
Hiks.....hiks.....
Tangisan didalam kamar mandi saksi bisu penyesalan seorang Rika. Dalam sekejap harta berharganya hilang karena ulahnya sendiri. Dia sendiri yang meminta bahkan memohon kepada pria yang sudah mengambil haknya.
"Tidak..... tidak.....!" Tangis Rika sembari membersihkan sekujur tubuhnya di aliran shower. Di sana banyak sekali bekas percintaan mereka yang terjadi begitu saja.
Ia masih ingat betul bagaimana mereka menghabiskan siang itu di atas ranjang. Dimana Putra mampu mengatasi penderitaan tubuhnya akibat obat perangsang.
Pria yang ia sebut dingin dan cuek terhadap wanita itu salah karena pria itu membuatnya puas. Ia seperti orang yang pengalaman saja dengan urusan ranjang.
Tapi ingatan masih jelas bahwa Putra mengatakan ini juga pertama kalinya, di cela-cela percintaan mereka.
Tidak ingin terpuruk lebih lama didalam kamar mandi Rika segera membersihkan tubuhnya, ia ingin pergi sebelum Putra bangun. Ya setelah mereka kelelahan, mereka tidur saling berpelukan seperti sepasang suami istri saja.
Rika segera menggunakan pakaiannya, lalu keluar kamar mandi dengan langkah pelan-pelan. Di ambang pintu ia mendapati Putra masih tertidur dengan tubuh polosnya. Bahkan seluruh tubuh itu sangat terlihat jelas, padahal sebelum ia masuk ke kamar mandi tubuh itu di bungkus selimut.
Dengan spontan Rika memalingkan pandangannya. Ia sangat malu melihat hal itu, bagian wajahnya memerah.
Rika pun segera keluar kamar. Ia ingin pergi karena merasa malu begitu besar. Ini bukan kesalahan Putra tapi dia sendiri yang melemparkan dirinya seperti tidak ubahnya wanita murahan.
Rika segera meninggalkan apartemen itu dengan perasaan sedih dan menyesal. Bagaimana jika Mami Maya mengetahui hal menjijikan ini. Rika memang tergolong wanita bebas di luaran sana tapi ia tahu betul dimana batas kewajaran. Bahkan Gia ikut memantau dengan cara diam-diam.
Di apartemen
Putra menggeliat, berusaha membuka mata. Tubuhnya begitu lelah, lelah yang paling ia rasakan.
Hmm
Pandangannya ke samping, rupanya Rika tidak berada di sana. Dengan spontan Putra bangun sembari memijit ujung dahinya.
"Dimna dia?" gumamnya.
Putra beranjak bangkit, seketika pandangannya jatuh pada bercak noda darah di atas seprei, kebetulan seprei itu warna putih hingga tampak begitu jelas.
Putra menghela nafas, ada rasa bangga didalam hatinya. Tapi itu hanya sesaat ketika ia mengingat bahwa ia sudah merusak wanita itu. Wanita yang menurutnya sombong dan acuh serta keras kepala.
Ssst
Putra mendesah, bagaimana semua ini bisa ia lakukan, sedangkan mereka sama sekali tidak memiliki hubungan spesial. Tapi berakhir di atas ranjang. Ia pun segera masuk kedalam kamar mandi karena tubuhnya sudah lengket bercampur dengan sisa-sisa percintaan mereka.
"Apa yang telah aku lakukan? bagaimana ini? aku harus menemui Rika!" Gumam Putra dibawah aliran shower. Ada rasa penyesalan karena kejadian tersebut. Nasi sudah menjadi bubur itulah makna yang pantas untuknya. Tidak ada gunanya lagi untuk menyesali, yang harus dilakukannya adalah bertanggungjawab.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Putra sudah kembali rapi, ia harus kembali ke kantor, walaupun sekarang sudah jam pulang. Karena kenikmatan itu ia tidak sadar dan melupakan pekerjaannya.
Tiba di kantor Putra mengecek kembali email yang masuk, menyelesaikan pekerjaan yang tanggung akibat tadi buru-biru menemui Rika yang berujung kedalaman percintaan.
"Aku harus menghubungi Rika," gumamnya sembari meraih ponsel. Kedua alisnya tertaut karena ponsel Rika tidak bisa dihubungi. "Ssst..... apa dia marah? aku harus mencari dia dimana? bahkan sampai sekarang ia belum tahu Rika kerja dimana.
***
Satu minggu kemudian
Di bandara soekarno-hatta
Pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat. Balin mengenggam erat tangan Gia, untuk pertama kalinya mereka nampak sebagai pasangan pengantin baru yang habis bulan madu.
Senyuman kebahagiaan tak bisa disembunyikan dari raut wajah keduanya. Balin maupun Gia sangat bahagia karena pada akhirnya mereka dapat dipertemukan kembali.
"Ayo sayang....." Balin membawa Gia keluar bandara karena supir pribadi keluarga Bahtiar sudah menunggu kedatangan mereka.
"Siapa yang jemput?" tanya Gia.
"Paman Doni, aku sudah memberitahukan sebelumnya. Nah itu Pak Doni," ujar Balin sembari memandang ke arah samping.
"Paman bagiamana kabar Paman Doni?" Gia membalas sapaan itu.
"Baik Bu," sahutnya. Lalu meraih koper mereka, membawanya masuk ke bagasi mobil.
Didalam mobil hanya ada keheningan. Balin sibuk mengecek email yang masuk karena baru hari ini ia mengaktifkan ponselnya selama mereka bukan madu karena tidak ingin ada yang menganggu. Sedangkan Gia terdiam, dengan pandangan ke luar jendela.
Balin menyadari ada yang tidak beres di wajah Gia, hingga ia menyimpan kembali ponsel tersebut. Lalu merengkuh tubuh itu untuk bersandar pada pundaknya.
"Sayang malu ah," bisik Gia karena ada Paman Doni.
"Paman juga paham sayang jadi santai saja. Harus terbiasa," goda Balin.
Huh
Gia kembali terdiam, seperti memikirkan sesuatu. "Ada apa?" tanya Balin karena raut sedih sangat terpancar dari raut wajah Gia.
"Apa Papi masih mau menerima ku? aku sadar dengan tindakan ku dahulu," lirih Gia dengan mata berkaca-kaca. Ia menyesali dengan apa yang sudah ia lakukan. Seharusnya ia lebih mendengar penjelasan sangat Papi, bukan pergi atau lari dari masalah.
Balin menggelengkan kepala. "Tidak, itu hanya perasaanmu saja. Malah sebaliknya Papi selalu menunggu kepulangan mu, bahkan pintu rumah terbuka lebar untuk menanti kepulangan mu. Percayalah karena apa yang aku katakan itu adalah benar. Papi sangat menyayangimu dan begitu sakit atas kepergian mu selama ini," papar Balin panjang lebar.
__ADS_1
Mendengar semua penjelasan suaminya, Gia merasa sedikit lega. Ia kembali memeluk lengan Balin, bahkan menaruhnya ke hidungnya untuk di cium.
Senyuman lebar mengembang di bibir Balin, semakin bahagia dengan apa yang Gia perbuat. Ia kecup pucuk kepala Gia. Katakanlah jika mereka melupakan Paman Doni yang malu sendiri di kemudi sana.
"Jadi teringat pada momen tersebut!" Batin Paman Doni, mengenang masa lalunya dengan sang istri sebagai sepasang pengantin baru.
20 menit kemudian mobil memasuki halaman rumah. Gia terdiam dengan pandangannya keseluruh halaman. Tidak ada yang berubah, semuanya sama sebelum ia meninggalkan rumah.
Balin membantu membukakan pintu mobil untuk Gia. "Ayo sayang," ajaknya sembari mengulurkan tangan. Gia menyambut tangan tersebut.
"Tidak ada yang berubah," gumam Gia masih dengan pandangan menjurus ke pot bunga dan tanaman lainnya.
"Iya sayang karena Papi tidak ingin ada yang berubah karena semua itu sesuai penataan mu. Lihatlah buktinya Papi begitu menyayangimu." Ya semua pot dan tanaman lainnya memang sesuai keinginan Gia. Malah jika ada waktu luang dia sendiri yang menyiram dan memberi pemupukan pada tanaman tersebut.
Dengan langkah gugup Gia membawa kakinya melangkah sejajar dengan Balin menuju rumah.
Gia menghela nafas panjang setelah kakinya menginjak ruang tamu.
"Nak Gia," seru Bibi tersentak kaget melihat sosok Gia yang tengah memeluk lengan Balin.
"Bibi, apa kabar Bibi?" Gia melepaskan tangan Balin klau beralih memeluk Bibi.
"Seperti yang kamu lihat Nak," sahut wanita paruh baya tersebut dengan mata berkaca-kaca karena selama ini kehilangan Gia.
"Bagus lah Bi," imbuhnya. Mereka pun menyudahi kerinduan selama satu tahun itu.
"Papi dimana Bi?" tanya Balin.
"Sepertinya di kamar," sahut Bibi.
Balin mengangguk dan memutuskan untuk ke kamar. Mereka berjalan dengan Gia kembali memeluk lengan Balin.
"Hmm kalian sudah datang?"
DEG
Bersambung....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi
__ADS_1