
Sesosok pria tampan itu berdiri dengan kedua tangan dimasukan kedalam kantong celana setelan. Tatapannya lurus ke depan menembus kaca besar yang menjadi batasan ruangan dengan luar.
Raut wajahnya gusar, tidak ada senyum bahkan tawa. Seakan jati dirinya yang selama ini hangat kini menjadi dingin semenjak kepergian Gia.
Beberapa bulan telah berlalu tapi sampai saat ini keberadaan Gia belum juga di ketahui olehnya. Balin benar-benar frustasi, merasa bersalah hingga ia menyiksa dirinya sendiri.
Bukan hanya ia saja tapi mertuanya juga sangat terpukul, hingga menyebabkan bolak balik masuk rumah sakit dikarenakan kesehatannya terganggu.
Balin masih tetap tinggal di rumah milik mertuanya karena dimintai. Balin juga tidak tega meninggalkan karena sang mertua butuh orang terdekat.
"Dimana kamu Gia?" desahnya dengan sorot mata tanpa tujuan. Upaya apapun sudah mereka lakukan tetapi sampai sekarang sosok itu sangat sulit ditemukan. Kadang pikiran negatif itu menyelimuti hati keduanya, takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Hal itu membuat mereka menjadi frustasi.
Balin mengusap wajahnya tanpa ekspresi tersebut. Buat apa ia menjabat kepemimpinan BB GROUP jika orang yang dicintainya pergi entah kemana. Apa yang ia capai sekarang tidaklah mengubah apapun, bukannya bahagia tapi rasa kehilangan dan penyesalan terus saja menghantui hari-harinya.
Tok tok
Pintu ruangan diketuk
"Masuk!" Sahutnya tanpa mengubah posisi dirinya yang masih betah memandang ke arah luar, memperhatikan bangunan-bangunan gedung di bawah sana.
"Selamat pagi Pak," sapa Putra dengan ramah.
Hmm
Balin hanya berdehem menanggapi sapaan itu. Sesaat ia menghela nafas berat, lalu membalikan badan hingga pandangan keduanya bertemu.
"Apa agenda ku hari ini?" Balin segera duduk di kursi kebesaran yang pernah ditempati oleh Gia.
"Jadwal pagi Bapak kosong. Sedangkan siang nanti ada meeting dengan klien dari perusahaan MAKMUR SENTOSA. Sorenya Bapak memeriksa beberapa laporan bagian pemasaran dan periklanan," terang Putra.
Balin mengetuk-ngetuk meja dengan menggunakan pena. Lalu pandangannya berlabuh di sebuah bingkai foto yang ia letakan di sisi atas meja, itu adalah foto pernikahannya dengan Gia.
Ia tersenyum getir ketika menyadari senyuman palsu Gia di sana. Ya ia sadar bahwa itu adalah senyuman terpaksa pada saat mereka melangsungkan pemberkatan.
Putra terenyuh karena selama ini mengetahui apa saja yang dialami oleh atasannya itu selama menghilangnya Gia. Ada rasa bersalah yang mendalam tapi ini sudah menjadi perjanjiannya kepada Gia.
__ADS_1
"Apa ada kabar?" ujar Balin tanpa mengalihkan tatapannya kepada foto tersebut.
Putra menggeleng dengan berat hati. Ingin sekali ia mengatakan bahwa ia ikut andil dalam menghilangnya Gia.
Balin mendesah sembari mengusap wajahnya berkali-kali. Kecewa tentu saja dirasakannya setelah mendengar jawaban Putra.
"Dia memang sangat cerdas menyembunyikan dirinya." Balin kembali mendesah berat.
"Percaya dan tenang Pak, Bu Gia akan baik-baik saja," ujar Putra seolah memberitahu kabar Gia yang sesungguhnya karena ia selalu menanyai kabar Gia melalui sang Bibi.
"Bagaimana aku bisa tenang Putra? sedangkan istriku di luar sana aku tidak tahu keadaannya! Apa yang mendasari bahwa aku tenang-tenang saja di sini? tanpa melakukan apapun terhadapnya? belum lagi mertuaku keluar masuk rumah sakit akibat kepergian Gia yang entah kemana!" Tuturnya dengan tatapan dingin. Akhir-akhir ini dirinya sulit untuk mengendalikan emosinya, apa lagi jika menyangkut Gia.
"Saya minta maaf Pak karena sayalah yang membantu proses kepergian Bu Gia dari kota ini." Putra hanya bisa berucap dalam hati.
"Saya minta maaf Pak," ucap Putra karena sudah memancing emosi atasannya.
"Hmm jangan berhenti mencari informasi!" Titahnya.
Putra mengangguk sebagai jawabannya. Ia pun pamit keluar, melakukan kembali pekerjaannya.
Drrtt
Ponsel di atas meja menyadarkan dirinya dari keterpurukan. Ia menatap layar ponsel dan tertulis nama ART di sana. Dengan perasaan tidak enak ia segera menyambut panggilan tersebut.
Dadanya sesak ketika menerima kabar bahwa sang mertua masuk rumah sakit akibat penyakitnya kumat. Dengan wajah gusar ia membereskan meja sesaat, lalu meraih kunci mobil.
Di rumah sakit
Pria paruh baya itu kembali terbaring lemah dengan jarum infus di salah satu tangannya.
KLEK
Pintu kamar rawat di buka. Balin melangkah masuk dengan tatapan iba dan di ikuti oleh Putra. Kembali dan kembali ke ruangan bernuansa serba putih dan aroma obat-obatan.
"Pi," panggilnya seraya duduk di sebuah kursi.
__ADS_1
"Nak kamu kah itu?" lirihnya dengan mata sedikit terbuka. Suara yang sangat dikenali nya membuatnya berusaha bangun.
"Iya Pi. Bagaimana keadaan Papi?" tanyanya.
Papi menghela nafas pelan. Rasa sesak di dada tak kunjung hilang. Apa lagi melihat sosok Balin mengingatkannya kepada putri kesayangannya yaitu Gia.
"Tolong Pi jangan siksa diri Papi. Jika Gia tahu bahwa Papi sakit-sakitan bagaimana perasaannya? pasti sedih bukan?' ujar Balin sedikit memberi ancaman agar mertuanya tersebut tidak mengabaikan pola makannya. Kadang obat yang diberikan dokter sengaja tidak diminum, itulah yang menyebabkan ia tak kunjung juga sembuh.
" Gia tidak sayang Papi lagi, buktinya sampai sekarang tak kunjung pulang. Lebih baik Papi mati dari pada dia menderita di luar sana," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Putra yang mendengar dan menyaksikan apa yang terjadi tersentak kaget. Sungguh atasannya itu saat ini sangat memprihatinkan.
Ia akan menghubungi Gia nanti secara langsung untuk memberi kabar. Selama ini ia memang tidak pernah menghubungi Gia tapi ia mengetahui keadaan Gia lewat sang Bibi.
"Bu Gia akan baik-baik saja Pak, buktinya beliau betah berada di luar sana." Mau tidak mau Putra ikut berkomentar, agar pria itu tak terus terpuruk dari kesalahan.
"Apa yang dikatakan Putra benar Pi. Aku janji akan membawa Gia kembali tapi butuh waktu karena sampai sekarang kita belum mendapatkan informasi apa pun tentangnya," tutur Balin sembari mengusap punggung tangan tersebut.
Papi hanya diam saja. Kerinduannya kepada Gia sangat mendalam hingga membuatnya terus jatuh sakit.
Kembali dari rumah sakit Balin bersama Putra mampir di sebuah cafe untuk makan siang. Sebenarnya makanan yang masuk dalam tenggorokannya begitu hambar ketika mengingat Gia. Ini adalah cafe yang sering di datanginya bersama Gia dahulu.
Ia memang ingin mengenang momen indah pada saat itu, tapi kini hanya tinggal kenangan.
"Apa Bapak sangat mencintai Ibu?" tanya Putra karena selama ini diam saja, dia tak berani ikut campur tapi hari ini ia berusaha mengorek isi hati atasannya tersebut.
Balin mendongak menatap Putra dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Saking cintanya aku tidak bisa mengungkapkannya melalui kata-kata," jawab Balin dengan serius. "Aku sangat terpuruk dengan kepergiannya tanpa kabar. Kadang pikiran konyol ataupun negatif memenuhi isi kepala untuk melakukan suatu hal yang bertentangan. Tolong bantu cari Gia, Putra! Aku sangat mencintainya dan takut kehilangannya!" Balin mengungkapkan perasaannya. Tanpa sepengetahuan Balin Putra merekap percakapan mereka untuk bukti yang ia kirimkan kepada Gia.
Bersambung.....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi
__ADS_1