meletakan tangan kekar itu untuk menopang kepala Gia.


Dengan malu-malu Gia beringsut dari tempat rebahannya. Lalu diam sesaat, antara mendekat atau hanya sekedar di situ saja.


"Sini, biar aku keloni," goda Balin seraya mengedipkan mata.


"Memangnya aku anak kecil? perlu dikeloni segala," cicit Gia dengan wajah cemberut.


Awww.....


Bersambung


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi

__ADS_1


__ADS_2