Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Masalah di Kantor


__ADS_3

"Ah, selesai juga" Lira merentangkan tangannya.


Pekerjaan yang baru diselesaikan setengahnya, kini sudah selesai karena dirinya yang keras kepala. Sekitar jam empat pagi, Lira bangun lebih awal dari biasanya. Mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai, sampai dia tidak peduli sudah berapa jam dia duduk didepan laptop.


Lira tidak duduk dimeja kerja melainkan ditempat tidur. Kenapa? karena dia takut membangunkan Shean yang sedang tidur disofa, dan itu dekat dengan meja kerja.


Setelah kejadian Shean yang hampir kehilangan kendali, Lira tidak ingin meminta Shean untuk tidur dengannya lagi. Karena dengan kejadian waktu itu, hubungan mereka jadi canggung. Kalau saja Lira tidak sakit, mungkin sekarang Lira masih salah tingkah didepan Shean. Namun karena Lira sempat sakit, rasa canggung dan salah tingkah semuanya dikesampingkan.


"sudah bangun?" Shean yang baru bangun, menghampiri Lira diatas tempat tidur.


"um" Lira masih sedikit kesal dengan sikap Shean kemarin.


Shean menatap datar Lira yang berada didepannya, dia kemudian beranjak dari sana menuju kamar mandi.


Sekitar lima belas menit Shean berkutat di kamar mandi, dia keluar dengan pakaian yang sudah lengkap. Bukan pakain kantor melainkan pakaian santai seperti celana pendek selutut dan kaus panjang yang bagian tangannya digulung sampai siku.


Melihat itu, Lira tidak bisa untuk tidak bertanya "kau tidak kekantor?"


"tidak" Shean menyimpan handuk ditempat semula. Kemudian mendudukan dirinya disamping Lira.


"kamu bangun awal?" tanya Shean.


"ya" Lira masih tidak ingin melihat Shean.


"kenapa? kamu masih sakit"


Lira menatap Shean tepat dimatanya "karena kau yang terus melarangku untuk menyelesaikan pekerjaan. Kalau aku tidak bangun awal mungkin sekarang itu belum selesai. Dan sekarang pekerjaanku sudah selesai" Lira menutup laptop dengan kasar, dan berniat menyimpannya dimeja kerja.


Tap


Tangannya ditahan oleh Shean "masih kesal?" tanya Shean.


"menurutmu?! Awas aku mau turun" titah Lira. Namun Shean masih tidak mau melepaskan tangannya.


"apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Shean.


"aku sudah lebih baik..." Lira menjeda " jadi kalau kau mau ke kantor, pergi saja" nada suaranya melembut.


Tidak baik juga jika Lira terus bersikap kekanak kanakan, dan Shean melarangnya demi kebaikan Lira juga.


"tidak, sampai kamu pulih" jawab Shean.


"tapi aku sudah lebih baik She, tidak baik juga kalau kau terus mengabaikan pekerjaanmu..."


"ada kak Key" Final Shean.

__ADS_1


Shean menggeser duduknya supaya lebih dekat dengan Lira. Dia mencondongkan badannya sehingga jarak wajahnya dan wajah Lira sangat dekat. Dalam posisi seperti itu, Lira sudah menebak Shean akan menciumnya. Namun sayang tebakannya salah, tangan Shean terulur untuk menyentuh keningnya.


"apa sih She "Lira menepis tangan Shean yang berada dikeningnya "aku tuh sakit perut, bukan demam" Sebenarnya Shean lupa atau apa, Lira sakit diperutnya tapi yang dicek malah suhu tubuhnya.


Shean tersenyum tipis "mau makan apa?" tanya Shean.


"apa saja yang ada dimeja makan" jawab Lira.


"kamu tidak usah turun, aku yang bawakan" tanpa menunggu persetujuan dari Lira, Shean sudah pergi untuk mengambil sarapan.


"dasar"


☆☆☆


Shean terburu buru datang ke kantor karena Key yang menyuruhnya. Ada masalah di kantor Shean yang membuat Key terpaksa menyuruhnya ke bergegas segera dan harus meninggalkan Lira dirumah.


"ada masalah She" Key memberi tau Shean tepat setelah dia sampai. Key terlihat khawatir.


"ada apa kak?" tanya Shean setelah dia duduk dikursi kebesarannya.


"lihatlah ini" Key menyalakan laptop didepan Shean.


Shean melihat apa yang ada didalam laptop dengan teliti, dia mengernyit.


"entahlah She. Data yang awalnya baik baik saja, jadi kacau dalam waktu sehari. Kalau seperti ini, perusahanmu akan dalam masalah besar lagi She" Key cemas.


Shean tidak mengatakan apapun, cemas dan khawatir pun tidak akan ada gunanya untuk sekarang. Dia lebih memilih untuk mengotak atik data yang ada di laptopnya, berharap semuanya bisa kembali seperti sebelumnya.


Key tidak tinggal diam, dengan dia yang menghubungi semua orang yang terlibat dan tau tentang data itu. Key juga meminta sekretaris Shean untuk mengumpulkan berkas berkas dari enam bulan terakhir. Dan alhasil ruangan Shean penuh dengan berkas berkas.


Shean sibuk dengan memperbaiki data yang ada di laptop sedangkan Key sibuk dengan berkas berkas, dan siapa tau bisa menemukan inti masalah dari berkas berkas itu.


Key cukup heran karena data yang baik baik saja, tiba tiba hari ini menjadi bumerang bagi perusahaan. Tidak ada yang salah dengan datanya, bahkan dia sudah memastikannya berkali kali. Key jadi merasa bersalah kepada Shean karena dia sudah gagal menggantikan Shean beberapa hari ini. Padahal seharusnya Shean sekarang masih menemani Lira yang sedang sakit, tapi malah harus disibukan dengan data perusahaan yang kacau.


Key memijat pelipisnya jengah. Hari sudah hampir sore, namun masih belum menemukan titik terang masalahnya didalam berkas berkas. Key melirik Shean yang sedang duduk di depan laptop, tidak merubah posisinya dalam waktu yang lama.


Key tidak habis pikir dengan mata Shean yang dari tadi melihat layar laptop, dia saja sudah pegal melihat banyak berkas didepannya.


"She" panggil Key.


Key menghampiri Shean kedepannya "ini sudah sore She. Lebih baik kau pulang, mungkin Lira juga menunggumu" kata Key.


"aku akan menyelesaikannya" jawab Shean tanpa melihat Key.


Key hanya bisa menghela nafas singkat mendapati Shean yang sedang keras kepala. Key kembali bergumul dengan berkas berkas yang menumpuk.

__ADS_1


☆☆☆


Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, tapi Shean masih belum pulang juga. Lira yang dari tadi menyibukan diri menonton film di ponselnya jadi gelisah sendiri.


"kenapa dia belum pulang?" Lira menghentikan acara nontonnya.


Shean sudah berjanji hanya pergi ke kantor sebentar, tapi dari semenjak dia berangkat jam satu siang, dia belum kembali sampai sekarang.


Lira mengetikan sesuatu diponselnya, dan meletakannnya ditelinga.


TUUUT


TUUUT


TUUUT


Sambungan teleponnya tidak diangkat Shean, sudah tiga kali Lira mencoba menelpon tapi panggilan selalu berada diluar jangkauan.


"bukannya dia ada dikantor? tapi kenapa selalu diluar jangkauan" Lira kembali mencoba menelpon Shean.


Kali ini ponsel Shean tidak berada diluar jangkauan, tapi malahan mati. Lira bukan orang yang berlebihan sampai harus menemui Shean dikantornya, lagi pula disana ada Key.


"Oh ya kak Key" Lira teringat Key.


Lira bukan sedang bersikap posesif atau overprotektif, biasanya juga dia biasa saja walaupun Shean pulang larut malam. Tapi ini kasusnya beda, Shean pergi dengan tergesa gesa dan dia juga berjanji ke Lira kalau akan pulang cepat.


Kali ini sambungan telepon diangkat oleh siempunya.


"halo kak Key. Apa kakak masih dikantor Shean?" tanya Lira.


"ya, ada apa ra?" suara Key terdengar lelah.


"apa dia ada disana? apa ada masalah? kenapa kalian belum pulang?" Lira membanjiri Key dengan banyak pertanyaan.


Terdengar Key menghela nafas disebrang telepon sana.


"Shean ada disini bersamaku, kami mungkin akan pulang telat. Shean bilang kamu lebih baik tidur lebih dulu" kata Key.


"baiklah kalau begitu"


Tut


Sambungan diputus oleh Key. Lira masih belum yakin sepenuhnya kalau semua baik baik saja. Dari cara Key berbicara di telepon, pasti ada masalah yang sedang terjadi dikantor. Lira ingin tau tapi tidak mungkin menelepon Key lagi, itu bisa jadi menambah masalah mereka.


Akhirnya Lira memutuskan untuk tidur lebih dulu, sebenarnya kondisi tubuhnya sudah mulai pulih. Tapi dia juga butuh tidur untuk menjalani aktifitas esok hari.

__ADS_1


__ADS_2