Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 77. Anak ku


__ADS_3

Rika maupun Putra saling berseru.


"Tunggu Rika!" Putra menjengkal langkah Rika hingga langkah Rika tidak bisa dilanjutkan.


"Lepas Putra, aku...aku..."


"Ikut aku! Mbak apa semuanya sudah siap?"


"Sudah Mas." Sang penjual memberikan dua cup rujak kepada Putra yang keadaannya mencengkram pergelangan tangan Rika sembari menyodorkan satu lembaran pecahan seratus ribu.


"Ambil saja kembaliannya Mbak!" Usai mengatakan itu Putra segera membawa Rika masuk kedalam mobil, tentunya dengan paksaan.


Sebelum menjalankan mobilnya Putra mengarahkan pandangannya kepada Rika yang duduk terdiam di samping kursi kemudi.


Jantung Putra berdebar kencang mendapati perubahan pada tubuh Rika, dimana perut itu mulai kelihatan, sangat terlihat jelas karena Rika mengenakan baju daster.


"Tidak ada yang ingin kamu katakan?" ujar Putra tanpa memutuskan pandangannya, sementara Rika hanya bisa menunduk sembari memainkan kuku-kuku tangannya dengan perasaan campur aduk.


Tangan Putra bergerak ingin menyentuh gelembung yang tersembunyi dibalik daster yang dikenakan Rika, tetapi ia tidak sanggup untuk melakukan niatnya tersebut hingga dengan spontan ia tarik kembali. Tanpa berkata apa lagi Putra menjalankan mobil, membelah jalanan yang cukup padat, maklum di Ibu kota sudah tidak heran lagi dengan hiruk-pikuk kendaraan lainnya.


Putra membawa Rika ke apartemen miliknya, tentunya Rika tahu area tersebut. Ada rasa takut dan khawatir, kenapa Putra tiba-tiba membawanya.


Pertanyaan besar menghinggapi benaknya. Apakah Putra mengetahui kehamilannya? tapi ia tepis kembali karena itu tidak mungkin.


Tiba-tiba ingatannya kepada Gia, hanya Gia orang lain yang mengetahui kabar kehamilannya itu. Tidak mungkin juga Gia membicarakan hal itu kepada Putra karena mereka tidak akan pernah tahu tentang kronologi hari itu hingga menyebabkan janin tak berdosa itu tumbuh dalam rahimnya.


Putra turun sembari memutari mobilnya, membukakan pintu khusus untuk mempersilahkan Rika keluar tetapi wanita yang biasanya cuek dan jutek itu hanya berdiam saja tanpa ingin mengikuti keinginan Putra.


"Apa perlu aku gendong? hmm seperti waktu itu?" ujar Putra sengaja mengingat momen singkat tersebut hingga berhasil membuat Rika tersentak kaget dan kelabakan, itu membuat Putra melengkungkan ujung bibirnya.


Tanpa dipaksa lagi Rika spontan keluar dari mobil dengan raut wajah kesal, ingin sekali ia memaki pria yang kini menyandang status Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.


"Apa kau takut?" goda Putra berubah menjadi tatapan datar.

__ADS_1


"Tidak perlu mengancam. Katakan apa yang kamu inginkan? bukankah Gia sekarang sudah kembali?" ucap Rika karena ia menduga bahwa Putra mencarinya ada kaitannya dengan Kakak tirinya.


"Banyak hal yang ingin aku tagih dari penjelasan mu. Lebih baik kita bicarakan didalam, tidak enak dilihat orang dan lagi pula tidak baik untuk calon Ibu bicara dengan keadaan berdiri!" Perkataan Putra membuat mata Rika melebar, a mencerna setiap kalimat yang dilontarkan.


Melihat raut keterkejutan Rika, Putra kembali mencengkram perjalanan tangan Rika. Bukan cengkraman keras tetapi halus.


Sepanjang jalan menuju kamar milik Putra, Rika tanpa sadar memandang Putra yang berjalan beriringan dengan dirinya. Sementara yang diperhatikan dengan fokus melihat ke depan.


DUGH


Awww.....


Karena tidak melihat jalan Rika tersandung kotak sampah, untung saja dengan cepat Putra mendekap tubuhnya hingga tubuhnya kini berasa dalam pelukan Putra.


"Kau tidak apa-apa? hati-hati, aku tidak ingin anak kita kenapa-kenapa." Putra memeriksa keadaan Rika tanpa menyaring terlebih dahulu perkataannya karena ia sudah sangat khawatir.


DEG


Rika membeku hingga detak jantungnya ingin berhenti berdetak dengan apa yang dilontarkan dari mulut Putra.


"Cukup!" Seru Rika dengan nada sedikit meninggi hingga tangan Putra yang tepat berasa di perutnya terlepas. "Aku tidak apa-apa, dan perilaku mu sungguh diluar batas!" Papar Rika dengan mata memerah. Sebetulnya dalam hati ia merasa terharu dengan apa yang dikhawatirkan Putra pada dirinya dan juga calon buah hati mereka tetapi ia kembali sadar jika status mereka tidak jelas.


"Maaf," ujar Putra dengan raut wajah dingin. Karena tidak ingin suasana yang cukup mencekam, Putra berjalan menuju dapur. Menuangkan air putih dan kembali menemui Rika yang masih duduk diam ditempat utamanya dengan mata berkaca-kaca.


"Minum dulu," tawar Putra sembari meletakan gelas yang ia bawa di atas meja sofa, tepat dihadapan Rika.


"Aku mau pulang," ucap Rika dengan wajah menunduk sembari memeluk dompet berukuran besar yang diletakkan di atas perutnya.


Mendengar keinginan Rika, Putra tak menggubrisnya, malahan ikut duduk di sebelah Rika.


"Aku mau pulang...." sekali lagi kalimat itu terlontar tetapi nadanya berubah seperti menahan tangis.


Putra mendekap kedua pundak Rika hingga mau tidak mau Rika mendongak hingga tatapan mereka bertemu. Putra kaget melihat mata Rika berkaca-kaca, sekali kedipan saja maka bulir bening itu akan bergulir.

__ADS_1


"Aku ingin pulang, bukakan pintunya!" Cicit Rika tidak dapat lagi membendung air mata itu hingga tumpah membasahi pipinya.


"Aku minta maaf membiarkan kau sendirian menghadapi semuanya," lirih Putra yang kini memeluk Rika. "Aku sudah tahu tentang kehamilan mu dari Bu Gia yang tak sengaja dibahas ketika aku mendatangi kediaman beliau. Dimana kau selama ini Rika? aku sudah mencari mu selama ini," ungkap Putra dengan mata memerah.


Hiks.....hiks....


Tangisan Rika semakin pecah. Dia kaget dengan apa yang diungkapkan Putra, dimana pria itu sudah mengetahui kehamilannya dan satu lagi mencari keberadaannya. Hal yang tak pernah ia duga sama sekali.


"Jawab aku Rika!"


Rika menggeleng, ia sadar bahwa ini tidaklah benar. Ia menguraikan pelukan itu hingga terlepas.


"Ini, ini bukan anakmu. Biarkan aku pulang," ucap Rika dengan tenang bahkan menahan air mata itu agar tidak kembali keluar.


Mendengar pengakuan Rika membuat Putra murka tetapi ia berusaha tidka menunjukan rasa murkanya itu agar masalah mereka semakin runyam. Ia akan berbicara dengan hati dingin.


"Katakan yang sejujurnya!" Ujar Putra bahkan rela berlutut di kedua kaki Rika. Mata Rika membulat melihat apa yang dilakukan Putra. "Katakan bahwa ini adalah darah daging ku! Hasil dari perbuatan kita dua bulan yang lalu! Katakan Rika!" Mohon Putra sembari memeluk perut Rika yang mulai terasa membesar.


DEG


Merasa sentuhan Putra membuat Rika memejamkan mata. Air mata itu kembali luruh hingga mendarat di atas kepala Putra.


"Katakan jika ini adalah anakku! Jangan salah jika aku tidak mencari keberadaan mu selama ini tetapi kau hebat sekali menyembunyikan semuanya. Tapi lihatlah Tuhan mempertemukan kita tanpa disengaja," lirih Putra terisak masih tetap memeluk perut Rika.


Rika tak bergeming. Ia hanya bisa menahan tangisnya agar tidak menimbulkan suara. Tangannya terulur, mengusap kepala Putra dengan lembut.


Mendapat usapan lembut itu membuat Putra mendongak ke atas. Kini tatapan mereka bertemu cukup intens.


"Apa ini adalah anakku?"


Rika mengangguk sebagai jawabannya sembari menangis.


*Bersambung.....

__ADS_1


🌹🌹🌹*


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2