Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Hamil


__ADS_3

Sikap aneh yang ditunjukan Dea dan Jeni akhir akhir ini membuat Lira geram sendiri sebagai orang terdekat mereka. Sikap tidak biasa keduanya dirasakan juga oleh penghuni kediaman pratama yang lain, khususnya para suami mereka.


Lira selalu menjadi orang yang direpotkan keduanya, seperti pagi pagi buta dia diminta mengatar Jeni untuk pergi membeli ayam pedas. Dan juga Dea yang selalu nangis ketika ada kesalan sedikit saja, itu membuat Lira sering menghela nafas lelah atau lebih tepatnya mengendalikan emosinya.


"Huh.. " Lira menghempaskan tubuhnya diatas sofa, dan menyenderkan punggungnya disana.


"ada apa?" tanya Shean yang baru keluar dari kamar mandi, mendudukan dirinya disamping Lira.


"kak Jeni dan Dea.." jeda Lira "aku heran dengan sikap mereka akhir akhir ini. Coba kau pikir! masa setiap pagi aku harus mengantar kak Jeni beli ayam pedas direstoran yang sudah jelas belum buka, dan juga...."


Lira menumpahkan unek uneknya yang sudah menumpuk beberapa hari ini, Shean hanya menjadi pendengar yang baik dan memperhatikan Lira. Dia hanya tersenyum tipis melihat Lira yang sedang marah marah, dimata Shean saat istrinya seperti itu sangat lah manis.


"kau sebenarnya mendengarkan tidak..?" tanya Lira sedikit emosi.


"aku dengar" jawab Shean lembut.


"apa?" tanya Lira ketika menyadari Shean terus melihatnya.


Shean menggeleng dan tersenyum hangat, membuat Lira jadi sedikit tenang dengan senyuman itu.


"kau tidak pergi ke kantor?" tanya Lira.


"tidak, hari ini aku akan mengerjakannya dirumah" jawab Shean.


"Oh.. kalau begitu..." jeda Lira dan melihat jam dinding "ayo turun kebawah kita sarapan" ajak Lira.


Namun sebelum Lira berdiri tangan Shean sudah menghentikannya.


"apa?" tanya Lira.


Shean menatap kedalam mata Lira, dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"tentang perkataan dady mu" kata Shean.


"yah?"


"dia minta cucu"


Blus


Pipi putih Lira seketika memerah merona mendengar penuturan Shean, sedangkan siempunya hanya menampilkan wajah tanpa ekspresi. Lira mengalihkan pandangannya dari Shean, berusaha tidak berkontak mata dengannya. Lira malu?! jelas, jika saja Lira tidak memiliki perasaan ke Shean dia pasti akan mengatakan 'Terus? memang aku peduli?!' begitulah kira kira.


melihat Lira yang malu malu, Shean tersenyum penuh arti. Shean mendekatkan wajahnya ke Lira, membuat Lira menengokkan wajahnya dan pandangan mereka bertemu. Semakin dekat Shean mengikis jarak diantara mereka, Lira hanya menahan nafasnya. Shean tersenyum manis dan...


Tok tok tok


Shean memejamkan matanya dan mengehembuskan nafas dalam, ada saja yang mengganggu kesenangannya. Dan dipastikan adalah orang yang sama.


"Ra apa kau didalam..?" tanya seseorang dibalik pintu.


"Ya" jawab Lira dari dalam kamar, dia langsung berdiri dan mendekati pintu untuk membukanya. Lagi lagi Shean hanya mencium angin.


ceklek


"Ra apa kau tau? ada berita terhangat" kata Diqi antusias, tentu dia juga yang menjadi pelaku pengetukan pintu.


"apa?" tanya Lira tak kalah antusias.

__ADS_1


"kak Jeni dan Dea..." jeda Diqi "HAMIL"


"WHAT?"


☆☆☆


Jeni dan Dea tengah duduk di sofa ruang keluarga, didepannya ada Lira yang sedang mentap mereka intens. Mungkin lebih tepatnya sedang menuntut penjelasan tetang berita kehamilan mereka.


"jangan menatap kami seperti itu ra! kau seperti mau memakan kami" kata Jeni.


"Kenapa kalian tidak memberi tau kalau kalian hamil?" tanya Lira.


"aku tidak tau ra, hanya saja beberapa hari ini aku selalu merasa mual dipagi hari, dan juga selalu ingin makan ayam yang biasanya tidak aku suka. Karena Key yang merasa khawatir, jadi setelah kita pulang dari membeli ayam dia memutuskan membawaku kerumah sakit. Dan halisnya aku fositif hamil" jelas Jeni panjang lebar.


"terus Dea?" tanya Lira.


"Dia juga sama. Sam merasa ada yang aneh dengan Dea dan ikut aku juga Key pergi kerumah sakit " Jeni yang menjawab pertanyaan Lira.


Lira menghela nafas dalam "ternyata akhir akhir ini mereka bertingkah aneh karena mereka hamil" batin Lira.


"tapi tetap saja kalian tidak bisa menyusahkanku bukan?" tanya Lira dengan nada tidak bersahabat.


"aku juga tidak mau seperti itu, tapi ini bawaan yang ada diperut" lirih Jeni menundukan pandangan.


Dea tidak berkata apapun ketika Lira mengintrogasinya dan Jeni, namun beberapa saat kemudian dia malah terisak dalam diam.


"lah.. kenapa menangis kau- ah sudahlah" Lira prustasi menghadapi dua ibu hamil didepannya, karena wanita yang sedang hamil biasanya memang sensitif.


"berapa bulan?" tanya Lira menurunkan nada bicaranya.


"Ah?"


"Oh, aku sudah sepuluh minggu dan Dea baru empat minggu" jawab Jeni, lagi lagi dia yang jawab karena Dea dari tadi hanya menunduk dengan mata yang berkaca kaca. Sungguh Sensitif.


"Dea kenapa?" tanya Sam yang baru saja datang dan duduk disamping Dea.


"tuh" tunjuk Jeni ke Lira.


"Hah? aku?" Lira menunjuk dirinya sendiri "kapan aku membuat dia menangis?" bantah Lira.


"tadi kau membentaknya" tuduh Jeni.


"kapan?" tanya Lira dan mulai jengkel.


"sudah sudah!" lerai Sam "ra, baik baiklah dengan Dea dan kak Jeni" kata Sam.


Lira menjatuhkan rahang atas perkataan Sam, tidak habis pikir saja, sejak kapan Lira jahat dengan kedua ibu hamil itu. Bahkan Lira selalu nurutin keinginan keduanya yang tidak masuk akal, itu merepotkan asal tau saja.


Lira hanya geleng geleng kepala ketika ketiga orang itu pergi meninggalkannya diruang tamu sendirian, dan pandangan mereka seakan menyalahkannya (ya, hanya dipenglihatannya).


"jadi disini aku yang salah. Wahhh, kalau tidak sedang hamil sudah ku-" Lira hampir mengumpat.


Lira beranjak dari ruang tamu, dan tujuannya adalah taman belakang dekat kolam renang.


☆☆☆


Lira duduk dikursi panjang yang ada di samping taman, dengan muka yang memerah. Bukan karena marah dengan Jeni atau Dea, namun dia mengingat apa yang Shean katakan tentang dady nya yang meminta cucu. Sungguh tidak bisa dibayangkan bagaimana Lira bisa menghadapi Shean setelah ini, dan ketika Diqi mengetuk pintu kamarnya dia sangat bersyukur dalam hati. Lira tidak tau harus berbuat apa ketika Shean sudah berbicara hal yang intim dan membuat jantungnya seketika berdetak cepat.

__ADS_1


"sedang apa?" tanya Shean yang tiba tiba berada disamping Lira dengan sebuah es krim ditangannya.


Cepat cepat Lira menetralisir perasaannya dan tersenyum tipis.


"Ah aku sedang melihat bunga bunga" jawab Lira sedikit gugup.


Shean duduk disamping Lira dan menyodorkan es krim kehadapannya.


"Oh? es krim? terima kasih" Lira mengambil es krim dari tangan Shean, namun tidak langsung memakannya. Pandangan Lira kembali ke bunga bunga didepannya, tapi sebenarnya dia menghindari kontak mata dengan Shean.


Merasa diabaikan, Shean membalikan badan Lira supaya menghadapnya dan menampilkan wajah sedikit kesal.


"apa?" tanya Lira tanpa melihat mata Shean yang sedang melihatnya tajam.


"ada apa?" Shean malah balik bertanya.


"tidak ada" jawab Lira gugup "aduh jantungku sudah deg degan nih. kenapa dia melihatku dengan tatapan tajamnya?" batin Lira.


"kenapa kamu tidak melihatku saat bicara?" tanya Shean datar.


"tidak kok, hanya saja aku sedang melihat... bunga" jawab Lira sekenanya "apasih Lira"


"Lihat aku saat bicara" titah Shean mutlak, tapi Lira masih tidak mau untuk berkontak mata dengan suami tampannya itu.


Shean tampak Cool dengan switer berwarna abu dipadu dengan celana jeans hitam dengan rambut disisir kesamping. Itu sangat keren bagi orang yang melihatnya, walaupun umurnya sudah lebih dari dua puluh tujuh tahun dia terlihat seperti anak kuliahan.


"Lira" panggil Shean yang tidak biasa dia memanggil Lira seperti itu.


Seketika Lira menengok saat Shean memanggilnya dengan nama lengkap, karena biasanya Shean akan memanggil 'Ra' atau 'kamu'. Tidak aneh si tapi menurut Lira itu aneh.


Pandangan keduanya bertemu dengan Shean yang melihat Lira intens.


"A-ada apa.. ?" tanya Lira gugup.


"sudah kubilang untuk melihatku saat bicara" kata Shean benar benar datar.


"aku-"


Cup


Lira membolakan matanya ketika Shean menempelkan bibirnya dengannya, dan dengan refleks Lira mendorong Shean menjauh.


Lira menutup bibirnya dengan punggung tangan, menatap Shean nyalang.


"ini bukan didalam kamar, bagaimana kalau ada yang lihat? dasar ceroboh" umpat Lira.


Bukan tanpa alasan Lira bersikap seperti itu, pasalnya Shean belum pernah menciumnya didepan umum selain didalam kamar. Juga bisa dihitung dengan jari Shean yang mencium Lira, karena Lira tidak mungkin melakukannya duluan.


"apa yang kau lakukan?" tanya Lira.


"..."


"bagaimana kalau ada orang yang lihat?"


"..."


"kau-"

__ADS_1


lagi lagi Lira hanya bisa terkesiap karena Shean yang kini sudah menempelkan bibirnya dibibir tipis Lira. Namun kini Shean tidak membiarkan Lira untuk kabur, dan usaha pelepasan diri Lira sia sia.


__ADS_2