Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 47. Mengakhiri Semuanya


__ADS_3

DEG


"Maksudmu apa?" lirih Gia tersentak kaget, bahkan dadanya bergemuruh hebat ketika mendengar kalimat yang dilayangkan Rika.


Bukan hanya Gia tapi seluruh keluarga tercengang dengan apa yang ingin dibahas oleh Rika. Bagaimana mungkin Rika tahu tentang rahasia besar ini.


"Apa yang kamu bicarakan Rika? segera tinggalkan kami!" Ujar Papi dengan mata memerah, ingin sekali menyeret wanita itu untuk menghilang dari sana.


Rika tak menggubris, namun tetap bersikeras untuk bertahan di sana.


"Jawab aku?" bentak Gia yang sejak tadi ingin mencerna kalimat itu.


"Kamu pasti tahu masa lalu suamimu bukan?" ya Rika masih menerka-nerka, memberi teka teki untuk Kakak tirinya itu.


Balin melangkah mendekati Rika, lalu menarik tangannya agar wanita pengacau itu tutup mulut dan pergi dari kamar.


Gia tersenyum getir melihat apa yang dilakukan Balin. Dia salah mengartikan perlakuan itu hingga membuat hatinya semakin sakit.


"Lepas. Kamu takut Kakak ipar?" sentak Rika seperti mengancam hingga ia berhasil menjauh.


"Katakan! Katakan Papi!!!" Teriak Gia tak terkontrol lagi.


"Apa kamu tahu siapa yang rela dan berbaik hati mendonorkan jantung untukmu? itu adalah kekasih atau calon istri suami mu!" Seru Rika dengan nafas memburu. "Itulah perjanjian yang mereka buat untuk menikahkan kalian," imbuhnya.

__ADS_1


DUARR


Gia membeku tak bergeming. Jantungnya seakan meledak saat itu juga. Matanya melotot seperti ingin keluar dari tempatnya, kakinya lemas bahkan sulit untuk bertahan untuk beberapa saat.


Bukan hanya Gia tapi semuanya kaget mendengar penuturan Rika. Dari mana Rika tahu tentang masalah ini? bukankah Papi sudah menyuruh Mami Maya merahasiakan semua itu.


Tatapan Papi menghunus di mata sang istri karena ia yakin pasti wanita itulah yang beritahu Rika.


"Benar begitu Pi? apa benar yang dikatakan Rika? katakan! Jangan hanya menjadi patung kalian semuanya!!!" Teriak Gia dengan murka.


"Sayang dengarkan dulu penjelasan Papi. Papi bisa jelaskan semuanya, ini bukan salah suamimu, " pungkas Papi berusaha mendekat kepada Gia tapi Gia tak sudi untuk disentuh oleh siapapun saat ini. Hatinya begitu hancur ketika menerima kenyataan tersebut.


Gia menangis, dadanya sesak. Pantas saja Balin menyetujui pernikahan itu karena orang yang sangat ia cintai ada di bagian dirinya. Dan Gia sadar sekarang perasaan Balin itu hanya ada untuk sesuatu yang bukan untuk dirinya terapi melainkan salah satu milik orang yang sangat dia cintai.


Balin sangat sakit melihat wanita yang mulai ia cintai itu begitu terpuruk. Ingin sekali ia merengkuh tubuh itu.


Gia bangkit dari duduknya. Mengusap air mata yang sejak tadi tak berhenti keluar. Tersenyum miris dan tak ingin dilihat begitu terpuruk.


"Aku ingin bercerai!" Ucap Gia dengan serius.


DEG


Semuanya tersentak kaget dengan kalimat yang dilontarkan Gia. Terlebih lagi Balin karena ia tidak ingin hal itu terjadi.

__ADS_1


"Gia!" Sentak Balin tidak suka.


"Sayang jangan bercanda," sambung Papi.


"Aku ingin bercerai!" Gia langsung melangkah mendekati laci meja. Membuka laci dan mengeluarkan sebuah map warna coklat.


Ia kembali duduk di sofa seray ameletakan sebuah map itu di atas meja sofa. Mengeluarkan berkas. Semua mata menatap kaget karena mereka tahu berkas apa itu.


Balin melangkah mendekat, merebut kertas tersebut dengan jantung berdegup kencang.


"Jangan Gia," sentak Balin.


Gia mendecih tidak suka. Kekecewaan yang ia rasakan lebih besar dari segalanya.


"Kamu jahat! Sangat jahat!!!" Gia memukul dada Balin tanpa henti sembari menangis. Balin hanya diam saja tanpa menghindar. Ia pantas mendapatkan itu karena dari awal memang salah karena menyembunyikan kebenaran.


Gia menghentikan memukuk Balin. Lalu kembali merebut berkas itu. Dan jmapir saja di tandatangani.


"Hentikan Gia!" Suara bariton tegas itu begitu menggema.


Bersambung.....


🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2