Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 68. Area Dewasa


__ADS_3

"Stop!" Pekik Gia ketika menyadari seluruh kancing baju kemejanya sudah terlepas. Ia pun langsung melepaskan ciuman tersebut. Dengan spontan ia menarik baju tersebut.


Nafas Balin memburu, sorot matanya seperti menginginkan hal yang lebih. Ia sama sekali tidak melepaskan dekapan Gia dengan duduk di atas pangkuannya.


"Lepaskan aku!" Lirih Gia dengan nafas memburu. Wajahnya merah padam.


Entah setan apa yang merasuki dirinya hingga melakukan hal yang tak pernah dipikirkan Gia. Balin menyentak baju yang berusaha di amankan Gia hingga baju itu ia lemparkan ke lantai. Tampaklah bra berwarna hitam yang masih melekat, membungkus dva gvndvkan nanti indah tersebut. Balin menelan ludah.


Gia berusaha melepaskan dekapan tersebut. Akal sehatnya masih normal, sedangkan Balin benar-benar sudah tak terkontrol lagi.


"Lepas!" Mohon nya.


Karena sudah tak terkontrol Balin kembali melakukan penyerangan di bibirnya, bahkan turun ke le herr hingga meninggalkan beberapa tanda di sana. Gia menjerit merasakan hisa pan tersebut hingga tangannya meremas kedua sisi kemeja yang digunakan Balin.


Gia tersentak kaget ketika merasakan salah satu dua benda yang menggantung di serang lembut oleh Balin. Entah sejak kapan bra itu terbuka, ia bahkan tak sadar. Sedangkan salah satu tangannya bermain, memberikan sen sasi luar biasa yang baru kali ini ia rasakan.


Gua hanya bisa mengigit bibir bawahnya ingin men de sahh tapi ia gengsi karena dari awal ia menolak.


Balin tersenyum lebar karena mendapati pergerakan Gia yang menjepit kepalanya semakin masuk. Entah ia sadar atau tidak Balin tak peduli.


Balin bangkit lalu memposisikan Gia terbaring di atas ran jangg. Menghimpit tvbvhnya tanpa melepaskan permainannya dengan dva gvndvkan indah tersebut.


Aaah


Tanpa sadar yang ditunggu-tunggu Balin akhirnya lolos juga dari mulut manis Gia.


Gia melebarkan matanya, lalu segera membungkam mulutnya ketika menyadari atas apa yang ia lakukan.


Balin mendongak ke atas dengan wajah merah padam. "Men desahh lah sayang....." Bisiknya dengan suara sensual penuh naf zv.


Jari jemari kekar itu bermain di tvbvh bagian atas hingga berpusat pada perut Gia. Gia memejamkan mata. Bohong jika ia tidak menikmatinya.


Balin tertegun sejenak mengamati milik pribadi wanitanya itu. Entah sejak kapan ia membuka rok serta dalaman renda-renda tipis menggoda tersebut, hingga kini terpampang dengan jelas bagian inti wanita yang selama ini tersembunyi dengan apik.


Balin beringsut turun ke bawah, lalu menarik tvbvh Gia hingga berakhir di tepi ranjang. Ia berjongkok sembari membukakan kedua kaki Gia, lalu bermain di bagian tersebut. Ini pengalaman pertama baginya, bahkan melihat tvbvh bagian dalam wanita saja Gia orang pertama baginya.

__ADS_1


Aaah....


Gia tersentak kaget merasakan daging kenyal basah menerobos, bermain-main pada miliknya. Ia langsung menendang Balin hingga permainan itu terhenti.


Gia bangun sembari menutup dadanya dengan kedua dadanya. Ia malu dan juga marah.


PLAK


Tamparan melayang di wajah Balin. "Jangan kutang ajarr!" Lirih Gia berlinang air mata. Ia malu dan juga marah. Balin benar-benar sudah melakukan hal yang lebih. Bahkan menginginkan yang lebih dalam.


Gia meraih selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya yang polos itu. Ia sangat marah, bahkan kemarahan ini tak bisa ia redam.


"Sepertinya kamu sangat berpengalaman," sindir Gia dengan bibir tersenyum getir. Pikiran kotor pun meliputi dirinya dengan masa lalu Balin.


Ia menangis dalam diam, duduk membelakangi Balin yang juga duduk di tepi ranjang masih dengan dada polos karena pada dasarnya ia masih mengenakan celana.


"Aku minta maaf! Bukan mak____"


"Pergi!" Teriak Gia memotong ucapan itu, ia tidak ingin mendengarkan lagi apapun yang dilontarkan Balin.


Balin menelan ludah. Bukankah Gia juga menikmati dengan pemanasan tadi tapi kenapa seolah dia yang bersalah. Ya ia akui memang awalnya dialah yang memancing.


JLEB


Gia membeku, menelan ludah mendengar pernyataan itu. Apa yang dikatakan Balin memang benar, ia terbuai bahkan juga menginginkan lebih dalam tapi akal sehatnya masih dapat menyadarkan dirinya jika apa yang mereka lakukan adalah salah.


Wajah Gia merah padam, sangat malu mendengar kalimat yang dilontarkan Balin, untung saja posisi mereka tak saling bertatapan.


"Buang pikiran kotor mu. Ini pertama kalinya bagiku jadi tak ada pengalaman secara langsung. Kamu wanita pertama yang aku sentuh! Percaya atau tidak aku tak memaksa," akui Balin dengan kejujuran paling dalam.


Mendengar pengakuan Balin ada rasa lega di hati Gia tapi ia tak menyadari hal itu karena sudah terbakar api kekesalan.


"Aku tidak peduli!"


"Harus peduli karena kamu adalah istriku!"

__ADS_1


Mendengar kalimat itu Gia melirik Balin dengan kata membulat serta mulut menganga. Balin mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Gia yang diam mematung.


"Apa kamu tahu aku nekat melakukan cara ini? aku ingin menjeratmu agar kamu menjadi milik ku seutuhnya dan tidak akan pergi lagi. Apa kamu paham Gia? apa hukuman ini belum cukup untuk ku menerus kesalahan demi kesalahan dimasa lalu? ya aku sangat paham bagaimana perasaanmu waktu itu jika aku berada di posisimu, mungkin aku juga melakukan hal yang sama. Tapi_____" Balin tidak sanggup lagi mencurahkan isi hatinya yang selama ini ia pendam, bagaimana dirinya ketika Gia pergi dari kehidupannya.


Gia terdiam, bahkan tidak berani membalas tatapan pilu tersebut. Apa lagi Balin menangis, bahkan air mata itu dengan tenangnya mengalir membasahi wajahnya.


Balin mendekap kedua bahu Gia, menatap penuh penyesalan.


"Aku tidak mengelak jika ini memang salah ku. Dari awal aku ingin jujur kepada mu tentang perjanjian tersebut, tapi Papi melarang dengan alasan tidak ingin melihat kamu kecewa bahkan semakin membenci diriku. Aku memang pengecut karena tidak berterus terang dari awal," ungkapnya .


Sesaat ia menarik nafas, dadanya sesak, begitu juga dengan hidungnya akibat cairan memenuhi rongga hidungnya sebab ia menangis. Biarlah Gia mengatakan dirinya pria lemah, cengeng, tak gentleman dan lain sebagainya. Tapi perlu di garis bawahi karena ini pembuktian betapa besarnya cinta itu untuk seorang Bahagiana Bahtiar. Sangat jarang sekali seorang pria menangis di hadapan seorang wanita.


"Masalah di hotel tersebut itu hanya kesa____"


"Aku sudah tahu jadi stop menceritakannya lagi!" Lirih Gia masih dengan wajah menunduk, sembari meremas selimut yang melilit tubuhnya hingga leher.


"Kamu tahu? jadi kenapa pergi?" cecar Balin sembari mengangkat dagu Gia hingga tatapan mereka bertemu.


Gia bungkam


"Kamu hanya salah paham. Aku mengira Rika pada saat itu adalah kamu, dan tanpa berpikir panjang aku spontan memeluk dari belakang dan bahkan mengungkapkan perasaanku. Ternyata semua itu pembawa musibah yang tak terduga," cerita Balin. Walau Gia sudah tahu, entah tahu dari siapa tetapi ia kembali meluruskan agar hatinya lega dan tenang.


"Itulah salah terbesar kamu! Istri sendiri saja tidak kenal! Memeluk orang sembarangan! Terlalu ceroboh! Apa kamu tahu pada saat malam itu aku, aku ingin_____" Seketika Gia membungkam mulutnya karena tidak sadar dengan kalimat demi kalimat yang dilontarkannya.


"Aku, aku ingin apa?" goda Balin memancing.


Gia terdiam. Rona wajahnya kembali memerah, hal itu membuat Balin gemas. Ingin sekali tertawa tapi belum saatnya karena ia tidak ingin membumbui kekesalan hati Gia karena akibatnya bahaya.


Gia menelan ludah. Ingin menundukkan tapi tentunya tidak bisa karena Balin masih menangkup dagu nya.


"Ingin menyerahkan diriku seutuhnya untuk suamiku, karena aku sudah mencintainya tapi itu hanya tinggal kenangan karena sekarang status kita bukan suami istri lagi!" Lirih Gia dengan malu-malu, bahkan ia tak berani membalas tatapan pria tampan tersebut.


DEG


Bersambung.....

__ADS_1


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2